Identifikasi Permasalahan Pendidikan di Kota Pangkalpinang

Dunia Pendidikan sebagai salah satu pilar yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sangat berkepentingan terhadap peningkatan Kualitas Pendidikan agar dapat bersaing dalam era globalisasi yang semakin dekat saat ini, sebagai mana yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, tepatnya dalam Batang Tubuh UUD 1945 pasal 28 B ayat 1 dan pasal 31 ayat 1, yang menyatakan bahwa seluruh bangsa Indonesia berhak mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak, tetapi dalam pelaksanaanya banyak sekali kendala-kendala atau permasalahan yang dihadapi, baik berkaitan dengan sarana prasarana maupun Sumber Daya Manusia yang terlibat dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa permasalahan pendidikan yang terdapat di Kota Pangkalpinang:

1. Masih terdapat sekolah-sekolah yang sarana pra sarana pendidikannya belum memadai;

2. Peralatan praktek dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa masih kurang, terutama peralatan praktek untuk Sekolah Menengah Kejuruan;

3. Banyak guru-guru atau karyawan yang tidak menguasai Teknologi Informasi, hingga banyak diantara mereka yang gagap teknologi (gaptek), hal ini dapat mempengaruhi pengembangan Sumber Daya Manusia tersebut;

4. Tidak seimbangnya jumlah siswa yang berminat masuk Sekolah Menengah Kejuruan dengan Sekolah Menengah Atas, dimana banyak siswa yang lebih tertarik masuk ke Sekolah Sekolah Menengah Atas daripada Sekolah Menengah Kejuruan;

5. Apresiasi sebagian masyarakat terhadap pendidikan belum memadai. Masih ada sebagian masyarakat yang berasumsi bahwa sekolah negeri harus gratis, masuk sekolah negeri merupakan keharusan, pendidikan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Hal ini akan menjadi ancaman bagi penyelenggaraan pendidikan;

6. Menurunnya Etos Kerja guru. Tanpa dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru, sudah terlihat kecendrungan mulai menurunya etos kerja guru, penurunan etos kerja ini akan menjadi ancaman bagi dunia pendidikan. Kebijakan pemberian insentif, tidak membuat guru termotivasi untuk meningkatkan etos kerja mereka. Banyak guru PNS yang sekedar masuk atau meninggalkan tugas dan pergi mencari penghasilan diluar pada jam mengajar;

7. Pengaruh Budaya Hidup yang merusak dari luar daerah. Kota Pangkalpinang memiliki sarana prasarana perhubungan yang memadai, maka mobilitas penduduk dari luar atau sebaliknya sangat tinggi. Salah satu akses dari mobilitas itu adanya budaya hidup yang merusak, misalnya kebiasaan minum minuman keras, penyalahgunaan narkoba,. Hal ini menjadi ancaman para siswa di sekolah;

8. Masih kurangnya prosentase kualifikasi, kompetensi dan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan;

9. Masih rendahnya kualitas kehidupan dan kualitas profesionalisme guru dan tenaga kependidikan;

10. Belum terpenuhinya sarana prasarana pendidikan, olahraga yang representatif di setiap jenjang dan jenis pendidikan;

11. Masih rendahnya kemampuan peserta didik/warga belajar dalam memiliki life skill dan penguasaan IPTEK di semua jenjang pendidikan serta mengembangkan keragaman program keahlian di sekolah menengah kejuruan (SMK);

12. Masih rendahnya budaya belajar bagi siswa-siswa di setiap jenjang pendidikan.

Referensi

1. Renstra Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang tahun 2004-2009.

2. Kondisi nyata Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang.

3. Pengalaman saya sebagai staff Perencanaan di Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: