Teori Lokasi dan Pola Ruang

TEORI LOKASI ALFRED WEBER DAN AUGUST LOSCH

TUGAS MATA KULIAH: TEORI LOKASI DAN POLA RUANG

DOSEN: Dra. BITTA PIGAWATI., MT.

Oleh: INDRA JAYA, S.Kom.

MTPWK DIKNAS 2B

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

TAHUN 2007

1. Teori Lokasi Alfred Weber Alfred Weber seorang ahli ekonomi Jerman menulis buku berjudul Uber den Standort der Industrien pada tahun 1909. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1929 oleh C.J. Friedrich dengan judul Alfred Weber’s Theory of Location of Industries. Jika Von Thunen menganalisis lokasi kegiatan pertanian maka Weber menganalisis lokasi kegiatan industri. Weber mendasarkan teorinya bahwa pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum.

Dalam perumusan modelnya, Weber titik tolak pada asumsi bahwa:

1. Bidang bahasan adalah suatu wilayah yang terisolasi, iklim yang homogen, konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat, dan kondisi pasar adalah persaingan sempurna.

2. Beberapa sumber daya alam seperti air, pasir, dan batu-bata tersedia dimana-mana (ubiquitous) dalam jumlah yang memadai.

3. Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara sporadis dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas.

4. Tenaga kerja tidak ubiquitous (tidak menyebar secara merata) tetapi berkelompok pada beberapa lokasi dan dengan mobilitas yang terbatas.Berdasarkan asumsi itu, ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu :

1. Biaya transportasi;

2. Upah tenaga kerja;

3. Dampak aglomerasi dan deaglomerasi.

Biaya transportasi dan biaya upah tenaga kerja merupakan faktor umum yang secara fundamental menentukan pola lokasi dalam kerangka geografis. Dampak aglomerasi atau deaglomerasi merupakan kekuatan lokal yang berpengaruh menciptakan konsentrasi atau pemencaran berbagai kegiatan dalam ruang. Biaya transportasi merupakan faktor pertama dalam menentukan lokasi sedangkan kedua faktor lainnya merupakan faktor yang memodifikasi lokasi. Biaya transportasi bertambah secara proporsional dengan jarak. Jadi titik terendah biaya transportasi adalah titik yang menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi. Biaya transportasi dipengaruhi oleh berat lokasional.Berat Lokasional adalah berat total semua barang berupa input yang harus diangkut ketempat produksi untuk menghasilkan satu satuan output ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar.Berat total itu terdiri dari satu satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut ke lokasi pabrik seperti bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan penolong, dan lain-lain yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan output .Weber memberi contoh tiga arah seperti berikut. Konsep ini dinyatakan sebagai segitiga lokasi atau locational triangle seperti terlihat pada gambar berikut :

a

b

c

X

T

M2

M1

Z

Y

P

Keterangan :T = Lokasi optimum dan = Sumber bahan bakuP = PasarX,Y,Z = Bobot input dan outputa,b,c = Jarak lokasi input dan Output

Pada gambar diatas dimisalkan ada dua sumber bahan baku yang lokasinya berbeda, yaitu dan dan pasar berada pada arah yang lain. Dengan demikian, terdapat tiga arah lokasi sehingga ongkos angkut termurah adalah pada pertemuan dari tiga arah tersebut. Dari gambar tersebut terlihat bahwa lokasi optimum adalah titik T.Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM) sebagai berikut. IM = Apabila IM > 1, perusahaan akan berlokasi dekat bahan baku dan apabila IM <1, perusahaan akan berlokasi dekat pasar.Biaya tenaga kerja adalah faktor kedua yang dapat mempengaruhi lokasi industri. Hal ini dapat terjadi apabila penghematan biaya tenaga kerja per unit produksi lebih besar daripada tambahan biaya transportasi per unit produksi yang dapat mendorong berpindahnya lokasi ke dekat sumber tenaga kerja.Penggabungan kedua jenis biaya tersebut melahirkan pendekatan biaya terendah dari kedua unsur tersebut, seperti terlihat pada gambar berikut.

1

2

3

T

isodapan

T = lokasi biaya transportasi terendahL = lokasi biaya tenaga kerja terendah

Titik T adalah tempat dengan biaya transportasi minimum (minimum transportation cost) dan diluar titik T dapat dibuat titik-titik dengan tingkat biaya transportasi yang sama penyimpangannya dari titik T. Apabila titik-titik tersebut dihubungkan satu dengan yang lain, akan diperoleh sebuah kurva tertutup (closed curve) merupakan lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane). Akan diperoleh berbagai tingkatan lingkaran sesuai dengan tingginya ongkos diatas T. Makin tinggi ongkos, makin dekat menggambarkan berbagai lokasi industri yang memberikan tingkat biaya transportasi yang sama. Perbedaan isodopan yang satu dengan lainnya menunjukkan pertambahan biaya akibat pertambahan jarak dari titik T dengan tingkat pertambahan yang sama pada masing-masing isodapan. Dalam gambar diatas, diluar titik T terdapat isodapan 1,2, dan 3. Titik L adalah lokasi pasar tenaga kerja di dalam isodapan 2 dan perusahaan akan melihat apakah tetap berada pada titik T atau pindah ke lokasi di mana terdapat pasar buruh dengan upah yang lebih rendah. Diluar faktor biaya transportasi dan upah buruh masih ada faktor lain yang mempengaruhi biaya perusahaan, yaitu aglomerasi (terkonsentrasinya berbagai industri pada satu lokasi). Aglomerasi memberikan keuntungan antara lain berupa : fasilitas seperti tenaga listrik, air, perbengkelan, pemondokan, dan lain-lain. Sering kali pada lokasi seperti ini sudah terdapat pula tenaga kerja yang terlatih. Fasilitas ini akan menurunkan biaya produksi/kebutuhan modal karena kalau terpisah jauh semua fasilitas harus dibangun sendiri.

Aglomerasi Versi Weber

Aglomerasi adalah pengelompokkan beberapa perusahaan dalam suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus industri. Aglomerasi juga bisa dibagi mencadi dua macam, yaitu aglomerasi primer di mana perusahaan yang baru muncul tidak ada hubungannya dengan perusahaan lama, dan aglomerasi sekunder jika perusahaan yang baru beroperasi adalah perusahaan yang memiliki tujuan untuk memberi pelayanan pada perusahaan yang lama.Beberapa sebab yang memicu terjadinya aglomerasi :1. Tenaga kerja tersedia banyak dan banyak yang memiliki kemampuan dan keahlian yang lebih baik dibanding di luar daerah tersebut.2. Suatu perusahaan menjadi daya tarik bagi perusahaan lain.3. Berkembangnya suatu perusahaan dari kecil menjadi besar, sehingga menimbulkan perusahaan lain untuk menunjang perusahaan yang membesar tersebut.4. Perpindahan suatu kegiatan produksi dari satu tempat ke beberapa tempat lain.5. Perusahaan lain mendekati sumber bahan untuk aktifitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah ada untuk saling menunjang satu sama lain.

Deglomerasi

Deglomerasi adalah suatu kecenderungan perusahaan untuk memilih lokasi usaha yang terpisah dari kelompok lokasi perusahaan lain.Beberapa sebab yang memicu terjadinya deglomerasi :1. Harga buruh yang semakin meningkat di daerah padat industri2. Penyempitan luas tanah yang dapat digunakan karena sudah banyak dipakai untuk perumahan dan kantor pemerintah.3. Harga tanah yang semakin tinggi di daerah yang telah padat.4. Sarana dan Prasarana di daerah lain semakin baik namun harga tanah dan upah buruh masih rendah.

2. Teori Lokasi August Losch

* Apabila Weber melihat persoalan dari sisi produksi maka Losch melihat persoalan dari sisi permintaan pasar. Weber walaupun tidak menyatakan secara tegas, membuat asumsi bahwa semua barang yang diproduksi akan laku terjual.

* Losch mengatakan bahwa lokasi penjual berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat dijaringnya.

* Makin jauh dari pasar, konsumen enggan membeli karena biaya transportasi (semakin jauh tempat penjualan) semakin mahal.

* Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar.

* Losch menyarankan lokasi produksi ditempatkan di dekat pasar (baca: Centre Business District).Kontribusi utama Losch adalah memperkenalkan potensi permintaan (demand) sebagai faktor penting dalam lokasi industri, Kedua, kritik terhadap pendahulunya yang selalu berorientasi pada biaya terkecil; padahal yang biasanya dilakukan oleh industri adalah memaksimalkan keuntungan (profit– revenue maximation) dengan berbagai asumsi, Losch mengemukakan bagaimana economic landscape terjadi, yang merupakan keseimbangan (equillibrium) antara supply dan demand.

Proses terjadinya wilayah pasar Efek Perubahan Harga Teori August Losch

August Losch merupakan oarang pertama yang mengembangkan teori lokasi dengan segi permintaan sebagai variabel utama. Teori ini bertujuan untuk menemukan pola lokasi industri sehingga diketemukan keseimbangan spasial antar lokasi. Losch berpendapat bahwa dalam lokasi industri yang tampak tak teratur dapat diketemukan pola keberaturan.Teori Losch beasumsi suatu daerah yang homogen dengan distribusi sumber bahan mentah dan sarana angkutan yang merata serta selera konsumen yang sama. Kegiatan ekonomi yang terdapat di daerah tersebut merupakan pertanian berskala kecil yang pada dasarnya ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan petani masing-masing. Perdagangan baru terjadi bila terdapat kelebihan produksi. Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :1. Setiap lokasi industri harus menjamin keuntungan maksimum bagi penjual maupun pembeli.2. Terdapat cukup banyak usaha pertanian dengan penyebaran cukup merata sehingga seluruh permintaan yang ada dapat dilayani.3. Terdapat free entry dan tak ada petani yang memperoleh super-normal propfit sehingga tak ada rangsangan bagi petani dari luar untuk masuk dan menjual barang yang sama di daerah tersebut.4. Daerah penawaran adalah sedemikian hingga memungkinkan petani yang ada untuk mencapai besar optimum, dan5. Konsumen bersikap indifferent terhadap penjual manapun dan satu-satunya pertimbangan untuk membeli adalah harga yang rendah.Pada teori Losch, wilayah pasar bisa berubah ketika terjadi inflasi (perubahan) harga. Hal ini disebabkan karena produsen tidak mampu memenuhi permintaan yang karena jaraknya jauh akan mengakibatkan biaya transportasi naik sehingga harga jualnya juga naik, karena tingginya harga jual maka pembelian makin berkurang. Hal ini mendorong petani lain melakukan proses produksi yang sama untuk melayani permintaan yang belum terpenuhi. Dengan makin banyaknya petani yang menawarkan produk yang sama, maka akan terjadi dua keadaan :1. seluruh daerah akan terlayani,2. persaingan antar petani penjual akan semakin tajam dan saling berebut pembeli. Losch berpendapat bahwa akhirnya luas daerah pasar masing-masing petani penjual akan mengecil dan dalam keseimbangannya akan terbentuk segienam beraturan. Bentuk ini dipilih karena menggambarkan daerah penjualan terbesar yang masih dapat dikuasai setiap penjual dan berjarak minimum dari tempat lokasi kegiatan produksi yang bersangkutan. Keseimbangan yang dicapai dalam teori Losch berasumsi bahwa harga hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, oleh karenanya keseimbangan akan terganggu bila salah seorang penjual menaikkan harga jualnya. Keputusan ini mengakibatkan tidak hanya pasar menyempit karena konsumen tak mampu membeli tapi sebagian pasar akan hilang dan direbut oleh penjual yang berdekatan. Untuk memperluas jangkauan pasar dapat dilakukan dengan menjual barang yang berbeda jenis dari yang sudah ditawarkan.

Margin lines (delivered price = cost of production + cost of transportation

Boundary of market areas

Cost of price

Distance

A

C

BAGAIMANA BIAYA TERKECIL DAPAT DICAPAI – MEKANISME PERHITUNGAN RASIO HASIL – BAHAN ATAU INDEKS BAHAN

a. bahan baku yang bersifat ubiquitous à ada di mana-mana à bagaimana preferensi lokasinnya

b. indeks bahan baku (material index – MI)

MI = berat bahan baku lokal/berat produk

l MII > 1, berarti berat bahan mentah > dari berat produk, lokasi berorientasi bahan mentah

l MII < 1, berat bahan mentah < dari berat produk, berarti lokasi akan berorientasi ke pasar akhir

l MI = 1, berarti berat bahan mentah = berat produk, lokasi dapat dimana-mana

3. Contoh Studi Kasus dari teori lokasi industri Alfred Weber dan August Losch

1. Studi Kasus Teori Lokasi Industri Alfred Weber

Dalam kasus teori lokasi industri yang dikemukan oleh Alfred Weber ini, dapat kami ambil salah satu contoh kasus yang berkaitan dengan teori lokasi industri Alfred Weber, yaitu dalam hal penentuan lokasi industri pengolahan tepung tapioka, dimana lokasi industri yang ideal agar diperoleh keuntungan yang maksimum adalah dengan membuat pabrik yang tidak berada jauh dari sentra-sentra produksi bahan baku dari pembuatan tepung tapioka tersebut, hal ini dapat dijumpai di daerah Lampung, tepatnya di daerah Terbanggi Besar Lampung Tengah, disana bahan baku pembuatan tepung tapioka dapat diperoleh dari penduduk-penduduk yang ada disekitar pabrik tersebut, dan pemasaran yang dilakukan adalah ke propinsi lampung yang jaraknya kurang lebih 50 Km dari lokasi pabrik. Untuk melakukan export pun jaraknya hanya 60 Km dari pabrik yaitu menuju pelabuhan Panjang, jadi dari segi transportasi tidak terlalu tinggi, dari segi tenaga kerja pun masih bisa dijangkau, hingga keuntungan maksimum yang di inginkan pun akan terpenuhi.

2. Studi Kasus Teori Lokasi Industri August Losch

Dalam studi kasus teori lokasi industri Agust Losch ini dapat diambil contoh pendirian lokasi pabrik kendaraan bermotor yang terdapat di Indonesia, dimana pendirian pabrik kendaraan bermotor ini dinilai tepat berdasarkan teori August Losch karena lokasi pabrik tersebut didirikan dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada konsumennya, hingga proses distribusi dari kendaraan bermotor tersebut akan lebih cepat dilakukan dibanding harus diproduksi di daerah asalnya yaitu Jepang, dari segi biaya produksi pun akan lebih murah karena beberapa komponen atau suku cadang kendaraan bermotor tersebut, bahan bakunya ada yang tersedia di Indonesia, begitu juga dengan tenaga kerja, dimana ongkos tenaga kerja di Indonesia masih lebih murah dibanding negara asal kendaraan bermotor tersebut, hingga harapan agar keuntungan maksimal yang diinginkan akan terpenuhi.

4 Tanggapan

  1. artikel yang bagus, sayang ilustrasinya gak nampak. apakah penentuan lokasi industri menggunakan IM masih dipakai saat ini ?

  2. gambar nya mana yah??koq ga ada…thx buat artikel nya….

  3. Trims. Sy Mhs di salah satu perg. di Riau sedang menyelesaikan TA ttg anaslis penentuan lokasi sebuah usaha dalam hal ini usaha distro. jika ada referensi yg mengarah kesana sangat membantu sekali. mohon bantuannya.
    trims.

  4. mantap nii…. pas banget, kebetulan lagi nyari2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: