ICT dan Perubahan Sosial

PENDAHULUAN

Ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi dewasa ini semakin terasa. Banyak orang rela membayar mahal dan menempuh berbagai cara bahkan sampai mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan sebuah informasi. Informasi menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Seperti yang diungkapkan Hartono (1990) bahwa informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh organisasi sehingga jika suatu system kurang mendapatkan informasi maka akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya mati. Tidak mengherankan jika dewasa ini TI (Teknologi Informasi) berkembang demikian pesat. Berbagai hardware dan software telah tercipta dan tersedia dengan model dan harga sangat variatif untuk memenuhi
kebutuhan informasi yang lengkap, akurat, cepat, tepat, mudah dan murah yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tuntutan penguasaan dan penggunaan TI baik bagi individu maupun organisasi/perusahanan dewasa ini semakin nyata dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Ketatnya persaingan di pasar global sehingga kecepatan memperoleh informasi sangat menentukan dalam mengatur strategi bersaing.
2. Perubahan pasar yang demikian cepat menuntut penguasaan TI untuk mencermati dan mengantisipasinya.
3. Perkembangan IPTEKS mutakhir menuntut penggunaan dan pemanfaatan TI yang semakin optimal.
4. Tuntutan kemudahan akses untuk membangun relationship dalam pengembangan diri maupun orgnisasi.

5. TI telah menjadi trend kehidupan di era global.
Teknologi informasi sangat terkait dengan teknologi komputer dan telekomunikasi. Hal ini menjadikan TI seringkali disebut juga dengan ICT (Information dan Communication Technology).

DEFINISI ICT

ICT adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil, memindahkan, menganalisis, menyajikan, menyimpan dan menyampaikan data menjadi sebuah informasi. Pemahaman yang lebih umum istilah tersebut mengarah pada perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi/multimedia (dalam berbagai bentuknya), yang telah memiliki berbagai kemampuan sebagai pengolah data/informasi, alat kontrol, alat komunikasi, media pendidikan, hiburan dan lainya.

Dari definisi ICT dan teknologi
kunci dalam Domain TI jelas sekali bahwa teknologi informasi tidak bisa dilepaskan dengan teknologi komputer dan telekomunikasi.

PERKEMBANGAN ICT
Menurut Hendarlan (2003) perkembangan teknologi informasi ditinjau dari segi penggunaannya terdiri dari 4 tahapan sebagai berikut:
1. Era Komputerisasi
2. Era Teknologi Informasi
3. Era Sistem Informasi
4. Era Globalisasi Informasi
Ditemukannya perangkat sistem komputer bisa dikatakan merupakan cikal bakal kemajuan teknologi informasi. Komputer-komputer yang pada saat itu berukuran besar seiring kemajuan teknologi dikembangkan menjadi PC (Personal komputer) dan terus berkembang menjadi notebook dan terus diciptakan komputer yang semakin kecil bentuk fisiknya namun memiliki kemampuan besar dalam mengolah data. Perkembangan teknologi komputer sangat mempengaruhi perkembangan teknologi informasi selanjutnya. Dengan terbangunnya sistem jaringan komputer baik dengan kabel maupun nirkabel maka sistem informasi semakin berkembang apalagi didukung hadirnya teknologi internet yang semakin murah menjadikan globalisasi informasi tidak terbendung. Perkembangaun teknologi terus melaju untuk berevolusi maupun merevolusi teknologi sebelumnya.. Produk teknologi yang pada suatu masa dianggap canggih, seiring perjalanan waktu menjadi biasa, bahkan tertinggal ketika terjadi (lagi) revolusi teknologi. Perubahan zaman yang demikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti dperkembangannya dengan penguasaan teknologi ICT baik oleh individu maupun organisasi.

ICT DAN PERUBAHAN SOSIAL

Telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Kemajuan  teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global village”. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead” makin lama makin nyata kebenarannya. (Wardiana, W,2002). Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis, memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur, operasi, dan manajemen organisasi. Berkat teknologi ini, berbagai kemudahan dapat dirasakan oleh manusia (sumber:http://gibson140.tripod.com, http://library.gunadarma.ac.id).

Pemanfaatan ICT dewasa ini semakin tinggi dan meluas di masyarakat. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri. Mereka harus saling berinteraksi untuk saling bertukar informasi ataupun kebutuhan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Cara-cara komunikasi tradisional saat ini cenderung mulai ditinggalkan. Jika dulu pengiriman pesan hanya bisa melalui jasa pos (surat) sehingga memerlukan waktu berhari-hari untuk dapat dibaca. Namun sekarang telah ada teknologi SMS, e-mail dan chating yang hanya dalam hitungan detik telah dapat di baca oleh si penerima. Dalam pesan pun tidak hanya tulisan saja namun juga dapat dilengkapi dengan gambar dan suara.

Beberapa dekade yang lalu orang bepergian tanpa membawa telepon tidak akan risau namun saat ini jika bepergian handphone tertinggal akan kebingungan. Dalam penulisan alamat di kartu nama seringkali tidak hanya sekedar alamat rumah ataupun kantor namun juga seringkali disertai alamat email maupun website/homepage. ICT memperkaya gaya komunikasi antar individu maupun masyarakat. Pengembangan e goverment di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah hingga instansi/departemen diyakini pula mampu mendorong kemajuan daerah/departemen tertentu untuk meningkatkan pelayanan terhadap publik, menjalin relasi dengan para investor maupun kerjasama antar pemerintahan. ICT mendekatkan pemerentah terhadap rakyatnya, investor maupun antar pemerintahan. Di bidang ekonomi peran ICT sangat potensial dan strategis untuk proses pengambilan keputusan, memperluas pasar dan menciptakan keunggulan kompetitif dan pelayanan terhadap pelanggan maupun suplier. ICT mendorong dunia usaha mengembangkan e comerce dan e business. Lewat e comerce dan e busines untuk membeli produk kita tidak harus datang ke toko/retail cukup klik dan ketik account/rekening dan alamat maka barang pun bisa sampai ke tangan. Belanja di toko sekarang tidak perlu lagi membawa uang tunai terlalu banyak, cukup tinggal gesek kartu ATM/Kredit. Adanya ICT membawa cara bisnis maupun gaya belanja baru bagi masyarakat. Perkembangan ICT juga mendorong timbulnya bisnis baru seperti wartel, warnet, game-online, lowongan kerja dan lainnya.

Di bidang pendidikan, kemajuan teknologi ICT sangat membantu menyeimbangkan peran otak kiri dan otak kanan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran menjadi semakin interaktif karena ICT mampu menghasilkan bahan ajar yang up to date, metode yang menarik dan media yang relevan. Di lingkup pendidikan ICT juga mendorong terciptanya distance learning, e-book dan e library. Mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan akan dianggap ketinggalan atau gagap teknologi jika tidak mengenal, menggunakan ataupun memanfaatkan ICT dalam proses pembelajarannya. ICT juga sangat mempengaruhi perilaku ataupun gaya hidup di masyarakat. Seperti berkembangnya tren fashion di Milan maupun Paris dapat dengan cepat dilihat dari berbagai belahan dunia sehingga bisa cepat didikuti oleh setiap masyarakat dimanapun mereka berada.

Demikian pula berbagai peristiwa, kejadian, gaya hidup dan lainnya dari berbagai belahan dunia begitu mudah diakses oleh setiap orang. Berbagai informasi baik yang positif maupun negatif dapat diakses siapa saja kapan saja dan dimana saja. Hal ini yang dikhawatirkan banyak pihak terutama masyarakat timur karena jika tidak tersaring maka akan berakibat buruk dan lunturnya budaya-budaya lokal karena terpengaruh oleh budaya luar yang menyebar sangat cepat melalui ICT. O’Connor dan Galvin(1997) dalam (http://gibson140.tripod.com/IPTEK.htm) mengemukan beberapa alasan teknologi informasi di bidang pemasaran, antara lain:
1. Secara signifikan meningkatkan pilihan-pilihan yang tersedia bagi perusahaan dan memegang peranan penting dalam implementasi yang efektif terhadap setiap elemen strategi pemasaran.
2. Mempengaruhi proses pengembangan strategi pemasaran karean teknologi informasi memberikan lebih banyak informasi ke manajemer melalui pemakaian sistem pengambilan keputusan.
3. Teknologi informasi memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai bagian yang berbeda dalam organisasi dan menyediakan banyak informasi ke manajer.
4. Teknologi informasi juga mempengaruhi antar muka-muka organisasi dengan lingkungan.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi
untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani.
Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, eeducation, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika. (Wardiana, W, 2002).

PENUTUP
Dewasa ini ketergantungan masyarakat terhadap ICT semakin tinggi. ICT menembus batas ruang dan waktu sehingga membawa kehidupan ini semakin bersifat global. Perkembangan ICT membawa berbagai perubahan sosial baik gaya hidup, cara berbisnis, cara berkomunikasi dan lain sebagainya. Terlepas dari dampak negatif ICT, tidak bisa dipungkiri bahwa kita semakin tergantung pada teknologi ini. Optimalisasi pemanfaatan ICT di berbagai sektor kehidupan sangat urgen sekali. Namun perlu disadari ICT membawa banyak perubahan sosial dalam masyarakat sehingga kita harus lebih cerdas untuk menyaring informasi yang masuk.

REFERENSI
Abdullah, Ade Gafar (2004) Peranan Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia, Softcopy Kumpulan MakalahKonaspi V, Universitas Negeri Surabaya. Hartono; Jogiyanto, MBA, Ph.D (1990), Analisis dan Disain Sistem Informasi: pendekatan terstruktur teori dan praktek aplikasi bisnis, hal 7-8, Andi Offset, Jogyakarta Hendarlan, Aay, (2003), Perkembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dari Waktu ke Waktu, (http://www.purwakarta.go.id/tahu.php?beritaID=14)
http://gibson140.tripod.com/IPTEK.htm, Teknologi Komputer , diakses tanggal 21 September 2006
http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/9/jbptgunadarma-gdl-course-2005 timpengaja-420-gambaran-i.doc), Gambaran Umum Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi, diakses 21 september 2006.
Rasyid, Rafdian (2006), (Kerjasama Strategis Sistem VSAT dalam Teknologi Informasi
Perusahaan: Kasus INFOCO(http://satjournal.tcom.ohiou.edu/issue8/cur_rafdian2_indo.html )
Wardiana, Wawan, (2002) Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia,
http://www.informatika.lipi.go.id/perkembangan-teknologi-informasi-di-indonesia

Iklan

Antara Generasi Muda, Globalisasi, dan Peranan ICT

Bagi umat manusia, dimensi waktu telah berubah menuju suatu fase yang jelas amat kontradiksional. Fase baru ini kita sebut dengan terminologi globalisasi. Menurut Jenderal (Pur.) TNI Soemitro, globalisasi adalah konsep semu pengisi kevakuman. Setelah parang dingin berakhir seiring dengan runtuhnya hegemoni Blok Timur, dunia dilanda kevakuman konsepsi, strategi, dan kepemimpinan politik. Setelah melewati Perang Dunia I dan II, masyarakat internasional mendambakan perdamaian. Sebagai negara adidaya yang tersisa, Amerika Serikat (AS) mengubah strategi konfrontasi menjadi strategi rekonsiliasi. Selanjutnya, AS mengkampanyekan konsep globalisasi dengan tiga sasaran utama yaitu: perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal sebagai sasaran utamanya.
Proses yang melanda dunia ini membawa banyak konsekuensi. Melihat dari ketiga sasaran utama yang sejak awal dimaksudkan, seharusnya, globalisasi membawa dampak yang positif bagi seluruh umat manusia, namun, kenyataan yang ada bertolak belakang. Dulu, pada tahun 1800, 74% penduduk dunia terkategori miskin dan hanya menikmati 44% GDP dunia. Tapi, pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang terkategori miskin mencapai 80% dan hanya menikmati 20% GDP dunia. Sisanya, 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80% GDP dunia.
Di lain pihak, globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas (borderless world) dengan arus informasi supercepat (information superhighway) yang mengglobal. Globalisasi dunia memicu revolusi (bukan evolusi) di bidang ICT (Information and Communication Technology). Singkatnya, globalisasi akan membawa serta globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT. Globalisasi memaksa manusia untuk dapat beradapatasi dengan globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT yang berlangsung. Untuk beradaptasi dengan transfromasi yang supercepat ini, tiap bangsa dituntut untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Globalisasi akan berdampak negatif pada suatu nasion bila nasion itu tidak memiliki SDM yang berkualitas. Untuk yang terakhir ini, perlu diakui bahwa Indoneisa belum memilikinya, secara umum. Bila dilihat dari mutu hasil pendidikannya, Indonesia kalah jauh dengan negara-negara Asia lainnya. Majalah Hidup dalam tajuk rencananya pernah mengungkapkan bahwa pendidikan Indonesia tergolong kelas kambing. Jajak pendapat Kompas secara umum menyimpulkan bahwa kiprah generasi muda Indonesia belum memuaskan. Selain itu, ada banyak masalah yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Konsekuensinya, Indonesia akan berhadapan dengan banyak dampak negatif globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT.
Tulisan ini hendak merangsang seluruh bangsa Indonesia terutama para pemimpin dan policymakers industri ICT sebagai pihak yang memegang peranan penting dalam globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT. Secara khusus tulisan ini hendak melihat imbasnya terhadap generasi muda. Ini perlu ditekankan karena suatu nasion itu bak sebuah tim sepak bola yang mau tidak mau harus terus beregenerasi supaya tetap eksis. Apabila generasi muda Indonesia –yang notabene adalah tulang punggung bangsa– telah teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi, mau jadi apa nasion ini kelak?
Terlebih dahulu, tulisan ini akan memberikan pandangan bercorak reflektif sekaligus futuristik tentang dampak negatif yang mengancam generasi muda Indonesia, mengingat SDM kita belum dapat bersaing. Pandangan ini akan dibagi menjadi tiga segi, yaitu: sosial, ekonomi, budaya. Sebenarnya, ketiganya berhubungan erat, namun, demi lebih jelasnya akan diklasifikasikan dalam ketiga segi itu. Selanjutnya, adalah upaya memperbaiki keadaan dengan penekanan pada peran ICT.

Globalisasi Informasi dan Akselerasi Perkembangan ICT
Kita harus berangkat dari pemahaman bahwa manusia itu, pada dasarnya, mahluk sosial. Menurut teori ekstensialisme, manusia “ada” berarti “ada bersama” . Kata “aku “ justru mengandaikan adanya orang lain. Komunikasi alias communication itu berawal dari communion alias kesatuan, maksudnya adalah bentuk “ada bersama” dari manusia. Jadi, komunikasi itu intermedium antar pribadi. Bertitik pangkal pada komunikasi itulah, manusia dapat semakin memanusiakan dirinya; manusia menjadi semakin berbudaya.
Sekali lagi diungkapkan bahwa globalisasi yang melanda dunia ini membawa pada borderless world dengan ditandai information superhighway. Perkembangan ICT menjadi amat cepat. Dalam beberapa dasawarsa teknologi informasi dan telekomunikasi terus diup-grade secara revolutif; mulai dari PC tanpa hardisk hingga PC lengkap dengan multimedia; mulai dari telepon dengan kabel, ponsel, hingga teknologi iridium. Kalau dahulu orang berhubungan lewat telepon, telegraf, atau surat biasa, kini semuanya bisa diatasi dengan internet. Kini para sepakbola mania tidak perlu pergi ke Eropa untuk mengikuti perebutan piala Champion. Mereka dapat mengikuti piala Champion melalui TV. Dunia yang dulu tampak luas, kini terlihat amat sempit.

Dampak di Bidang Sosial
Globalisasi yang disertai dengan globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu. Dari situ, akan terformat masyarakat kompetitif, artinya, persaingan antar individu akan memuncak. Di satu sisi, persaingan yang ketat semacam ini akan meningkatkan kinerja dan produktifitas manusia. Mereka yang mampu bersaing akan menduduki posisi atas dalam stratum sosial. Namun, dengan bermodal dari kenyataan bahwa sumber daya manusia muda Indonesia belum cukup baik, resikonya, SDM kita malah menjadi masyarakat frustasi. Hasilnya, adalah bentuk-bentuk kekerasan seperti tawuran, “lukisan” di badan bus dan dinding-dinding.
Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan memperluas wawasan dan relasi kaum muda dengan adanya sarana-sarana yang memungkinkan mereka memperoleh informasi atau berelasi dengan lebih efisien dan berjangkauan luas. Namun, di sisi lain, TV, internet, majalah, koran, VCD, handphone, dsb. yang terus di-up grade itu akan mengantarkan generasi muda dalam mode baru relasi manusia yaitu: virtual relation. Dalam relasi ini, generasi muda berhubungan dengan orang atau gambaran yang secara fisik belum pernah bertemu, atau bahkan mustahil. Yang perlu ditekankan adalah dengan melihat kenyataan saat ini, virtual relation itu akan melemahkan proses sosialiasi generasi muda dalam masyarakat. Dengan adanya sarana dan fasilitas yang begitu canggih, tidak akan ada dorongan untuk secara langsung terjun ke masyarakat; kemampuan interaksi akan menurun. Buktinya, bentuk-bentuk gotong royong dalam masyarakat kita, terutama generasi muda, menurun jauh bila dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Rasanya, ungkapan mangan ora mangan kumpul yang menggambarkan begitu eratnya kebersamaan dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia sudah tidak relevan lagi.

Dampak di Bidang Ekonomi
Dampak di bidang ekonomi akan tampak jelas. Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan membawa angin segar bagi konsumerisme untuk tumbuh subur dalam diri generasi muda Indonesia. Tingkat konsumsi akan meningkat dan produktifitas menurun. Di lain pihak, pasar bebas yang menjadi salah satu perwujudan globalisasi akan menuntut manusiua yang kreatif; mampu berkreasi; singkatnya, manusia produktif. Di sinilah terjadi tension, generasi muda Indoneisa menjadi semakin tidak mampu memenuhi tuntutan jaman karena sudah teracuni konsumerisme sehingga hanya ahli dalam menkonsumsi. Buktinya, persentasi penemu dan peneliti di Indonesia amat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selanjutnya apabila produktifitas dari generasi muda –yang sebenarnya amat diharapkan dapat memulihkan keadaan ekonomi negara– menurun, negara kesatuan ini akan semakin terpuruk dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

Dampak di Bidang Budaya
Segi budaya adalah segi yang paling rentan terkena dampak negatifnya. Pada sub-bab sebelumnya diungkapkan mengenai virtual relation. Selain berdampak pada bidang sosial, dampak negatifnya juga mengimbas bidang budaya. Bentuk-bentuk sarana dan fasilitas informasi semacam itu akan mempengaruhi pola berindak dan berpikir generasi muda. Contoh yang memperihatinkan adalah masalah budaya membaca; tampaknya generasi muda sekarang sudah terhipnotis dengan layar kaca segi empat sehingga menomorduakan membaca. Kekerasan yang ada terbias dari TV juga akan terhisap oleh pikiran. Ada banyak orangtua yang menyayangkan anaknya menjadi nakal akibat nonton TV.
Pada sub-bab sebelumnya juga telah dipaparkan mengenai konsumerisme. Sikap konsumeris itu pada akhirnya akan mencapai titik jenuh dalam bentuk quasi religion . Hal-hal duniawi yang semu dan tidak kekal justru dicari dan dinomorsatukan. Sementara itu, justru yang merupakan agama murni ditinggalkan. Materi didewakan, ini akan membuat manusia-manusia yang rakus; homo homini lupus. Ini sering diungkapkan dengan terminologi hedonisme.
Keadaan yang ada di lingkungan generasi muda sekarang ini akan membawa pada pada homogenitas budaya pop. Gejala ini akan menyeragamkan selera dan simbol, sekaligus juga melarutkan sebaga batas identitas dalam keseragaman yang dangkal dan pragmentaris. Dan corak keseragaman akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat , itu artinya negara-negara industri. Akibatnya timbul transformasi budaya yang bercorak revolutif. Pada titik ini, generasi muda akan mengalami alienasi budaya. Alienasi dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu persaan terpisah, terpecah dalam arti yang lebih dalam. Jadi, generasi muda Indonesia akan mengalami keterasingan dengan budayanya sendiri. Mereka akan mengalami krisis idenditas yang intensif karena pergeseran budaya yang amat cepat dan tidak disadarinya itu.

Mengharap Peran Pihak Industri ICT
Lewat perjalanan ide ini, dapat ditangkap dengan jelas bahwa ICT mempunyai peran dan pengaruh yang besar dalam fase ini. Dengan bertitik tolak dari pemahaman ini, muncul harapan peranan industri-industri ICT untuk memutarbalikkan keadaan dengan menghalau dampak negatif akselerasi arus informasi dan perkembangan ICT ini. Harapannya, justru dengan adanya keadaan dimana arus informasi sedemikian mengglobal dan perkembangan ICT yang begitu cepat, generasi muda Indonesia justru mendapatkan buahnya.
Yang jelas restrukturisasi ICT itu diperlukan. Hal paling mendasar yang sejak pertama harus diperhatikan adalah mengenai visi dan misi ICT. Selama ini, terkesan bahwa ICT hanya mengharap supply tenaga kerja dari sektor pendidikan. Karena ini, pendidikan Indonesia jatuh dalam corak pendidikan yang pragmatis. Ini membuktikan masih kecilnya kepedulian industri ICT terhadap generasi muda. Industri ICT perlu peduli terhadap generasi muda; mengingat mau tidak mau, tenaga kerja yang akan dipakai industri ICT berasal dari generasi muda. Kepedulian itu diwujudkan dengan mengikutsertakan program yang berkenaan dengan peningkatan kualitas SDM generasi muda Indonesia dalam visi dan misinya. Ini diperlukan mengingat keadaan generasi muda Indonesia yang belum mepunyai SDM yang berkualitas benar. Realitas era ini menuntut orang untuk tidak hanya melek huruf melainkan juga melek teknologi. Setelah visi dan misi diperbaharui, yang perlu dilakukan adalah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Ini dapat diwujudkan lewat program beasiswa bagi pelajar yang berpotensi atau mengadakan program-program pelatihan, kursus, seminar. Karenanya diharapkan ICT dapat menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di sektor pendidikan formal maupun informal. Dalam mengusahakan ini, perlu diarahkan format pribadi yang hendak dibentuk. Memang globalisasi informasi dan akselerasi perkembangan ICT akan memicu masyarakat kompetitif. Namun, janganlah nantinya program pendidikan dan pelatihan itu membentuk pribadi individualistik. Yang harus dibentuk adalah pribadi yang unggul-partisipatoris.
Dalam menghadapi globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT, yang perlu dilakukan justru memanfaatkan sarana yang ada. Tepatlah jika kita mencontoh peran pihak ICT di Jepang. Pihak ICT Jepang melakukan sosialisasi sains dan teknologi kepada masyarakat Jepang melalui TV. Bagi mereka, pengembangan iptek mutlak, dan karenanya, sosialisasi amat diperlukan. Stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah. Seseorang juga dapat belajar autodidak dengan menonton TV pendidikan Jepang karena memberikan pelajaran berbagai macam bahasa dan juga menyiarkan kuliah-kuliah dari profesor-profesor terkenal. Atau meniru Filipina yang menggunakan sarana radio untuk mensosialisasikan hasil-hasil penelitiannya. Cara-cara ini berhasil di kalangan generasi muda karena yang digunakan bukanya pendekatan indoktrinatif normatif melainkan pendekatan persuasif.
Yang perlu ditekankan juga adalah pengembangan potensi-potensi SDM generasi muda berdasarkan kebudayaan riil dalam masyarakat. Ingat bahwa bangsa Indonesia punya karakteristik yang berbeda dengan bangsa Barat dan itu juga berarti bangsa Indonesia memiliki kelebihan tersendiri. Jadi dalam usaha berkompetisi, kita tidak perlu mati-matian mengejar ketertinggalan dengan mengikuti teknologi bangsa Barat. Sebaliknya, industri ICT harus menjadi bentuk industri yang nasionalis. Contoh mudahnya adalah dengan menggunakan nama-nama Indonesia. Dengan bertindak seperti itu, industri ICT akan sekaligus menjadi kebanggaan bangsa dan penopang nasionalisme bangsa. Ini amat diperlukan karena nasionalisme generasi muda Indonesia sekarang ini memudar.
Akhirulkalam, penulis hanya akan menguatkan bahwa globalisasi yang membawa serta globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT memang sedang terjadi. Sayangnya, karena generasi muda Indonesia belum dapat bersaing dengan yang lain, mereka justru akan terjangkiti dampak negatifnya. Maka, peran industri ICT amat diperlukan. Sebagai sesama bangsa Indonesia, kita harus bersatu padu menghalau badai ini, supaya pada akhrinya, bahtera negara kesatuan ini tidak hancur. “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country?”

Referensi:
——–, ————, Kompas, 14 April 1997, hal. 12
Berhani, Ahmad Najib, “Quasi-Religions,” Gerakan Protes atas Modernisme, Kompas, 26 September 1997
Driyarkara, Prof. Dr., SJ, 1993, “Pendidikan menurut Driyarkara”, Kanisius, Yogyakarta
Helianti, Is, Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang, Kompas, 16 September 2001
Jemadu, Aleksius, “Globalisasi: Antara Tantangan dan Peluang”, Kompas, 12 Desember 2000, hal 4-5
Kartodirdjo, Sartono, 1999, imensi Pembangunan Bangsa, Kanisius, Yogyakarta
LITBANG, Jajak Pendapat “Kompas”: Generasi Muda, Patutkah Dibanggakan?, Kompas, 29 Oktober 2001
Soemitro, Jend. TNI (Pur), “Tantangan dan Peluang Wawasan Kebangsaan”. Pendidikan Wawasan Kebangsaan, Grasindo, Jakarta, 1994, hal. 23-28
Suseno, Frans Magnis, “Orang Muda Kita Dapat Mengharapkan Apa?”, Kompas, 28 Oktober 1996
Suharto, A. Sandiwan, Pendidikan Indonesia Kelas Kambing, Hidup, 16 September 2001
Tilaar, H.A.R., 1999, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, Indonesia Terra, Magelang

1-2 Tahun Lagi Harga Bandwidth Turun Signifikan

Masalah keterbatasan bandwidth dan tidak adanya kompetisi menjadi hambatan untuk menurunkan harga bandwitdth saat ini. Hal ini terkait dengan harga bandwidth di Indonesia yang tergolong masih mahal.

Menurut Menteri Komunikas dan Informasi Sofyan Djalil, masalah insfrastruktur saat ini tidak perlu dikhwatirkan. “Dalam 1 hingga 2 tahun mendatang, harga bandwidth turun signifikan, ” ujar Sofyan dalam ajang Bubu Awards v.05.

Sementara itu, izin bandwidth internasional pun akan diberikan agar lebih banyak lagi yang bisa ikut berkompetensi. Apalagi saat ini kebijakan menentukan harga sewa bandwidth oleh perusahaan telah dibuat.

Pendapat senada diungkapkan oleh staf khusus Menkominfo, Alexander Rusli. Menurut Alex, Indonesia tidak mempunyai beragam pilihan untuk penyedia layanan internet. Alex menjelaskan, komponen internasional itu masih mahal.”Karena memang tidak ada alternatif, jadi pilihan itu tidak banyak, ” ujar Alex. Menurutnya, yang paling murah per unit cost adalah dengan menggunakan fiber optic.

Dengan masuknya pemain baru, dalam 1 sampai 2 tahun kedepan penurunan harga bandwidth di Indonesia dapat mencapai 40 persen. Selain itu, diharapkan juga pada 2 hingga 3 tahun mendatang insfrastruktur ICT diharapkan bisa lebih baik.

Skenario Membangun ISP Daerah

MASALAH mendasar yang dihadapi di daerah adalah keterbatasan infrastruktur, terutama akses internet yang memadai. Ada akses Telkomnet Instan di sekitar 240 kota namun tentu saja ini tidak layak untuk akses massal. Produk ini diposisikan bagi akses personal sehingga kapasitasnya sangat terbatas.

Sedangkan yang dibutuhkan warnet, pemda, dan lembaga pendidikan biasanya adalah akses massal yang memerlukan kapasitas besar. Kalaupun ada koneksi 24 jam dedicated di daerah, umumnya juga terbatas kapasitasnya. Sehingga sering kali tidak mencukupi kebutuhan serta mahal.

Kendala penetrasi internet daerah adalah infrastruktur. Telkomnet ada di semua kota namun tidak memadai untuk akses massal. Sifat layanannya on demand, non-dedicated, kapasitas terbatas, serta time based cost yang menyebabkan akses internet kurang ekonomis.

Fasilitas penting seperti IP Address publik untuk layanan in-house server tidak tersedia. Warnet, pemda, dan pendidikan memerlukan akses dedicated dengan fitur lengkap. Di luar Pulau Jawa, akses seperti ini menjadi mahal dan reliabilitasnya rendah.

Solusi yang Tersedia

Koneksi dedicated dari ISP lokal yang terbatas kapasitasnya (melalui Leased Channel, Frame Relay, maupun Wireless LAN), dapat dikombinasi dengan akses internet satu arah via satelit menggunakan teknologi DVB (Digital Video Broadcasting). Solusi ini mereduksi biaya akses internet di daerah dan meningkatkan kapasitas.

Solusi ini membutuhkan peralatan sepasang modem baseband (bekas) seharga Rp 6 juta, Router Cisco 2500 series (bekas) seharga Rp 4 juta, registrasi dan instalasi seharga Rp 2 juta. Biaya investasi mencapai Rp 12 juta. Pilihan lain adalah Wireless LAN point-to-point seharga 900 dollar AS, tower triangle setinggi 32 meter seharga Rp 10 juta. Total investasi mencapai sekitar Rp 18 juta.

Kombinasi ini menghasilkan efisiensi akses karena jalur internasional dan IIX (Indonesia Internet Exchange) dipisah. Bila hanya menggunakan sambungan ke ISP (Internet Service Provider) lokal, saluran itu digunakan untuk upstream/downstream IIX serta upstream/downstream internasional.

Dengan kombinasi downstream DVB, maka efisiensi sambungan ke IIX meningkat dengan alur upstream/downstream IIX, upstream ke internasional, dan downstream internasional sepenuhnya dari DVB.

Karakteristik utilisasi internet Indonesia untuk download dari internasional menunjukkan kalau kebutuhan kapasitas internasional selalu 4 kali lebih banyak dari IIX. Misalnya, downstream internasional DVB 512 kbps, membutuhkan upstream 128 kbps dari ISP lokal sekaligus IIX. Maksimalisasi IIX/lokal, misalnya untuk online games, sementara internasional tidak terganggu.

Sedangkan biaya investasi perangkat DVB One Way terdiri dari antena parabola mesh (Rp 2,5 juta), Low Noise Blocker (LNB) seharga Rp 250.000, komputer refurbish (Router DVB) seharga 2 juta, DVB Card PCI seharga 250 dollar AS. Dengan kapasitas 3 Mbps total investasi yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 7 juta.

Solusi Daerah

Apabila tidak tersedia akses upstream dedicated dari ISP lokal, maka solusi satu-satunya adalah akses VSAT Two Way. Tentu saja biaya investasi cukup mahal. Solusi paling ekonomis adalah DVB RCS Linkstar. Investasi peralatan VSAT paling rendah mencapai 7.000 dollar AS. Biaya bulanannya 128 kbps upstream dan 512 kbps downstream adalah 1.920 dollar AS.

Namun perlu dicatat, akses DVB RCS ini adalah burstable atau sharing kapasitas dengan pengguna DVB RCS lainnya. Sehingga idealnya perhitungan kapasitas yang bisa diandalkan adalah sekitar 1/2 dari 128/512 kbps tersebut pada saat peak (puncak). Meskipun demikian, Linkstar DVB RCS tetap merupakan pilihan paling rasional untuk daerah yang tidak tersedia infrastruktur akses upstream dedicated sama sekali.

Pilihan lainnya menggunakan teknologi SCPC (Single Carrier Per Channel) DVB upstream/downstream. Harga perangkat lebih mahal (mencapai 20.000 dollar AS) dibanding DVB RCS. Belum lagi biaya bulanannya. Namun, kualitas koneksinya terbaik karena memang ditujukan untuk penggunaan lingkungan perusahaan.

Ada juga SCPC Two Way. Ciri dari penggunaan teknologi ini adalah SCPC upstream/downstream, kanal transponder satelit dedicated, tidak sharing dengan pengguna lain. Remote dan hub dihubungkan modem point-to-point. Perangkatnya mahal (mencapai 30.000 dollar AS) dan biaya bulanan premium. Kualitasnya terbaik, mampu menangani kapasitas asimetrik.

Asumsi Biaya

Keputusan Menteri Perhubungan No 5 Tahun 2005 membebaskan penggunaan frekuensi 2,4 GHz untuk digunakan sebagai infrastruktur internet last mile untuk kepentingan umum. Cakupan teknologi 2,4 GHz ini mencapai radius 4-6 km untuk satu BTS (Base Transmission System). Kebutuhan teknologi ini antara lain, satu Access Point seharga 750 dollar AS yang bisa melayani 16-32 buat outstation, satu Omnidirectional Antenna 15 dbi seharga 350 dollar AS, sebuah tower triangle 32 meter seharga Rp 10 juta. Total investasi bisa mencapai Rp 20 juta untuk penggunaan teknologi ini. Sedangkan untuk CPE (Client Premise Equipment) setiap titik outstation harganya bisa mencapai 500 dollar AS.

Sedangkan untuk keperluan investasi kantor dan Network Operation Center (NOC), rinciannya adalah sebagai berikut, PC Server seharga Rp 20 juta, KVM Switch, UPS Server/WLAN seharg Rp 5 juta, Manageable Switch 16/24 port seharg Rp 5 juta, Office Switch dan Workshop Switch seharga Rp 4 juta, stabilizer, grounding, dan surge protector (mencapai Rp 5 juta), Office Desktop dan Workshop seharga Rp 21 juta, Network, WLAN dan Working Tool Kit seharga Rp 5 juta, dua buah AC dan furnitur seharga Rp 10 juta. Total investasi Rp 75 juta.

Biaya produksi dan harga jual layanan kalau diasumsikan kapasitas 128 kbps upstream ke ISP lokal, sekitar Rp 12 juta per bulan. Asumsi kapasitas downstream DVB 512 kbps, sekitar 1.270 dollar AS (Rp 12 juta) per bulan. Biaya registrasi dan deposit untuk 512 kbps downstream, sekitar 900 dollar AS (satu kali). Total biaya akses sekitar Rp 24 juta per bulan.

Untuk biaya operasional dirinci sebagai Manajer (sekitar Rp 2 juta per bulan), Administrasi sekitar Rp 1 juta per bulan, Network Administrator sekitar Rp 1 juta per bulan, dua orang teknisi lapangan sekitar Rp 1,5 juta per bulan, 1 orang Marketing sekitar Rp 1 juta per bulan, listrik, ATK, telepon, dan lain-lain sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Total operasional Rp 8 juta per bulan.

Maka total biaya produksi sebuah ISP di daerah adalah sekitar Rp 32 juta per bulan dengan kapasitas terpasang 128 kbps upstream dan 512 kbps downstream.

Proyeksi dari klien warnet, diasumsikan kapasitas 128/512 kbps bisa untuk 128 workstation, kualitas setara dial up (4 kbps). Dapat dibagi ke 8 warnet masing-masing dengan akses 64 kbps/16 unit atau 16 warnet masing-masing 32 kbps/8 unit. Tarif bulanan ISP Rp 3 juta (32 kbps) dan RP 5 juta (64 kbps). Proyeksi pendapatan, 8 warnet x Rp 5 juta = Rp 40 juta atau 16 warnet x Rp 3 juta = Rp 48 juta. Tingkat laba kotor (gross, sebelum pajak dan pengembalian investasi) sekitar Rp 8-16 juta.

Personal dan RT/RW Net

Para ISP melakukan rasio akses berdasar idle capacity antarpelanggan. Karakteristik personal adalah on demand, tidak bersamaan dan tidak kontinu. Sehingga bisa dilakukan sharing ratio, idle time/capacity bisa digunakan klien lain.

Idle capacity bisa mencapai 16-32/64-128 kbps. Dialokasikan untuk 8-16 personal. Dilayani menggunakan kabel Ethernet di sekitar lokasi BTS atau akses WLAN. Untuk short range menggunakan antena kaleng homemade, sehingga menekan biaya CPE hingga 200 dollar AS.

Tarif flat akses personal Rp 300.000. Potensi pendapatan 8 x Rp 300.000 = Rp 2,4 juta atau 16 x Rp 300.000 = Rp 4,8 juta. Pelanggan mendapat kualitas setara dial up 24 jam sehari 7 hari seminggu (24/7). Profil pelanggan adalah yang terbiasa dial up di atas 30 jam per bulan dan mampu membeli CPE.

Potensi sejenis personal adalah SOHO (Small Office Home Office). Karakteristik SOHO, peak pada jam kerja, sebaliknya personal peak setelah jam kerja. Potensi rasio time sharing antara SOHO dan personal memungkinkan tambahan pendapatan ISP.

ISP Pendidikan

Apabila penyelenggara ISP di daerah ini untuk kepentingan pendidikan/sekolah/kampus, maka asumsi penyelenggara akses tidak mengambil keuntungan, maka setiap sekolah akan menanggung iuran akses internet sebesar Rp 24 juta untuk 16 sekolah atau sama dengan Rp 1,5 juta per bulan.

Akses tersebut bisa dipergunakan untuk 16 sekolah sekaligus. Dengan asumsi penggunaan akses yang tidak excessive, maka tiap sekolah bisa menambah jumlah komputernya dari standar 8 unit PC menjadi 10-12 komputer. Tentu ada pengorbanan kualitas, namun tidak signifikan. Namun harus dilakukan pengaturan melalui proxy (cache engine) dan traffic limiter (QoS) di sisi penyelenggara (Network Operation Center) ISP pendidikan.

Untuk membantu biaya operasional dan maintenance, selain mendapatkan subsidi dari anggaran oleh lembaga pendidikan, jaringan ini bisa dikombinasikan dengan layanan komersial. Kapasitas yang ada juga didistribusikan untuk melayani warnet/SOHO/RT/RW Net di sekitar lokasi.

Kenyataan sangat sulit melakukan perhitungan ekonomi yang sustainable apabila suatu ISP beroperasi berbasis pasar dari dunia pendidikan saja. Tak dapat dihindari apabila ISP pendidikan juga harus punya orientasi komersial demi kelangsungan hidupnya sendiri. Hasil yang diperoleh bisa digunakan sebagai modal pengembangan, karena ISP pendidikan umumnya sulit mendapatkan komitmen investasi ulang.

Dengan mengurangi keuntungan kotor dan operasional maksimal Rp 32 juta per bulan, diperlukan sekitar 50 persen komposisi alokasi kapasitas untuk layanan komersial. Dengan rasio berorientasi kuantitas, dapat dipenuhi standar harga yang dikehendaki pasar pendidikan sekitar Rp 1,5 juta. Angka tersebut adalah maksimal, dalam arti tidak dapat lebih rendah lagi dan jumlah maksimum institusi yang dilayani adalah 16-32 institusi dengan penambahan BTS.

Kendala ISP Daerah

Masalah utamanya regulasi. Skenario di atas, melanggar banyak aturan pemerintah. Mulai ketentuan badan hukum penyelenggara jasa internet, legalitas landing right karena mengambil langsung bandwidth internasional, hingga masalah sertifikasi peralatan dan proses perizinan yang terpusat di Jakarta serta etika dan aturan main dalam lingkungan industri internet nasional sendiri.

Bagi ISP mini, pendidikan, RT/RW Net dan warnet di daerah menjalankan skenario ini. Mereka ujung tombak penetrasi dan literasi internet nasional. Perlu langkah deregulasi agresif untuk memutihkan praktik ini. Sangat penting karena internet adalah akselerator pertumbuhan ekonomi dan diseminasi pengetahuan kepada rakyat.

Sumber : http://www.oke.or.id

Instalasi web server berbasis apache 2 + php 4 di linux

Bagaimana caranya mengisntal kedua fasilitas tersebut di linux, berikut ini adalah langkah-langkahnya:

semua source di asumsikan ada di /usr/local/src, tapi bila anda tidak punya source nya tidak perlu kuwatir kerena source dapat di download pada di alamat website dibawah ini :

*http://www.apache.org/dist/httpd/httpd-2.0.49.tar.gz
*http://www.php.net/get/php-4.3.5.tar.gz/from/a/mirror
*http://www.gnu.org/software/libiconv/

Untuk melakukan instalasi httpd-2 dan php-4 saudara harus mempunyai source nya terlebih dahulu, lalu letakkan source tersebut ke /usr/local/src, langkah per bagian adalah sebagai berikut :

Langkah Ke 1 : compile httpd

cd /usr/local/src
tar -zxvf httpd-2.0.49.tar.gz
cd httpd-2.0.49
./configure
–prefix=/usr/local/apache2
–enable-so
–enable-auth-digest
make
make install

Langkah Ke 2 : iconv

tar -zxvf libiconv-1.9.1.tar.gz
cd ../libiconv-1.9.1
./configure –prefix=/usr/local
make
make install

Langkah Ke 3 : PHP 4 (as Apache 2 server module!)

tar -zxvf php-4.3.5.tar.gz
cd ../php-4.3.5
./configure
–with-apxs2=/usr/local/apache2/bin/apxs
–with-mysql
–with-iconv=/usr/local
–enable-track-vars
–with-gettext
–with-config-file-path=/usr/local/apache2/conf
–enable-trans-id
make
make install
cp php.ini-dist /usr/local/apache2/conf/php.ini

setelah langkah-langkah diatas di jalankan, langkah selanjutnya adalah konfigurasi /usr/local/apache2/conf/httpd.conf, agar PHP kita dapat jalan maka kita tambahkan script di file httpd.conf seperti dibawah ini :

LoadModule php4_module modules/libphp4.so
DirectoryIndex index.html index.htm index.php
AddType application/x-httpd-php .php .php3 .phtml
AddType application/x-httpd-php-source .phps

Sampai sejauh ini saudara telah berhasil meng install apache2 dengan dukungan PHP, Bagaimana…? tidak terlalu sulitkan meng-install apache2 dengan dukungan PHP di linux. Untuk mengetes apakah PHP kita udah jalan apa belum kita dapat membuat file dengan nama index.php yang kemudian diletakkan di Document.root
Selamat Mencoba !!

Konsep dasar TCP/IP

TCP/IP merupakan dasar dari segalanya, tanpa mempelajari TCP/PI kemungkinan kita tidak dapat melakah maju di dunia pehackingan. Dengan kata lain, TCP/IP merupakan awal dari segalanya. Banyak orang yg menyepelekan pentingnya mempelajari TCP/IP, mereka mengaku dirinya “hacker” tetapi tidak mengerti sama sekali apa itu TCP/IP. Merasa hacker hanya apabila bisa mencrash ataupun menjebol server, tetapi sebetulnya bukan itulah maksud dari segala itu. Hacker itu adalah orang yg haus akan pengetahuan, bukan haus akan penghancuran. Untuk menjadi hacker dibutuhkan kerja keras, semangat, motivasi yg tinggi serta pemahaman seluk-beluk internet itu sendiri, tanpa hal-hal tersebut mustahil anda dapat menjadi seorang hacker yang tangguh. Tulisan ini didedikasikan terutama untuk member Kecoak Elektronik dan siapa saja yang ingin mempelajari TCP/IP, bukan untuk mereka yang hanya ingin mencari jalan pintas menjadi hacker sejati. Bagi anda yg memang udah profhacking mungkin tulisan ini tidak penting, karena memang tulisan ini hanyalah pengantar belaka dan bukan merupakan referensi yg sempurna (dan jauh dari sempurna) oleh karenanya hanya dikhususkan bagi mereka yg pendatang baru (newbies).

1. Apa itu TCP/IP ?——————-TCP/IP adalah salah satu jenis protokol* yg memungkinkan kumpulan komputer untuk berkomunikasi dan bertukar data didalam suatu  network (jaringan). ************************************************************************ Merupakan himpunan aturan yg memungkinkan komputer untuk  berhubungan antara satu dengan yg lain, biasanya berupa bentuk / waktu / barisan / pemeriksaan error saat transmisi data.***********************************************************************2. Apa yg membuat TCP/IP menjadi penting ?——————————————Karena TCP/IP merupakan protokol yg telah diterapkan pada hampir semua perangkat keras dan sistem operasi. Tidak ada rangkaian protokol lain yg tersedia pada semua sistem berikut ini :

a. Novel Netware.b. Mainframe IBM.c. Sistem digital VMS.d. Server Microsoft Windows NTe. Workstation UNIX, LinuX, FreeBSDf. Personal komputer DOS. 3. Bagaimana awalnya keberadaan TCP/IP ?—————————————-Konsep TCP/IP berawal dari kebutuhan DoD (Departement of Defense) AS akan suatu komunikasi di antara berbagai variasi komputer yg telah ada. Komputer-komputer DoD ini seringkali harus berhubungan antara satu organisasi peneliti dg organisasi peneliti lainnya, dan harus tetap berhubungan sehingga pertahanan negara tetap berjalan selama terjadi bencana, seperti ledakan nuklir. Oleh karenanya pada tahun 1969 dimulailah penelitian terhadap serangkaian protokol TCP/IP. Di antara tujuan-tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Terciptanya protokol-protokol umum, DoD memerlukan suatu protokol yg dapat ditentukan untuk semua jaringan.2. Meningkatkan efisiensi komunikasi data.3. Dapat dipadukan dengan teknologi WAN (Wide Area Network) yg telah ada.4. Mudah dikonfigurasikan. Tahun 1968 DoD ARPAnet (Advanced Reseach Project Agency) memulai penelitian yg kemudian menjadi cikal bakal packet switching . Packet switching  inilah yg memungkinkan komunikasi antara lapisan network (dibahas nanti) dimana data  dijalankan dan disalurkan melalui jaringan dalam bentuk unit-unit kecil yg disebut packet*. Tiap-tiap packet ini membawa informasi alamatnya masing-masing yg ditangani dengan khusus oleh jaringan tersebut dan tidak tergantung dengan paket-paket lain.Jaringan yg dikembangkan ini, yg menggunakan ARPAnet sebagai tulang punggungnya, menjadi terkenal sebagai internet.

Protokol-protokol TCP/IP dikembangkan lebih lanjut pada awal 1980 dan menjadi protokol-protokol standar untuk ARPAnet pada tahun 1983. Protokol-protokol ini mengalami peningkatan popularitas di komunitas pemakai ketika TCP/IP digabungkan menjadi versi 4.2 dari BSD (Berkeley Standard Distribution) UNIX. Versi ini digunakan secara luas pada institusi penelitian dan pendidikan dan digunakan sebagai dasar dari beberapa penerapan UNIX komersial, termasuk SunOS dari Sun dan Ultrix dari Digital. Karena BSD UNIX mendirikan hubungan antara TCP/IP dan sistem operasi UNIX, banyak implementasi UNIX sekarang menggabungkan TCP/IP. ************************************************************************ unit informasi yg mana jaringan berkomunikasi. Tiap-tiap paket berisi identitas (header) station pengirim dan penerima, informasi error- control, permintaan suatu layanan dalam lapisan network, informasi bagaimana menangani permintaan dan sembarang data penting yg harus ditransfer.************************************************************************

4. Layanan apa saja yg diberikan oleh TCP/IP ?———————————————-Berikut ini adalah layanan “tradisional” yg dilakukan TCP/IP : a. Pengiriman file (file transfer). File Transfer Protokol (FTP) memungkinkan  pengguna komputer  yg satu untuk dapat mengirim ataupun menerima file ke komputer jaringan. Karena masalah keamanan data, maka FTP seringkali memerlukan nama pengguna (user name) dan password, meskipun banyak juga FTP yg dapat diakses melalui anonymous, alias tidak  berpassword. (lihat RFC 959 untuk spesifikasi FTP)b. Remote login. Network terminal Protokol (telnet) memungkinkan pengguna komputer dapat melakukan log in ke dalam suatu komputer didalam suatu jaringan. Jadi hal ini berarti bahwa pengguna menggunakan komputernya sebagai perpanjangan tangan dari komputer jaringan tersebut.( lihat RFC 854 dan 855 untuk spesifikasi telnet lebih lanjut)c. Computer mail. Digunakan untuk menerapkan sistem elektronik mail. (lihat RFC 821 dan 822) d. Network File System (NFS). Pelayanan akses file-file jarak jauh yg memungkinkan klien-klien untuk mengakses file-file pada komputer jaringan jarak jauh walaupun file tersebut disimpan secara lokal. (lihat RFC 1001 dan 1002 untuk keterangan lebih lanjut)e. remote execution. Memungkinkan pengguna komputer untuk menjalankan suatu program didalam komputer yg berbeda. Biasanya berguna jika pengguna menggunakan komputer yg terbatas, sedangkan ia memerlukan sumber yg banyak dalam suatu system komputer.

Ada beberapa jenis remote execution, ada yg berupa perintah-perintah dasar saja, yaitu yg dapat dijalankan dalam system komputer yg sama dan ada pula yg menggunakan “prosedure remote call system”, yg memungkinkan program untuk memanggil subroutine yg akan dijalankan di system komputer yg berbeda. (sebagai contoh dalam Berkeley UNIX ada perintah “rsh” dan “rexec”)f. name servers. Nama database alamat yg digunakan pada internet (lihat RFC 822 dan 823 yg menjelaskan mengenai penggunaan protokol name server yg bertujuan untuk menentukan nama host di internet.) ************************************************************************ RFC (Request For Comments) adalah merupakan standar yg digunakan dalam internet, meskipun ada juga isinya yg merupakan bahan diskusi ataupun omong kosong belaka. Diterbitkan oleh IAB (Internet Activities Board) yg merupakan komite independen para peneliti dan profesional yg mengerti teknis, kondisi dan evolusi sistem internet. Sebuah surat yg mengikuti nomor RFC menunjukan status RFC : S: standard, standar resmi bagi internet DS: Draft standard, protokol tahap akhir sebelum disetujui sebagai standar PS: Proposed Standard, protokol pertimbangan untuk standar masa depan I: Informational, berisikan bahan-bahan diskusi yg sifatnya informasi E: Experimental, protokol dalam tahap percobaan tetapi bukan pada jalur standar. H: Historic, protokol-protokol yg telah digantikan atau tidak lagi dipertimbankan utk standarisasi.************************************************************************5. Bagaimanakah bentuk arsitektur dari TCP/IP itu ?—————————————————Dikarenakan TCP/IP adalah serangkaian protokol di mana setiap protokol melakukan sebagian dari keseluruhan tugas komunikasi jaringan, maka tentulah implementasinya tak lepas dari arsitektur jaringan itu sendiri. Arsitektur rangkaian protokol TCP/IP mendifinisikan berbagai cara agar TCP/IP dapat saling menyesuaikan. Karena TCP/IP merupakan salah satu lapisan protokol OSI * (Open System Interconnections), berarti bahwa hierarki TCP/IP merujuk kepada 7 lapisan OSI tersebut. Berikut adalah model referensi OSI 7 lapisan, yg mana setiap lapisan menyediakan tipe khusus pelayanan jaringan :

Peer process|Application layer |<—————–>|Application layer ||Presentation layer|<—————–>|Presentation layer||Session layer     |<—————–>|Session layer     ||Transport layer   |<—————–>|Transport layer   ||Network layer     |<—————–>|Network layer     ||Data link layer   |<—————–>|Data link layer   ||Physical layer    |<—————–>|Physical layer    | Tiga lapisan teratas biasa dikenal sebagai “upper lever protocol” sedangkan empat lapisan terbawah dikenal sebagai “lower level protocol”. Tiap lapisan berdiri sendiri tetapi fungsi dari masing-masing lapisan bergantung dari keberhasilan operasi layer sebelumnya. Sebuah lapisan pengirim hanya perlu berhubungan dengan lapisan yang sama di penerima (jadi misalnya lapisan data link penerima hanya berhubungan dengan data link pengirim) selain dengan satu layer di atas atau dibawahnya (misalnya lapisan network berhubungan dengan   lapisan transport diatasnya atau dengan lapisan data link dibawahnya).

Model dengan menggunakan lapisan ini merupakan sebuah konsep yg penting karena suatu fungsi yg rumit yg berkaitan dengan komunikasi dapat dipecahkan menjadi sejumlah unit yg lebih kecil. Tiap lapisan bertugas memberikan layanan tertentu pada lapisan diatasnya dan juga melindungi lapisan diatasnya dari rincian cara pemberian layanan tersebut. Tiap lapisan harus transparan sehingga modifikasi yg dilakukan atasnya tidak akan menyebabkan perubahan pada lapisan yang lain. Lapisan menjalankan perannya dalam pengalihan data dengan mengikuti peraturan yang berlaku untuknya dan hanya berkomunikasi dengan lapisan yang setingkat. Akibatnya sebuah layer pada satu sistem tertentu hanya akan berhubungan dengan lapisan yang sama dari sistem yang lain. Proses ini dikenal sebagai “Peer process”. Dalam keadaan sebenarnya tidak ada data yang langsung dialihkan antar lapisan yang sama dari dua sistem yang berbeda ini. Lapisan atas akan memberikan data dan kendali ke lapisan dibawahnya sampai lapisan yang terendah dicapai. Antara dua lapisan yang berdekatan terdapat “interface” (antarmuka). Interface ini mendifinisikan operasi dan layanan yang diberikan olehnya ke lapisan lebih atas. Tiap lapisan harus melaksanakan sekumpulan fungsi khusus yang dipahami dengan sempurna. Himpunan lapisan dan protokol dikenal sebagai “arsitektur jaringan”. Pengendalian komunikasi dalam bentuk lapisan menambah overhead karena tiap lapisan berkomunikasi dengan lawannya melalui “header”. Walaupun rumit tetapi fungsi tiap lapisan dapat dibuat dalam bentuk modul sehingga kerumitan dapat ditanggulangi dengan mudah.Disini kita tidak akan membahas model OSI secara mendalam secara keseluruhannya, karena protokol TCP/IP tidak mengikuti benar model referensi OSI tersebut. Walaupun demikian, TCP/IP model akan terlihat seperti ini :

========================================= |Application layer  |                   | |Presentation layer | Application layer | |Session layer      |                   | |===================|===================| |Transport layer    |  Transport layer/ | |                   |    Host to host   | |=======================================| |Network  layer     | Network layer/    | |                   | internet layer    | |===================|===================| |Data Link layer    | Network access    | |Physical layer     |                   | |===================|===================| Model OSI         model internet Sekarang mari kita bahas keempat lapisan tersebut.

a. Network Access Lapisan ini hanya menggambarkan bagaimana data dikodekan menjadi sinyal- sinyal dan karakteristik antarmuka tambahan media. b. Internet layer/ network layer Untuk mengirimkan pesan pada suatu internetwork (suatu jaringan yang mengandung beberapa segmen jaringan), tiap jaringan harus secara unik diidentifikasi oleh alamat jaringan. Ketika jaringan menerima suatu pesan dari lapisan yang lebih atas, lapisan network akan menambahkan header pada pesan yang termasuk alamat asal dan tujuan jaringan. Kombinasi dari data dan lapisan network disebut “paket”. Informasi alamat jaringan digunakan untuk mengirimkan pesan ke jaringan yang benar, setelah pesan tersebut sampai pada jaringan yg benar, lapisan data link dapat menggunakan alamat node untuk mengirimkan pesan ke node tertentu. _____       _____ |=====|     |=====|   ################### end nodes \—–/     \—–/                    # # |===|       |===|                     #  # |           |                       #   # —|———- |—-   # routers       #    # |      # #              #     # |     #   #             #      # |=—=| #     #            #       # |=—=|        #           #        # |            #        _____     _____ komputer     *******          #      |=====|   |=====| Lainnya — * token * —–|=—=|   \—–/   \—–/ * ring  *      |=—=|    |===|     |===| *******          |         |         | |            -|——– |———|——— —– | Komputer Lainnya meneruskan paket ke jaringan yang benar disebut “routing” dan peralatan yang meneruskan paket adalah “routers”. Suatu antar jaringan mempunyai dua tipe node :

– “End nodes”, menyediakan pelayanan kepada pemakai. End nodes menggunakan lapisan network utk menambah informasi alamat jaringan kepada paket, tetapi tidak melakukan routing. End nodes kadang-kadang disebut “end system” (istilah OSI) atau “host” (istilah TCP/IP)– Router memasukan mekanisme khusus untuk melakukan routing. Karena routing merupakan tugas yg kompleks, router biasanya merupakan peralatan tersendiri yg tidak menyediakan pelayanan kepada pengguna akhir. Router kadang-kadang disebut “intermediate system” (istilah OSI) atau “gateway” (istilah TCP/IP). Selain itu juga lapisan ini bertanggung jawab untuk pengiriman data melalui antar jaringan. Protokol lapisan intenet yang utama adalah internet protokol, IP (RFC 791, lihat juga RFC 919, 922,950).IP menggunakan protokol-protokol lain untuk tugas-tugas khusus internet. ICMP(dibahas nanti) digunakan untuk mengirimkan pesan-pesan ke lapisan host ke host. Adapun fungsi IP :

1. Pengalamatan2. Fragmentasi datagram pada antar jaringan3. Pengiriman datagram pada antar jaringanc. Transport layer /host to host Salah satu tanggung jawab lapisan transport adalah membagi pesan-pesan menjadi fragment-fragment yang cocok dengan pembatasan ukuran yg dibentuk oleh jaringan. Pada sisi penerima, lapisan transport menggabungkan kembali fragment untuk mengembalikan pesan aslinya, sehingga dapat diketahui bahwa lapisan transport memerlukan proses khusus pada satu komputer ke proses yg bersesuaian pada komputer tujuan. Hal ini dikenal sebagai Service Access Point (SAP) ID kepada setiap paket (berlaku pada model OSI, istilah TCP/IP untuk SAP ini disebut port *). Mengenali pesan-pesan dari beberapa proses sedemikian rupa sehingga pesan tersebut dikirimkan melalui media jaringan yg sama disebut “multiplexing”. Prosedur mengembalikan pesan dan mengarahkannya pada proses yg benar disebut “demultiplexing”.Tanggung javab lapisan transport yg paling berat dalam hal pengiriman pesan adalah mendeteksi kesalahan dalam pengiriman data tersebut.
Ada

dua kategori umum deteksi kesalahan dapat dilakukan oleh lapisan transport : a. Reliable delivery, berarti kesalahan tidak dapat terjadi, tetapi kesalahan akan dideteksi jika terjadi. Pemulihan kesalahan dilakukan dengan jalan memberitahukan lapisan atas bahwa kesalahan telah terjadi dan meminta pengirimna kembali paket yg kesalahannya terdeteksi.b. Unreliable delivery, bukan berarti kesalahan mungkin terjadi, tetapi menunjukkan bahwa lapisan transport tidak memeriksa kesalahan tersebut. Karena pemeriksaan kesalahan memerlukan waktu dan mengurangi penampilan jaringan. Biasanya kategori ini digunakan jika setiap paket mengandung pesan yg lengkap, sedangkan reliable delivery, jika mengandung banyak paket. Unreliable delivery, sering disebut “datagram delivery” dan paket-paket bebas yg dikerimkan dengan cara ini sering disebut “datagram”. Karena proses lapisan atas (application layer) memiliki kebutuhan yg bervariasi, terdapat dua protokol lapisan transport /host to host, TCP dan UDP. TCP adalah protokol yg handal. Protokol ini berusaha secara seksama untuk mengirimkan data ke tujuan, memeriksa kesalahan, mengirimkan data ulang bila diperlukan dan mengirimkan error ke lapisan ats hanya bila TCP tidak berhasil mengadakan komunikasi (dibahas nanti). Tetapi perlu dicatat bahwa kehandalan TCP tercapai dengan mengorbankan bandwidth jaringan yg besar. UDP (User Datagram Protocol) disisi lain adalah protokol yg tidak handal. Protokol ini hanya “semampunya” saja mengirimkan data. UDP tidak akan berusaha untuk  mengembalikan datagram yg hilang dan proses pada lapisan atas harus bertanggung jawab untuk mendeteksi data yg hilang atau rusak dan mengirimkan ulang data tersebut bila dibutuhkan.c. Application layerLapisan inilah biasa disebut lapisan akhir (front end) atau bisa disebut user program. Lapisan inilah yg menjadi alasan keberadaan lapisan sebelumnya. Lapisan sebelumnya hanya bertugas mengirimkan pesan yg ditujukan utk lapisan ini. Di lapisan ini dapat ditemukan program yg menyediakan pelayanan jaringan, seperti mail server (email program), file transfer server (FTP program),  remote terminal. ************************************************************************Token Ring merupakan teknologi LAN  data link yg didefinisikan oleh IEEE 802.4  dimana sistem dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan segmen kabel twisted-pair point-to-point untuk membentuk suatu struktur ring. Sebuah sistem diijinkan untuk mengirim hanya bila sistem tersebut memiliki token (data unit khsusus yg digunakan bersama-sama) yg akan dilewarkan dari satu sistem ke sistem lain sekitar ring.========================================================================komputer port adalah tempat adalah tempat dimana informasi masuk dan keluar. Di PC contohnya monitor sebagai keluaran informasi, keyboard dan mouse sebagai masukan informasi. Tetapi dalam istilah internet, port berbentuk virtual (software) bukan berbentuk fisik seperti RS232 serial port (utk koneksi modem).************************************************************************6. Bagaimana TCP dan IP bekerja ?———————————Seperti yg telah dikemukakan diatas TCP/IP hanyalah merupakan suatu lapisan protokol(penghubung) antara satu komputer dg yg lainnya dalam network, meskipun ke dua komputer tersebut memiliki OS yg berbeda. Untuk mengerti lebih jauh marilah kita tinjau pengiriman sebuah email.Dalam pengiriman email ada beberapa prinsip dasar yg harus dilakukan. Pertama, mencakup hal-hal umum berupa siapa yg mengirim email, siapa yg menerima email tersebut serta isi dari email tersebut. Kedua, bagaimana cara agar email tersebut sampai pada tujuannya.Dari konsep ini kita dapat mengetahui bahwa pengirim email memerlukan “perantara” yg memungkinkan emailnya sampai ke tujuan (seperti layaknya pak pos). Dan ini adalah tugas dari TCP/IP. Antara TCP dan IP ada pembagian tugas masing-masing.

TCP merupakan  connection-oriented, yg berarti bahwa kedua komputer yg ikut serta dalam pertukaran data harus melakukan hubungan terlebih dulu sebelum pertukaran data ( dalam hal ini email) berlangsung. Selain itu TCP juga bertanggung jawab untuk menyakinkan bahwa email tersebut sampai ke tujuan, memeriksa kesalahan dan mengirimkan error ke lapisan atas hanya bila TCP tidak berhasil melakukan hubungan (hal inilah yg membuat TCP sukar untuk dikelabuhi). Jika isi email  tersebut terlalu besar untuk satu datagram * , TCP akan membaginya kedalam beberapa datagram. IP bertanggung jawab setelah hubungan berlangsung, tugasnya adalah untuk meroute data packet . didalam network. IP hanya bertugas sebagai kurir dari TCP dalam penyampaian datagram dan “tidak bertanggung jawab” jika data tersebut tidak sampai dengan utuh (hal ini disebabkan IP tidak memiliki informasi mengenai isi data yg dikirimkan) maka IP akan mengirimkan pesan kesalahan ICMP*. Jika hal ini terjadi maka IP hanya akan memberikan pesan kesalahan (error message) kembali ke sumber data. Karena IP “hanya” mengirimkan data “tanpa” mengetahui mana data yg akan disusun berikutnya menyebabkan IP mudah untuk dimodifikasi daerah “sumber dan tujuan” datagram. Hal inilah  penyebab banyak paket hilang sebelum sampai kembali ke sumber awalnya. (jelas ! sumber dan tujuannya sudah dimodifikasi) Kalimat Datagram dan paket sering dipertukarkan penggunaanya. Secara teknis, datagram adalah kalimat yg digunakan jika kita hendak menggambarkan TCP/IP. Datagram adalah unit dari data, yg tercakup dalam protokol.

************************************************************************ICPM adalah kependekan dari Internet Control Message Protocol yg bertugas memberikan pesan dalam IP. Berikut adalah beberapa pesan potensial sering timbul (lengkapnya lihat RFC 792): a. Destination unreachable, terjadi jika host,jaringan,port atau protokol tertentu tidak dapat dijangkau.b. Time exceded, dimana datagram tidak bisa dikirim karena time to live habis.c. Parameter problem, terjadi kesalahan parameter dan letak oktert dimana kesalahan terdeteksi.d. Source quench, terjadi karena router/host tujuan membuang datagram karena batasan ruang buffer atau karena datagram tidak dapat diproses.e. Redirect, pesan ini memberi saran kepada host asal datagram mengenai router yang lebih tepat untuk menerima datagram tsb.f. Echo request dan echo reply message, pesan ini saling mempertukarkan data antara host.

Selain RFC 792 ada juga RFC 1256 yg isinya berupa ICMP router discovery message dan merupakan perluasan dari ICMP, terutama membahas mengenai kemampuan bagi host untuk menempatkan rute ke gateway.************************************************************************ 7. Bagaimanakah bentuk format header protokol UDP,TCP,IP ?———————————————————-1. UDP —— UDP memberikan alternatif transport untuk proses yg tidak membutuhkan pengiriman yg handal. Seperti yg telah dibahas sebelumnya, UDP merupakan protokol yg tidak handal, karena tidak menjamin pengiriman data atau perlindungan duplikasi. UDP tidak mengurus masalah penerimaan aliran data dan pembuatan segmen yg sesuai untuk IP.Akibatnya, UDP adalah protokol sederhana yg berjalan dengan kemampuan jauh dibawah TCP. Header UDP tidak mengandung banyak informasi, berikut bentuk headernya : ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +
Source
Port  +

Destination
Port  +

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +    Length    +    Checksum         + ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ source port, adalah port asal dimana system mengirimkan datagram. Destination port, adalah port tujuan pada host penerima. Length, berisikan panjang datagram dan termasuk data. Checksum, bersifat optional yg berfungsi utk meyakinkan bahwa data tidak akan mengalami rusak (korup) 2. TCP——Seperti yg telah dibahas sebelumnya, TCP merupakan protokol yg handal dan bertanggung jawab untuk mengirimkan aliran data ke tujuannya secara handal dan berurutan. Untuk memastikan diterimanya data, TCP menggunakan nomor urutan segmen dan acknowlegement (jawaban). Misalkan anda ingin mengirim file berbentuk seperti berikut :———————————————————-TCP kemudian akan memecah pesan itu menjadi beberapa datagram (untuk melakukan hal ini, TCP tidak mengetahui berapa besar datagram yg bisa ditampung jaringan. Biasanya, TCP akan memberitahukan besarnya datagram yg bisa dibuat, kemudian mengambil nilai yg terkecil darinya, untuk memudahkan).—- —- —- —- —- —- —- —- —- —- —- —-TCP kemudian akan meletakan header di depan setiap datagram tersebut. Header ini biasanya terdiri dari 20 oktet, tetapi yg terpenting adalah oktet ini berisikan sumber dan tujuan  “nomor port (port number)” dan “nomor urut (sequence number)”. Nomor port digunakan untuk menjaga data dari banyaknya data yg lalu lalang. Misalkan ada 3 orang yg mengirim file. TCP anda akan mengalokasikan nomor port 1000, 1001, dan 1002 untuk transfer file. Ketika datagram dikirim, nomor port ini menjadi “sumber port (source port)” number untuk masing-masing jenis transfer.Yg perlu diperhatikan yaitu bahwa TCP perlu mengetahui juga port yg dapat digunakan oleh tujuan (dilakukan diawal hubungan). Port ini diletakan pada daerah “tujuan port (destination port)”. Tentu saja jika ada datagram yg kembali, maka source dan destination portnya akan terbalik, dan sejak itu port anda menjadi destination port dan port tujuan menjadi source port. Setiap datagram mempunyai nomor urut (sequence number) masing-masing yg berguna agar datagram tersebut dapat tersusun pada urutan yg benar dan agar tidak ada datagram yg hilang. TCP tidak memberi “nomor” datagram, tetapi pada oktetnya. Jadi jika ada 500 oktet data dalam setiap datagram, datagram yg pertama mungkin akan bernomor urut 0, kedua 500, ketiga 1000, selanjutnya 1500 dan eterusnya. Kemudian semua susunan oktet didalam datagram akan diperiksa keadaannya benar atau salah, dan biasa disebut dg “checksum”. Hasilnya kemudian diletakan ke header TCP. Yg perlu diperhatikan ialah bahwa checksum ini dilakukan di kedua komputer yg melakukan hubungan. Jika nilai keberadaan susunan oktet antara satu checksum dg checksum yg lain tidak sama, maka sesuatu yg tidak diinginkan akan terjadi pada datagram tersebut, yaitu gagalnya koneksi (lihat bahasan sebelumnya). Jadi inilah bentuk datagram tersebut: +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Source
Port     +      Destination port  +

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +                 Sequence number              ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++               Acknowledgment number          + +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++  Data +              |U|A|P|R|S|F|                ++ offset+ Reserved         |R|C|S|S|Y|I|     Window     ++       +                                    |G|K|H|T|N|N|                ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++    Checksum                 | Urgent pointer ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++  data anda —— sampai 500 oktet berikut   +

Jika kita misalkan TCP header sebagai “T”, maka seluruh file akan berbentuk sebagai berikut :T—- T—- T—- T—- T—- T—- T—- T—- T—- T—- T—- Ada beberapa bagian dari header yg belum kita bahas. Biasanya bagian header  ini terlibat sewaktu hubungan berlangsung.

– Seperti ‘acknowledgement number’ misalnya, yg bertugas untuk menunggu jawaban apakah datagram yg dikirim sudah sampai atau belum. Jika tidak ada jawaban (acknowledgement) dalam batas waktu tertentu, maka data akan dikirim lagi. – Window berfungsi untuk mengontrol berapa banyak data yg bisa singgah dalam satu waktu. Jika Window sudah terisi, ia akan segera langsung mengirim data tersebut dan tidak akan menunggu data yg terlambat, karena akan menyebabkan hubungan menjadi lambat.– Urgent pointer menunjukan nomor urutan oktet menyusul data  yg mendesak. Urgent pointer adalah bilangan positif berisi posisi dari nomor urutan pada segmen. Reserved selalu berisi nol. Dicadangkan untuk penggunaan mendatang.– Control bit (disamping kanan reserved, baca dari atas ke bawah). Ada enam kontrol bit :a. URG, Saat di set 1 ruang urgent pointer memiliki makna, set 0 diabaikan.b. ACK saat di set ruang acknowledgement number memiliki arti.c. PSH, memulai fungsi push.d. RST, memaksa hubungan di reset.e. SYN, melakukan sinkronisasi nomor urutan untuk hubungan. Bila diset maka hubungan di buka.f. FIN, hubungan tidak ada lagi. 3. IP—–TCP akan mengirim setiap datagram ke IP dan meminta IP untuk mengirimkannya ke tujuan(tentu saja dg cara mengirimkan IP alamat tujuan). Inilah tugas IP sebenarnya. IP tidak peduli apa isi dari datagram, atau isi dari TCP header. Tugas IP sangat sederhana, yaitu hanya mengantarkan datagram tersebut sampai tujuan (lihat bahasan sebelumnya). Jika IP melewati suatu gateway, maka ia kemudian akan menambahkan header miliknya. Hal yg penting dari header ini adalah “source address” dan “Destination address”, “protocol number” dan “checksum”.  “source address” adalah alamat asal datagram. “Destination address” adalah alamat tujuan datagram (ini penting agar gateway mengetahui ke mana datagram akan pergi). “Protocol number” meminta IP tujuan untuk mengirim datagram ke TCP. Karena meskipun jalannya IP menggunakan TCP, tetapi ada juga protokol tertentu yg dapat menggunakan IP, jadi kita harus memastikan IP menggunakan protokol apa untuk mengirim datagram tersebut. Akhirnya, “checksum” akan meminta IP tujuan untuk meyakinkan bahwa header tidak mengalami kerusakan. Yang perlu dicatat yaitu bahwa TCP dan IP menggunakan checksum yang berbeda. Berikut inilah tampilan header IP :

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ version + IHL + Type of Service +        Total Length      ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++  identification                 + Flag +  Fragment Offset  ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Time to live  + Protocol        +     Header Checksum      ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++                       Source Address                       ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++                    Destination Address                     ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ TCP header, kemudian data  ——-                         +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Jika kita misalkan IP header sebagai “I”, maka file sekarang akan berbentuk : IT—-  IT—-  IT—-  IT—–  IT—–  IT—–  IT—– IT—-

Teknologi Informasi, Inovasi bagi dunia pendidikan

Judul: Teknologi Informasi, Inovasi bagi Dunia Pendidikan
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Geger Riyanto
Saya Mahasiswa di Universitas
Indonesia
Topik: Teknologi Informasi Dalam Wacana Pendidikan
Tanggal: 14/1/2005

I. TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENDIDIKAN DI INDONESIAA. Dunia Pendidikan Konvensional Indonesia

Secara umum Dunia Pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana yang publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.

Upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini kita belum melihat hasil dari usaha tersebut. Apabila kita melihat dari sudut pandang nasional atau alias yang umum-umum saja jadi marilah kita lihat apa yang dilakukan oleh pemerintah. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah biasanya bersifat konstitusional demi mendapatkan lulusan dari sekolah yang kompetitif dan siap bersaing secara global, semisalkan dengan menetapkan angka batas minimal kelulusan UAN dengan nilai sebesar 4,00 dengan tidak digabung dengan poin pada ujian praktek ditambah lagi tanpa ujian praktek. Pada hal ini bukannya kita menemukan pemerintah berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan melainkan nampak sepertinya pemerintah hendak menjegal generasi kita.

Apabila kita amati dengan seksama, apa sebenarnya yang menjadi inti permasalahan pada dunia pendidikan, mungkin jauh lebih sulit dari menggantang asap. Berbagai hal dapat saja dipersalahkan sebagai pokok masalah yang menghambat kemajuan dunia pendidikan di

Indonesia. Namun demikian, yang jelas-jelas dapat kita temukan sebagai suatu kecacatan ialah proses belajar mengajar konvensional yang mengandalkan tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, pelatih dengan peserta latihan, bagaimanapun merupakan sasaran empuk yang paling mudah menjadi sasaran bagi suara-suara kritis yang menghendaki peningkatan kualitas pada dunia pendidikan. Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untTuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan IT. Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia. Karena sifat Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi; mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.B. Penggunaan IT Dalam Dunia Pendidikan

Arti IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan IT ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini.

Padahal penggunaan IT ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam Sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia.

Berikut ini ialah sampel-sampel dari luar negeri hasil revolusi dari sistem pendidikan yang berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk menunjang proses pembelajaran mereka:

1. SD River Oaks di Oaksville, Ontario, Kanada, merupakan contoh tentang apa yang bakal terjadi di sekolah. SD ini dibangun dengan visi khusus: sekolah harus bisa membuat murid memasuki era informasi instan dengan penuh keyakinan. Setiap murid di setiap kelas berkesempatan untuk berhubungan dengan seluruh jaringan komputer sekolah. CD-ROM adalah fakta tentang kehidupan. Sekolah ini bahkan tidak memiiki ensiklopedia dalam bentuk cetakan. Di seluruh perpustakaan, referensinya disimpan di dalam disket video interktif dan CD-ROM-bisa langsung diakses oleh siapa saja, dan dalam berbagai bentuk: sehingga gambar dan fakta bisa dikombinasikan sebelum dicetak;foto bisa digabungkan dengan informasi.

2. SMU Lester B. Pearson di Kanada merupakan model lain dari era komputer ini. Sekolah ini memiliki 300 komputer untuk 1200 murid. Dan sekolah ini memiliki angka putus sekolah yang terendah di Kanada: 4% dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30%

3. Prestasi lebih spektakuler ditunjukkan oleh SMP Christopher Columbus di Union City, New Jersey. Di akhir 1980-an, nilai ujian sekolah ini begitu rendah, dan jumlah murid absen dan putus sekolah begitu tinggi hingga negara bagian memutuskan untuk mengambil alih. Lebih dari 99% murid berasal dari keluarga yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Bell Atlantic- Sebuah perusahaan telepon di daerah itu membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi. Sebagai gantinya, para guru mengadakan kursus pelatihan akhir minggu bagi orangtua.

Dalam tempo dua tahun, baik angka putus sekolah maupun murid absen menurun ke titik nol. Nilai ujian-standar murid meningkat hampir 3 kali lebih tinggi dari rata-rata sekolah seantero New Jersey.

Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang demikian besar bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik.

Namun usaha-usaha dari anak-anak bangsa juga terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal penyampaian proses pendidikan dengan penggunaan IT. Semisalnya, baru-baru ini Telkom, Indosat, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan IT untuk pendidikan di Indonesia, dimulai dengan proyek-proyek percontohan.Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung (backbone) bagi pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan serta implementasi-implementasi lainnya di Indonesia. Bahkan, saat ini Telkom mulai mengembangkan teknologi yang memanfaatkan ISDN (Integrated Sevices Digital Network) untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh (teleconference) sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh.

Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan. IT sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

IMPLIKASI IT DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

e-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan. Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.

A. Pemanfaatan IT Bagi Institut Pendidikan

Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Dilingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut electronic university (e-University). Pengembangan e-University bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara online dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia yang mengenal alias sudah akrab dengan Implikasi IT di bidang Pendidikan adalah UI dan ITB. Semisalnya UI. Hampir setiap Fakultas yang terdapat di UI memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat, memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang dan waktu. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. Contoh lain adalah Universitas Swasta Bina Nusantara juga memiliki jaringan Internet yang sangat mantap, yang melayakkan mereka mendapatkan penghargaan akademi pendidikan Indonesia dengan situs terbaik. Layanan yang disediakan pada situs mereka dapat dibandingkan dengan layanan yang disediakan oleh situs-situs pendidikan luar negeri seperti Institut Pendidikan California atau Institut Pendidikan Virginia, dan sebagainya.

Pada tingkat pendidikan SMU implikasi IT juga sudah mulai dilakukan walau belum mampu menjajal dengan implikasi-implikasinya pada tingkatan pendidikan lanjutan. Di SMU ini rata-rata penggunaan internet hanyalah sebagai fasilitas tambahan dan lagi IT belum menjadi kurikulum utama yang diajarkan untuk siswa. IT belum menjadi media database utama bagi nilai-nilai, kurikulum, siswa, guru atau yang lainnya. Namun prospek untuk masa depan, penggunaan IT di SMU cukup cerah.

Selain untuk melayani Institut pendidikan secara khusus, adapula yang untuk dunia pendidikan secara umum di indonesia. Ada juga layanan situs internet yang menyajikan kegiatan sistem pendidikan di indonesia. situs ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. Tujuan utama dari situs ini adalah sebagai wadah untuk saling berhubungan yang dapat menampung semua sektor utama pendidikan. Contoh dari situs ini adalah www.pendidikan.netDisamping lingkungan pendidikan, misalnya pada kegiatan penelitian kita dapat memanfaatkan internet guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat kita membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan. Situs tersebut contohnya seperti google.com atau searchindonesia.com atau sumpahpalapa.netInisiatif-inisiatif penggunaan IT dan Internet di luar institusi pendidikan formal tetapi masih berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah situs penyelenggara “Komunitas Sekolah Indonesia”. Situs yang menyelenggarakan kegiatan tersebut contohnya plasa.com dan smu-net.comB. IT Sebagai Media Pembelajaran Multimedia

Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring dan mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.

Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.

Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 – 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalah http://www.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini Virtual University layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan Virtual University ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal Video Streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT di dunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satu dasawarsa ke depan.

Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia:

. Akses ke perpustakaan;

. Akses ke pakar;

. Melaksanakan kegiatan kuliah secara online;

. Menyediakan layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan;

. Menyediakan fasilitas mesin pencari data;

. Meyediakan fasilitas diskusi;

. Menyediakan fasilitas direktori alumni dan sekolah;

. Menyediakan fasilitas kerjasama;

. Dan lain – lain.

C. Kendala-Kendala Pengimplikasian di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.

Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah. Saya Geger Riyanto setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.