Antara Generasi Muda, Globalisasi, dan Peranan ICT

Bagi umat manusia, dimensi waktu telah berubah menuju suatu fase yang jelas amat kontradiksional. Fase baru ini kita sebut dengan terminologi globalisasi. Menurut Jenderal (Pur.) TNI Soemitro, globalisasi adalah konsep semu pengisi kevakuman. Setelah parang dingin berakhir seiring dengan runtuhnya hegemoni Blok Timur, dunia dilanda kevakuman konsepsi, strategi, dan kepemimpinan politik. Setelah melewati Perang Dunia I dan II, masyarakat internasional mendambakan perdamaian. Sebagai negara adidaya yang tersisa, Amerika Serikat (AS) mengubah strategi konfrontasi menjadi strategi rekonsiliasi. Selanjutnya, AS mengkampanyekan konsep globalisasi dengan tiga sasaran utama yaitu: perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal sebagai sasaran utamanya.
Proses yang melanda dunia ini membawa banyak konsekuensi. Melihat dari ketiga sasaran utama yang sejak awal dimaksudkan, seharusnya, globalisasi membawa dampak yang positif bagi seluruh umat manusia, namun, kenyataan yang ada bertolak belakang. Dulu, pada tahun 1800, 74% penduduk dunia terkategori miskin dan hanya menikmati 44% GDP dunia. Tapi, pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang terkategori miskin mencapai 80% dan hanya menikmati 20% GDP dunia. Sisanya, 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80% GDP dunia.
Di lain pihak, globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas (borderless world) dengan arus informasi supercepat (information superhighway) yang mengglobal. Globalisasi dunia memicu revolusi (bukan evolusi) di bidang ICT (Information and Communication Technology). Singkatnya, globalisasi akan membawa serta globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT. Globalisasi memaksa manusia untuk dapat beradapatasi dengan globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT yang berlangsung. Untuk beradaptasi dengan transfromasi yang supercepat ini, tiap bangsa dituntut untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Globalisasi akan berdampak negatif pada suatu nasion bila nasion itu tidak memiliki SDM yang berkualitas. Untuk yang terakhir ini, perlu diakui bahwa Indoneisa belum memilikinya, secara umum. Bila dilihat dari mutu hasil pendidikannya, Indonesia kalah jauh dengan negara-negara Asia lainnya. Majalah Hidup dalam tajuk rencananya pernah mengungkapkan bahwa pendidikan Indonesia tergolong kelas kambing. Jajak pendapat Kompas secara umum menyimpulkan bahwa kiprah generasi muda Indonesia belum memuaskan. Selain itu, ada banyak masalah yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Konsekuensinya, Indonesia akan berhadapan dengan banyak dampak negatif globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT.
Tulisan ini hendak merangsang seluruh bangsa Indonesia terutama para pemimpin dan policymakers industri ICT sebagai pihak yang memegang peranan penting dalam globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT. Secara khusus tulisan ini hendak melihat imbasnya terhadap generasi muda. Ini perlu ditekankan karena suatu nasion itu bak sebuah tim sepak bola yang mau tidak mau harus terus beregenerasi supaya tetap eksis. Apabila generasi muda Indonesia –yang notabene adalah tulang punggung bangsa– telah teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi, mau jadi apa nasion ini kelak?
Terlebih dahulu, tulisan ini akan memberikan pandangan bercorak reflektif sekaligus futuristik tentang dampak negatif yang mengancam generasi muda Indonesia, mengingat SDM kita belum dapat bersaing. Pandangan ini akan dibagi menjadi tiga segi, yaitu: sosial, ekonomi, budaya. Sebenarnya, ketiganya berhubungan erat, namun, demi lebih jelasnya akan diklasifikasikan dalam ketiga segi itu. Selanjutnya, adalah upaya memperbaiki keadaan dengan penekanan pada peran ICT.

Globalisasi Informasi dan Akselerasi Perkembangan ICT
Kita harus berangkat dari pemahaman bahwa manusia itu, pada dasarnya, mahluk sosial. Menurut teori ekstensialisme, manusia “ada” berarti “ada bersama” . Kata “aku “ justru mengandaikan adanya orang lain. Komunikasi alias communication itu berawal dari communion alias kesatuan, maksudnya adalah bentuk “ada bersama” dari manusia. Jadi, komunikasi itu intermedium antar pribadi. Bertitik pangkal pada komunikasi itulah, manusia dapat semakin memanusiakan dirinya; manusia menjadi semakin berbudaya.
Sekali lagi diungkapkan bahwa globalisasi yang melanda dunia ini membawa pada borderless world dengan ditandai information superhighway. Perkembangan ICT menjadi amat cepat. Dalam beberapa dasawarsa teknologi informasi dan telekomunikasi terus diup-grade secara revolutif; mulai dari PC tanpa hardisk hingga PC lengkap dengan multimedia; mulai dari telepon dengan kabel, ponsel, hingga teknologi iridium. Kalau dahulu orang berhubungan lewat telepon, telegraf, atau surat biasa, kini semuanya bisa diatasi dengan internet. Kini para sepakbola mania tidak perlu pergi ke Eropa untuk mengikuti perebutan piala Champion. Mereka dapat mengikuti piala Champion melalui TV. Dunia yang dulu tampak luas, kini terlihat amat sempit.

Dampak di Bidang Sosial
Globalisasi yang disertai dengan globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu. Dari situ, akan terformat masyarakat kompetitif, artinya, persaingan antar individu akan memuncak. Di satu sisi, persaingan yang ketat semacam ini akan meningkatkan kinerja dan produktifitas manusia. Mereka yang mampu bersaing akan menduduki posisi atas dalam stratum sosial. Namun, dengan bermodal dari kenyataan bahwa sumber daya manusia muda Indonesia belum cukup baik, resikonya, SDM kita malah menjadi masyarakat frustasi. Hasilnya, adalah bentuk-bentuk kekerasan seperti tawuran, “lukisan” di badan bus dan dinding-dinding.
Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan memperluas wawasan dan relasi kaum muda dengan adanya sarana-sarana yang memungkinkan mereka memperoleh informasi atau berelasi dengan lebih efisien dan berjangkauan luas. Namun, di sisi lain, TV, internet, majalah, koran, VCD, handphone, dsb. yang terus di-up grade itu akan mengantarkan generasi muda dalam mode baru relasi manusia yaitu: virtual relation. Dalam relasi ini, generasi muda berhubungan dengan orang atau gambaran yang secara fisik belum pernah bertemu, atau bahkan mustahil. Yang perlu ditekankan adalah dengan melihat kenyataan saat ini, virtual relation itu akan melemahkan proses sosialiasi generasi muda dalam masyarakat. Dengan adanya sarana dan fasilitas yang begitu canggih, tidak akan ada dorongan untuk secara langsung terjun ke masyarakat; kemampuan interaksi akan menurun. Buktinya, bentuk-bentuk gotong royong dalam masyarakat kita, terutama generasi muda, menurun jauh bila dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Rasanya, ungkapan mangan ora mangan kumpul yang menggambarkan begitu eratnya kebersamaan dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia sudah tidak relevan lagi.

Dampak di Bidang Ekonomi
Dampak di bidang ekonomi akan tampak jelas. Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan membawa angin segar bagi konsumerisme untuk tumbuh subur dalam diri generasi muda Indonesia. Tingkat konsumsi akan meningkat dan produktifitas menurun. Di lain pihak, pasar bebas yang menjadi salah satu perwujudan globalisasi akan menuntut manusiua yang kreatif; mampu berkreasi; singkatnya, manusia produktif. Di sinilah terjadi tension, generasi muda Indoneisa menjadi semakin tidak mampu memenuhi tuntutan jaman karena sudah teracuni konsumerisme sehingga hanya ahli dalam menkonsumsi. Buktinya, persentasi penemu dan peneliti di Indonesia amat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selanjutnya apabila produktifitas dari generasi muda –yang sebenarnya amat diharapkan dapat memulihkan keadaan ekonomi negara– menurun, negara kesatuan ini akan semakin terpuruk dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

Dampak di Bidang Budaya
Segi budaya adalah segi yang paling rentan terkena dampak negatifnya. Pada sub-bab sebelumnya diungkapkan mengenai virtual relation. Selain berdampak pada bidang sosial, dampak negatifnya juga mengimbas bidang budaya. Bentuk-bentuk sarana dan fasilitas informasi semacam itu akan mempengaruhi pola berindak dan berpikir generasi muda. Contoh yang memperihatinkan adalah masalah budaya membaca; tampaknya generasi muda sekarang sudah terhipnotis dengan layar kaca segi empat sehingga menomorduakan membaca. Kekerasan yang ada terbias dari TV juga akan terhisap oleh pikiran. Ada banyak orangtua yang menyayangkan anaknya menjadi nakal akibat nonton TV.
Pada sub-bab sebelumnya juga telah dipaparkan mengenai konsumerisme. Sikap konsumeris itu pada akhirnya akan mencapai titik jenuh dalam bentuk quasi religion . Hal-hal duniawi yang semu dan tidak kekal justru dicari dan dinomorsatukan. Sementara itu, justru yang merupakan agama murni ditinggalkan. Materi didewakan, ini akan membuat manusia-manusia yang rakus; homo homini lupus. Ini sering diungkapkan dengan terminologi hedonisme.
Keadaan yang ada di lingkungan generasi muda sekarang ini akan membawa pada pada homogenitas budaya pop. Gejala ini akan menyeragamkan selera dan simbol, sekaligus juga melarutkan sebaga batas identitas dalam keseragaman yang dangkal dan pragmentaris. Dan corak keseragaman akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat , itu artinya negara-negara industri. Akibatnya timbul transformasi budaya yang bercorak revolutif. Pada titik ini, generasi muda akan mengalami alienasi budaya. Alienasi dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu persaan terpisah, terpecah dalam arti yang lebih dalam. Jadi, generasi muda Indonesia akan mengalami keterasingan dengan budayanya sendiri. Mereka akan mengalami krisis idenditas yang intensif karena pergeseran budaya yang amat cepat dan tidak disadarinya itu.

Mengharap Peran Pihak Industri ICT
Lewat perjalanan ide ini, dapat ditangkap dengan jelas bahwa ICT mempunyai peran dan pengaruh yang besar dalam fase ini. Dengan bertitik tolak dari pemahaman ini, muncul harapan peranan industri-industri ICT untuk memutarbalikkan keadaan dengan menghalau dampak negatif akselerasi arus informasi dan perkembangan ICT ini. Harapannya, justru dengan adanya keadaan dimana arus informasi sedemikian mengglobal dan perkembangan ICT yang begitu cepat, generasi muda Indonesia justru mendapatkan buahnya.
Yang jelas restrukturisasi ICT itu diperlukan. Hal paling mendasar yang sejak pertama harus diperhatikan adalah mengenai visi dan misi ICT. Selama ini, terkesan bahwa ICT hanya mengharap supply tenaga kerja dari sektor pendidikan. Karena ini, pendidikan Indonesia jatuh dalam corak pendidikan yang pragmatis. Ini membuktikan masih kecilnya kepedulian industri ICT terhadap generasi muda. Industri ICT perlu peduli terhadap generasi muda; mengingat mau tidak mau, tenaga kerja yang akan dipakai industri ICT berasal dari generasi muda. Kepedulian itu diwujudkan dengan mengikutsertakan program yang berkenaan dengan peningkatan kualitas SDM generasi muda Indonesia dalam visi dan misinya. Ini diperlukan mengingat keadaan generasi muda Indonesia yang belum mepunyai SDM yang berkualitas benar. Realitas era ini menuntut orang untuk tidak hanya melek huruf melainkan juga melek teknologi. Setelah visi dan misi diperbaharui, yang perlu dilakukan adalah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Ini dapat diwujudkan lewat program beasiswa bagi pelajar yang berpotensi atau mengadakan program-program pelatihan, kursus, seminar. Karenanya diharapkan ICT dapat menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di sektor pendidikan formal maupun informal. Dalam mengusahakan ini, perlu diarahkan format pribadi yang hendak dibentuk. Memang globalisasi informasi dan akselerasi perkembangan ICT akan memicu masyarakat kompetitif. Namun, janganlah nantinya program pendidikan dan pelatihan itu membentuk pribadi individualistik. Yang harus dibentuk adalah pribadi yang unggul-partisipatoris.
Dalam menghadapi globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT, yang perlu dilakukan justru memanfaatkan sarana yang ada. Tepatlah jika kita mencontoh peran pihak ICT di Jepang. Pihak ICT Jepang melakukan sosialisasi sains dan teknologi kepada masyarakat Jepang melalui TV. Bagi mereka, pengembangan iptek mutlak, dan karenanya, sosialisasi amat diperlukan. Stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah. Seseorang juga dapat belajar autodidak dengan menonton TV pendidikan Jepang karena memberikan pelajaran berbagai macam bahasa dan juga menyiarkan kuliah-kuliah dari profesor-profesor terkenal. Atau meniru Filipina yang menggunakan sarana radio untuk mensosialisasikan hasil-hasil penelitiannya. Cara-cara ini berhasil di kalangan generasi muda karena yang digunakan bukanya pendekatan indoktrinatif normatif melainkan pendekatan persuasif.
Yang perlu ditekankan juga adalah pengembangan potensi-potensi SDM generasi muda berdasarkan kebudayaan riil dalam masyarakat. Ingat bahwa bangsa Indonesia punya karakteristik yang berbeda dengan bangsa Barat dan itu juga berarti bangsa Indonesia memiliki kelebihan tersendiri. Jadi dalam usaha berkompetisi, kita tidak perlu mati-matian mengejar ketertinggalan dengan mengikuti teknologi bangsa Barat. Sebaliknya, industri ICT harus menjadi bentuk industri yang nasionalis. Contoh mudahnya adalah dengan menggunakan nama-nama Indonesia. Dengan bertindak seperti itu, industri ICT akan sekaligus menjadi kebanggaan bangsa dan penopang nasionalisme bangsa. Ini amat diperlukan karena nasionalisme generasi muda Indonesia sekarang ini memudar.
Akhirulkalam, penulis hanya akan menguatkan bahwa globalisasi yang membawa serta globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT memang sedang terjadi. Sayangnya, karena generasi muda Indonesia belum dapat bersaing dengan yang lain, mereka justru akan terjangkiti dampak negatifnya. Maka, peran industri ICT amat diperlukan. Sebagai sesama bangsa Indonesia, kita harus bersatu padu menghalau badai ini, supaya pada akhrinya, bahtera negara kesatuan ini tidak hancur. “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country?”

Referensi:
——–, ————, Kompas, 14 April 1997, hal. 12
Berhani, Ahmad Najib, “Quasi-Religions,” Gerakan Protes atas Modernisme, Kompas, 26 September 1997
Driyarkara, Prof. Dr., SJ, 1993, “Pendidikan menurut Driyarkara”, Kanisius, Yogyakarta
Helianti, Is, Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang, Kompas, 16 September 2001
Jemadu, Aleksius, “Globalisasi: Antara Tantangan dan Peluang”, Kompas, 12 Desember 2000, hal 4-5
Kartodirdjo, Sartono, 1999, imensi Pembangunan Bangsa, Kanisius, Yogyakarta
LITBANG, Jajak Pendapat “Kompas”: Generasi Muda, Patutkah Dibanggakan?, Kompas, 29 Oktober 2001
Soemitro, Jend. TNI (Pur), “Tantangan dan Peluang Wawasan Kebangsaan”. Pendidikan Wawasan Kebangsaan, Grasindo, Jakarta, 1994, hal. 23-28
Suseno, Frans Magnis, “Orang Muda Kita Dapat Mengharapkan Apa?”, Kompas, 28 Oktober 1996
Suharto, A. Sandiwan, Pendidikan Indonesia Kelas Kambing, Hidup, 16 September 2001
Tilaar, H.A.R., 1999, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, Indonesia Terra, Magelang

Satu Tanggapan

  1. is very very good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: