ICT dan Perubahan Sosial

PENDAHULUAN

Ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi dewasa ini semakin terasa. Banyak orang rela membayar mahal dan menempuh berbagai cara bahkan sampai mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan sebuah informasi. Informasi menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Seperti yang diungkapkan Hartono (1990) bahwa informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh organisasi sehingga jika suatu system kurang mendapatkan informasi maka akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya mati. Tidak mengherankan jika dewasa ini TI (Teknologi Informasi) berkembang demikian pesat. Berbagai hardware dan software telah tercipta dan tersedia dengan model dan harga sangat variatif untuk memenuhi
kebutuhan informasi yang lengkap, akurat, cepat, tepat, mudah dan murah yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tuntutan penguasaan dan penggunaan TI baik bagi individu maupun organisasi/perusahanan dewasa ini semakin nyata dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Ketatnya persaingan di pasar global sehingga kecepatan memperoleh informasi sangat menentukan dalam mengatur strategi bersaing.
2. Perubahan pasar yang demikian cepat menuntut penguasaan TI untuk mencermati dan mengantisipasinya.
3. Perkembangan IPTEKS mutakhir menuntut penggunaan dan pemanfaatan TI yang semakin optimal.
4. Tuntutan kemudahan akses untuk membangun relationship dalam pengembangan diri maupun orgnisasi.

5. TI telah menjadi trend kehidupan di era global.
Teknologi informasi sangat terkait dengan teknologi komputer dan telekomunikasi. Hal ini menjadikan TI seringkali disebut juga dengan ICT (Information dan Communication Technology).

DEFINISI ICT

ICT adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil, memindahkan, menganalisis, menyajikan, menyimpan dan menyampaikan data menjadi sebuah informasi. Pemahaman yang lebih umum istilah tersebut mengarah pada perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi/multimedia (dalam berbagai bentuknya), yang telah memiliki berbagai kemampuan sebagai pengolah data/informasi, alat kontrol, alat komunikasi, media pendidikan, hiburan dan lainya.

Dari definisi ICT dan teknologi
kunci dalam Domain TI jelas sekali bahwa teknologi informasi tidak bisa dilepaskan dengan teknologi komputer dan telekomunikasi.

PERKEMBANGAN ICT
Menurut Hendarlan (2003) perkembangan teknologi informasi ditinjau dari segi penggunaannya terdiri dari 4 tahapan sebagai berikut:
1. Era Komputerisasi
2. Era Teknologi Informasi
3. Era Sistem Informasi
4. Era Globalisasi Informasi
Ditemukannya perangkat sistem komputer bisa dikatakan merupakan cikal bakal kemajuan teknologi informasi. Komputer-komputer yang pada saat itu berukuran besar seiring kemajuan teknologi dikembangkan menjadi PC (Personal komputer) dan terus berkembang menjadi notebook dan terus diciptakan komputer yang semakin kecil bentuk fisiknya namun memiliki kemampuan besar dalam mengolah data. Perkembangan teknologi komputer sangat mempengaruhi perkembangan teknologi informasi selanjutnya. Dengan terbangunnya sistem jaringan komputer baik dengan kabel maupun nirkabel maka sistem informasi semakin berkembang apalagi didukung hadirnya teknologi internet yang semakin murah menjadikan globalisasi informasi tidak terbendung. Perkembangaun teknologi terus melaju untuk berevolusi maupun merevolusi teknologi sebelumnya.. Produk teknologi yang pada suatu masa dianggap canggih, seiring perjalanan waktu menjadi biasa, bahkan tertinggal ketika terjadi (lagi) revolusi teknologi. Perubahan zaman yang demikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti dperkembangannya dengan penguasaan teknologi ICT baik oleh individu maupun organisasi.

ICT DAN PERUBAHAN SOSIAL

Telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Kemajuan  teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global village”. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead” makin lama makin nyata kebenarannya. (Wardiana, W,2002). Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis, memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur, operasi, dan manajemen organisasi. Berkat teknologi ini, berbagai kemudahan dapat dirasakan oleh manusia (sumber:http://gibson140.tripod.com, http://library.gunadarma.ac.id).

Pemanfaatan ICT dewasa ini semakin tinggi dan meluas di masyarakat. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri. Mereka harus saling berinteraksi untuk saling bertukar informasi ataupun kebutuhan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Cara-cara komunikasi tradisional saat ini cenderung mulai ditinggalkan. Jika dulu pengiriman pesan hanya bisa melalui jasa pos (surat) sehingga memerlukan waktu berhari-hari untuk dapat dibaca. Namun sekarang telah ada teknologi SMS, e-mail dan chating yang hanya dalam hitungan detik telah dapat di baca oleh si penerima. Dalam pesan pun tidak hanya tulisan saja namun juga dapat dilengkapi dengan gambar dan suara.

Beberapa dekade yang lalu orang bepergian tanpa membawa telepon tidak akan risau namun saat ini jika bepergian handphone tertinggal akan kebingungan. Dalam penulisan alamat di kartu nama seringkali tidak hanya sekedar alamat rumah ataupun kantor namun juga seringkali disertai alamat email maupun website/homepage. ICT memperkaya gaya komunikasi antar individu maupun masyarakat. Pengembangan e goverment di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah hingga instansi/departemen diyakini pula mampu mendorong kemajuan daerah/departemen tertentu untuk meningkatkan pelayanan terhadap publik, menjalin relasi dengan para investor maupun kerjasama antar pemerintahan. ICT mendekatkan pemerentah terhadap rakyatnya, investor maupun antar pemerintahan. Di bidang ekonomi peran ICT sangat potensial dan strategis untuk proses pengambilan keputusan, memperluas pasar dan menciptakan keunggulan kompetitif dan pelayanan terhadap pelanggan maupun suplier. ICT mendorong dunia usaha mengembangkan e comerce dan e business. Lewat e comerce dan e busines untuk membeli produk kita tidak harus datang ke toko/retail cukup klik dan ketik account/rekening dan alamat maka barang pun bisa sampai ke tangan. Belanja di toko sekarang tidak perlu lagi membawa uang tunai terlalu banyak, cukup tinggal gesek kartu ATM/Kredit. Adanya ICT membawa cara bisnis maupun gaya belanja baru bagi masyarakat. Perkembangan ICT juga mendorong timbulnya bisnis baru seperti wartel, warnet, game-online, lowongan kerja dan lainnya.

Di bidang pendidikan, kemajuan teknologi ICT sangat membantu menyeimbangkan peran otak kiri dan otak kanan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran menjadi semakin interaktif karena ICT mampu menghasilkan bahan ajar yang up to date, metode yang menarik dan media yang relevan. Di lingkup pendidikan ICT juga mendorong terciptanya distance learning, e-book dan e library. Mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan akan dianggap ketinggalan atau gagap teknologi jika tidak mengenal, menggunakan ataupun memanfaatkan ICT dalam proses pembelajarannya. ICT juga sangat mempengaruhi perilaku ataupun gaya hidup di masyarakat. Seperti berkembangnya tren fashion di Milan maupun Paris dapat dengan cepat dilihat dari berbagai belahan dunia sehingga bisa cepat didikuti oleh setiap masyarakat dimanapun mereka berada.

Demikian pula berbagai peristiwa, kejadian, gaya hidup dan lainnya dari berbagai belahan dunia begitu mudah diakses oleh setiap orang. Berbagai informasi baik yang positif maupun negatif dapat diakses siapa saja kapan saja dan dimana saja. Hal ini yang dikhawatirkan banyak pihak terutama masyarakat timur karena jika tidak tersaring maka akan berakibat buruk dan lunturnya budaya-budaya lokal karena terpengaruh oleh budaya luar yang menyebar sangat cepat melalui ICT. O’Connor dan Galvin(1997) dalam (http://gibson140.tripod.com/IPTEK.htm) mengemukan beberapa alasan teknologi informasi di bidang pemasaran, antara lain:
1. Secara signifikan meningkatkan pilihan-pilihan yang tersedia bagi perusahaan dan memegang peranan penting dalam implementasi yang efektif terhadap setiap elemen strategi pemasaran.
2. Mempengaruhi proses pengembangan strategi pemasaran karean teknologi informasi memberikan lebih banyak informasi ke manajemer melalui pemakaian sistem pengambilan keputusan.
3. Teknologi informasi memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai bagian yang berbeda dalam organisasi dan menyediakan banyak informasi ke manajer.
4. Teknologi informasi juga mempengaruhi antar muka-muka organisasi dengan lingkungan.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi
untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani.
Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, eeducation, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika. (Wardiana, W, 2002).

PENUTUP
Dewasa ini ketergantungan masyarakat terhadap ICT semakin tinggi. ICT menembus batas ruang dan waktu sehingga membawa kehidupan ini semakin bersifat global. Perkembangan ICT membawa berbagai perubahan sosial baik gaya hidup, cara berbisnis, cara berkomunikasi dan lain sebagainya. Terlepas dari dampak negatif ICT, tidak bisa dipungkiri bahwa kita semakin tergantung pada teknologi ini. Optimalisasi pemanfaatan ICT di berbagai sektor kehidupan sangat urgen sekali. Namun perlu disadari ICT membawa banyak perubahan sosial dalam masyarakat sehingga kita harus lebih cerdas untuk menyaring informasi yang masuk.

REFERENSI
Abdullah, Ade Gafar (2004) Peranan Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia, Softcopy Kumpulan MakalahKonaspi V, Universitas Negeri Surabaya. Hartono; Jogiyanto, MBA, Ph.D (1990), Analisis dan Disain Sistem Informasi: pendekatan terstruktur teori dan praktek aplikasi bisnis, hal 7-8, Andi Offset, Jogyakarta Hendarlan, Aay, (2003), Perkembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dari Waktu ke Waktu, (http://www.purwakarta.go.id/tahu.php?beritaID=14)
http://gibson140.tripod.com/IPTEK.htm, Teknologi Komputer , diakses tanggal 21 September 2006
http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/9/jbptgunadarma-gdl-course-2005 timpengaja-420-gambaran-i.doc), Gambaran Umum Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi, diakses 21 september 2006.
Rasyid, Rafdian (2006), (Kerjasama Strategis Sistem VSAT dalam Teknologi Informasi
Perusahaan: Kasus INFOCO(http://satjournal.tcom.ohiou.edu/issue8/cur_rafdian2_indo.html )
Wardiana, Wawan, (2002) Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia,
http://www.informatika.lipi.go.id/perkembangan-teknologi-informasi-di-indonesia

Isu-Isu Perencanaan Pendidikan

ISU-ISU PERENCANAAN PENDIDIKAN

TUGAS MATA KULIAH:

TEORI PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN WILAYAH KOTA

DOSEN : Prof. Sudharto P.Hadi, MES.,PhD.

1. Perencanaan Pendidikan itu baik yang buruk adalah implementasinya.

Sebelum kita bahas masalah tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian atau definisi dari perencanaan tersebut, ada beberapa pengertian atau definisi dari perencanaan yaitu:

Seperangkat tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan, khususnya masalah sosial dan ekonomi pada satu periode rencana, yang berorientasi pada horison waktu ‘yang akan datang’, pada jenis dan tingkatan perencanaan tertentu, di masa yang akan datang (Alden, 1974: 1-2),

Cara berpikir tentang masalah-masalah sosial dan ekonomi, yang berorientasi pada waktu yang akan datang, terkonsentrasi pada suatu tujuan dan keputusan bersama, serta berusaha untuk mewujudkan program dan keputusan bersama (Friedmann,1964) Sebuah proses untuk menentukan tindakan-tindakan bagi masa depan yang diinginkan melalui serangkaian pilihan-pilihan yang logis (Davidoff,1962 in Faludi, 1983: 11)

Sebuah proses untuk mengarahkan aktivitas manusia dan kekuatan alam dengan mengacu pada kondisi masa depan yang diinginkan (Branch, 1998: 2)

Suatu lingkaran proses yang berulang dari serangkaian tahapan-tahapan yang logis (Meise and Volwahsen, 1980: 3-5)

Dari sekian banyak definisi atau pengertian tentang perencanaan, dapat disarikan sebagai berikut :

Perancanaan adalah seperangkat prosedur untuk memecahkan permasalahan fisik, sosial, dan ekonomi, yang harus meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut: Seperangkat tindakan Upaya untuk memecahkan masalah Memiliki dimensi waktu dan berorientasi ke masa yang akan datang Suatu proses berputar dengan adanya umpan balik Melibatkan beberapa alternatif untuk mencari pemecahan Dari definisi atau pengertian tentang perencanaan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa perencanaan tersebut disusun agar dapat menuju kearah yang lebih baik, walaupun demikian tidak semua perencanaan tersebut berjalan sesuai rencana, terkadang sesuatu yang telah kita perhitungkan dengan matang, tapi pada kenyataanya kadang kala terdapat masalah yang diluar perkiraan kita, oleh karena itulah perencanaan tersebut akan terus dievaluasi dalam kurun waktu tertentu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.

Berkaitan dengan isu-isu atau pendapat tentang perencanaan pendidikan yang dikatakan baik, tapi buruk dalam implementasinya, mungkin ada benarnya pendapat tersebut jika dilihat dari hasil yang terjadi yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut, salah satu diantara perencanaan pendidikan yang implementasinya tidak sesuai dengan perencanaan adalah Program Wajib Belajar 9 tahun misalnya, dimana pada Program Wajib Belajar 9 tahun ini, pemerintah pusat dalam hal ini Departeman Pendidikan Nasional, untuk menuntaskan progam wajar 9 tahun ini, pemerintah pusat memberikan bantuan pendidikan kepada siswa yang dikenal dengan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), harapan dari Pemerintah Pusat dengan adannya program ini, maka seluruh anak bangsa yang ada diseluruh pelosok negeri ini dapat menikmati/mengenyam pendidikan minimal pendidikan dasar 9 tahun, tapi kenyataannya program BOS tersebut, belum menunjukkan hasil yang sangat signifikan, karena masih banyak siswa-siswa usia sekolah yang belum dapat menikmati pendidikan sampai 9 tahun tersebut, hal ini mungkin disebabkan oleh belum mencukupinya biaya BOS yang digunakan buat siswa dalam melaksanakan pendidikannya, sehingga siswa masih dibebani biaya lagi untuk menutupi kekurangan dari dana BOS tersebut, akibatnya banyak siswa-siswa yang putus sekolah karena tidak sanggup menanggung biaya tambahan tersebut. Mungkin pemerintah harus memikirkan kembali besaran dana BOS tersebut, hingga dana tersebut benar-benar dapat digunakan untuk mencukupi siswa dalam melaksanakan pendidikan dasar 9 tahun itu.

2. Mutu Pendidikan rendah karena kebijakan yang berganti-ganti.

Kebijakan yang sering berganti-ganti bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya mutu pendidikan saat ini, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan, diantara faktor-faktor tersebut misalnya adalah rendahnya kualitas/profesionalisme guru selaku tenaga pendidik, kurangnya sarana prasarana pendidikan, kurangnya perhatian orang tua/partisipasi masyarakat juga dapat menyebabkan rendahnya mutu pendidikan. Rendahnya kualitas/profesionalisme guru dapat disebabkan karena banyak sekali guru yang tidak fokus kepada profesinya dikarenakan rendahnya income yang diperoleh guru tersebut, hingga mereka mengajar hanya untuk memenuhi kewajiban saja, mereka tidak mempunyai beban moral atau tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didik mereka, karena yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.Kurangnya sarana prasarana juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan, hal ini disebabkan terbatasnya anggaran pendidikan, hingga saat ini pemerintah belum sanggup untuk merealisasikan anggaran pendidikan sebesar minimal 20% dari APBN sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang, hingga banyak sekali program-program yang tidak dapat direalisasikan karena terbatasnya anggaran pendidikan tersebut.Mungkin salah satu penyebab dari kebijakan pemerintah yang sering berganti-ganti, hingga menyebabkan rendahnya mutu pendidikan adalah adannya kebijakan dalam hal kurikulum yang selalu berubah-ubah hingga menyebabkan ketidakpastian/kebingunan dalam melaksanakan kurikulum tersebut, seringkali guru menjadi bingung dengan adanya kurikulum yang berubah-ubah tersebut, karena dengan pergantian kurikulum tersebut, secara otomatis guru tersebut harus menyesuaikan kembali dengan kurikulum yang baru itu, proses penyesuaian ini memerlukan waktu yang cukup lama, karena guru-guru tersebut harus memahami isi dari kurikulum tersebut, agar dapat di implementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itulah perubahan kebijakan yang dilakukan ditengah jalan sebaiknya seminimal mungkin kalau bisa dihindarkan, hingga tidak menjadikan salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan.

3. Visi Diknas : Insan Cerdas dan Kompetitif

Sesuai dengan Renstra Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, bahwa Depdiknas memiliki Visi yaitu : Terwujudnya Sistem Pendidikan Nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia, berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah-ubah. Dalam pembangunan jangka panjang tahun 2025 telah dicanangkan visi yang lebih spesifik yaitu : Insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif. Yang dimaksud dengan Insan Indonesia Cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif yang meliputi :

1. Cerdas Spiritual, yang dapat diaktualisasikan melalui hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia termasuk didalamnya budi pekerti yang luhur.

2. Cerdas Emosional, yang dapat diaktualisasikan melalui rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiatif akan keindahan seni.

3. Cerdas Sosial, dapat diaktualisasikan melalui interaksi sosial untuk membina dan memupuk hubungan timbal balik, simpatik, demokratis dan lain-lain.

4. Cerdas Intelektual, dapat diaktualisasikan melalui olah pikir supaya menjadi insan kreatif, berpengetahuan dan mempunyai daya imajinatif.

5. Cerdas Kinetis, dapat diaktualisasikan melalui olahraga untuk memuwujudkan insan yang sehat, bugar dan berdaya tahan.Sedangkan makna Kompetitif adalah :1. Berkepribadian unggul.2. Bersemangat tinggi.3. Mandiri.4. Pantang Menyerah.5. Membangun dan membina jejaring.6. Bersahabat dengan perubahan.7. Inovatif dan menjadi agen perubahan.8. Produktif dan sadar mutu.9. Berorientasi global.10. Pembelajaran sepanjang hayat.

Pada dasarnya visi Depdiknas tersebut menekankan pada pendidikan yang dapat mentransformasikan dari masyarakat yang sedang berkembang menuju ke masyarakat madani, pendidikan harus terus menerus dilakukan dengan mengikuti perkembangan dan perubahan jaman.Untuk mewujudkan visinya Departemen Pendidikan Nasional memiliki 3 pilar pembangunan pendidikan yaitu :1). Pemerataan dan perluasan akses. 2). Peningkatan mutu dan relevansi serta daya saing keluaran pendidikan. 3). Peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pengelolaan pendidikan.Pendidikan yang berkualitas dapat diwujudkan jika ditopang oleh beberapa faktor yaitu :1). Kurikulum yang berkelanjutan. 2). Kualitas guru yang memadai. 3). Prasarana dan sarana terbangun terjaga dan berkembang terus 4). Manajemen pengelolaan yang baik, transparan dan akuntabel sehingga menimbulkan pencitraan publik yang positif.

Dengan adannya visi dari Depdiknas tentang Insan Cerdas yang Kompetitif, saya setuju dengan visi tersebut jika dapat dilaksanakan dan di implementasikan dengan baik, karena visi itu dapat mengarahkan bangsa Indonesia kearah yang lebih dan memiliki daya saing yang tinggi dengan bangsa lain.

Permasalahan Transportasi Pendidikan

Tugas Mata Kuliah SISTEM PRASARANA WILAYAH DAN KOTA

DOSEN PENGAMPU:YUDI BASUKI,ST.,M.T.

Untuk mengetahui ada tidaknya permasalahan yang berkaitan dengan transportasi di Kota Pangkalpinang, berikut ini penulis paparkan data-data yang berkaitan tentang Kota Pangkalpinang.

Kota Pangkalpinang merupakan salah satu daerah otonomi yang letaknya di Pulau Bangka. Daerah ini berada pada garis 106°4’ sampai dengan 106°7’ Bujur Timur dan garis 2°4’ sampai dengan 2°10’ Lintang Selatan dengan luas daerah seluruhnya 89,40 Km2 (Berdasarkan PP No. 12 Tahun 1984). Daerah ini terletak pada bagian timur Pulau Bangka dengan batas-batas sebagai berikut : Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Selindung Lama Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Dul, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.Kota Pangkalpinang merupakan daerah yang strategis ditinjau dari sudut geografisnya, dalam kaitannya dengan pembangunan nasional dan pembangunan daerah di propinsi baru. Hal ini dikarenakan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota propinsi mempunyai fungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang meliputi:1. Pusat pemerintahan dan pemukiman penduduk2. Pusat perdagangan dan industri3. Pusat pelayanan sosial (pendidikan dan kesehatan) serta distribusi barang dan jasa4. Pusat administrasi penambangan timah5. Pusat lembaga keuangan Sebagai pusat pengembangan wilayah Bangka Belitung dalam perkembangannya selama beberapa tahapan pembangunan, Kota Pangkalpinang telah mengalami beberapa kemajuan yang cukup pesat sehingga untuk mengatasi kebutuhan akan tanah perkotaan, wilayah seluas 31,70 Km2 telah berkembang menjadi 5 (lima) kecamatan seiring dengan otonomi daerah, sehingga secara keseluruhan bagian dari wilayah Kota Pangkalpinang terdiri dari 35 kelurahan.

Daerah dan Kepadatan Penduduk Kota Pangkalpinang dirinci Perkecamatan,

Tahun 2006

Kecamatan Luas Daerah (Km2) Jumlah Penduduk (Orang) Kepadatan Penduduk Per Km2
(1) (2) (3) (4)
1. Taman Sari 1,33 15441 11610
2. Pangkalbalam 6,56 33656 5130
3. Rangkui 7,87 39205 4982
4. Bukit Intan 36,54 39506 1081
5. Gerunggang 37,1 22860 616

Penduduk Jumlah penduduk Kota Pangkalpinang tahun 2006 berdasarkan data BPS Kota Pangkalpinang adalah sebanyak 150.668 jiwa. Luas Wilayah Kota Pangkalpinang yang relatif kecil yaitu 89,40 Km2 mengalami laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dari tahun 2000 sampai 2006. Hal ini menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di Kota Pangkalpinang berada pada peringkat tertinggi dibandingkan daerah-daerah otonomi lainnya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari seluruh kecamatan, kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Tamansari, sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Gerunggang.

Jumlah Kendaraan Roda Empat dan Roda Dua di Kota Pangkalpinang Tahun 2004-2006

Jenis Kendaraan Jumlah
2004 2005 2006
(1) (2) (3) (4)
1. Kendaraan Roda Empat

a. Bus

b. Truk

c. Sedan

d. Oplet

e. Pick Up

f. Jeep

2. Kendaraan Roda Dua

a. Sepeda Motor

346610

2233

899

0550 338

3000

35521

53940

4480

2112

765 37511

3738

1737

48055

2231

7856 39929

Jumlah 40599 46363 49609

Dari data-data yang telah penulis paparkan diatas, maka berdasarkan data yang tersebut dapat penulis olah menjadi sebagai berikut :1. Kota Pangkalpinang adalah salah satu daerah otonomi yang letaknya di Pulau Bangka;2. Kota Pangkalpinang merupakan daerah yang strategis jika ditinjau dari sudut geografisnya;3. Pangkalpinang memiliki luas 31,70 Km2, dengan jumlah kecamatan 5 buah, dan 35 kelurahan;4. Jumlah penduduk Kota Pangkalpinang tahun 2006 berdasarkan data BPS Kota Pangkalpinang adalah sebanyak 150.668 jiwa;5. Kecamatan Tamansari adalah Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi, sedangkan Kecamatan Gerunggang adalah kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah.6. Jumlah kendaraan roda dua dan roda empat di Kota Pangkalpinang pada tahun 2006 adalah sebanyak 49609 buah kendaraan. Berdasarkan informasi yang ada diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa Pangkalpinang dengan jumlah penduduk sebanyak 150.668 jiwa, dengan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat sebanyak 49609 buah kendaraan, maka rasio antara jumlah penduduk dengan kendaraan bermotor adalah 1:3 artinya setiap tiga orang penduduk maka terdapat satu buah kendaraan bermotor, dengan rasio seperti itu, penulis berpendapat meskipun tingkat kepadatan penduduk yang ada di Kota Pangkalpinang paling tinggi dibanding daerah otonomi lainnya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, tapi sampai saat ini kota pangkalpinang tidak/belum mengalami masalah dalam hal transportasi, khususnya transportasi pendidikan, karena dengan jumlah kendaraan yang ada, masih dapat mengatasi transportasi yang berkaitan dengan pendidikan. Mungkin yang perlu dipikirkan kedepannya adalah masalah yang berkaitan dengan sarana pendukung transportasi tersebut, khususnya sarana pendukung transportasi yang berkaitan dengan pendidikan, misalnya dengan dibuatkan zebra cross untuk daerah-daerah tertentu, terutama daerah yang letak sekolahnya berada dipinggir jalan – jalan utama yang padat arus transportasinya, sarana pendukung berikutnya yang juga harus dipikirkan adalah dengan membuat jembatan penyebrangan dan tempat – tempat pemberhentian kendaraan bermotor atau halte bus di daerah yang banyak terdapat institusi pendidikan seperti daerah Tamansari yang juga merupakan daerah yang padat penduduknya. Keterangan : Data diperoleh dari buku Pangkalpinang Dalam Angka tahun 2006(Pangkalpinang in Figures 2006).

Relevansi Model Von Thunen

Tugas Mata Kuliah TEORI LOKASI DAN POLA RUANG

DOSEN PENGAMPU : Dra.BITTA PIGAWATI.,M.T.

Menurut pendapat saya teori yang dikemukakan oleh Von Thunen masih ada yang relevan dengan kondisi saat ini dan ada juga yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini (untuk kasus-kasus tertentu).

1. Teori Von Thunen yang masih relevan dengan kondisi sekarang contohnya adalah :KELANGKAAN persediaan sumber daya lahan di daerah perkotaan memicu berlakunya hukum ekonomi supply and demand semakin langka barang di satu pihak semakin meningkat permintaan di pihak lain akibatnya harga melambung. Demikian yang terjadi terhadap lahan yang ada di daerah perkotaan, dimana nilai sewa atau beli lahan yang letaknya dipusat kegiatan, semakin dekat ke pusat semakin tinggi nilai sewa atau beli lahan tersebut. Kelangkaan lahan di kota-kota besar seperti untuk pertokoan misalnya, banyak sekali toko – toko yang terletak di pusat kota biaya sewa atau beli tanahnya lebih mahal dari biaya sewa atau beli rumah yang jauh dari pusat perkotaan, bahkan harganya selalau naik, mengikuti perkembangan yang terjadi dari tahun ketahunnya. Ini mengindikasikan bahwa teori Von Thunen tentang alokasi lahan untuk kegiatan pertanian juga berlaku di daerah perkotaan. Selain itu teori Von Thunen juga masih berlaku untuk wilayah pertanian yang jauh dari kota dimana akses prasarana jalan yang kurang mendukung dan pasar masih bersifat tradisional. Ini banyak terjadi di wilayah perdesaan daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dimana wilayah pertanian sangat terisolir sehingga teori sewa lokasi Von Thunen ini masih sangat relevan.

2. Teori Von Thunen kurang relevan lagi dengan kondisi sekarang.Berikut adalah Teori Model Von Thunen :Johann Heinrich Von Thunen adalah orang yang pertama kali mengemukakan teori ekonomi lokasi modern. Lahir pada tanggal 24 Juni 1783, Von Thunen mengenyam pendidikan di Gottingen dan sebagian besar menghabiskan waktu hidupnya mengelola daerah pinggiran di Tellow. Pada volume pertama risalatnya, The Isolated State (1826), Von Thunen menjabarkan mengenai ekonomi keruangan (spatial economics), yang menghubungkan teori ini dengan teori sewa (theory of rent). Von Thunen adalah orang pertama yang membuat model analitik dasar dari hubungan antara pasar, produksi, dan jarak. Dalam menjelaskan teorinya ini, Von Thunen menggunakan tanah pertanian sebagai contoh kasusnya. Dia menggambarkan bahwa perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi ke pasar terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah. Gambar model Von Thunen di atas dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, menampilkan “isolated area” yang terdiri dari dataran yang “teratur”, kedua adalah, kondisi yang “telah dimodifikasi” (terdapat sungai yang dapat dilayari). Semua penggunaan tanah pertanian memaksimalkan produktifitasnya masing-masing, dimana dalam kasus ini bergantung pada lokasi dari pasar (pusat kota). Model tersebut, membandingkan hubungan antara biaya produksi, harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya transportasi dan biaya produksi. Aktivitas yang paling produktif seperti berkebun dan produksi susu sapi, atau aktivitas yang memiliki biaya transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar.Model von Thunen mengenai tanah pertanian ini, dibuat sebelum era industrialisasi, yang memiliki asumsi dasar sebagai berikut : Kota terletak di tengah antara “daerah terisolasi” (isolated state). Isolated State dikelilingi oleh hutan belantara. Tanahnya datar. Tidak terdapat sungai dan pegunungan. Kualitas tanah dan iklim tetap. Petani di daerah yang terisolasi ini membawa barangnya ke pasar lewat darat dengan menggunakan gerobak, langsung menuju ke pusat kota. Tidak terdapat jalan penghubung, petani mencari untung sebesar-besarnya.Tentu saja hubungan di atas sangat sulit diterapkan pada keadaan saat ini, dimana prasarana transportasi sudah begitu maju, alat tranportasi sebagai alat angkut hasil pertanian juga banyak dan murah. Penggunaan teknologi modern dalam bidang pertanian menyebabkan teori Von Thunen ini sudah kurang relevan dengan kondisi saat ini. Tetapi bagaimanapun kita harus mengakui bahwa terdapat hubungan yang kuat antara sistem transportasi dengan pola penggunaan tanah pertanian regional. Selain itu ada beberapa kelemahan teori Von Thunen yaitu :

* Merupakan model keseimbangan yang sifatnya parsial, tidak memuat interelasi antara variabel yang telah di khususkan, perhitungan akan susah dilakukan bila terjadi perubahan di masa mendatang;

* Tidak memperhatikan faktor non ekonomis yang mempengaruhi produksi;

* Tidak memperhitungkan perbedaan luas perusahaan pertanian atau luas pasaran yang tak menghasilkan ekonomi berskala produksi atau pasaran yang bersangkutan sehingga dapat merusak zona tata guna lahan.Kelemahan teori Von Thunen terletak pada :

* Keterkaitannya pada waktu

* Keterkaitannya pada wilayah karena :1. Kemajuan di bidang transportasi telah menghemat banyak waktu dan uang (mengurangi resiko busuk komoditi);2. Adanya berbagai bentuk pengawetan, memungkinkan pengiriman jarak jauh tanpa resiko busuk;3. Negara industri mampu membentuk kelompok produksi sehingga tidak terpengaruh pada kota;4. Antara produksi dan konsumsi telah terbentuk usaha bersama menyangkut pemasaran (tidak selalu memanfaatkan jasa kota dalam pemasarannya).

3. Faktor yang bisa mempengaruhi komposisi keruangan selain biaya transport adalah:

a. Prasarana jalan yang baik dan kemudahana akses ke pasar kota menjadi faktor penentu komposisi keruangan;

b. Mekanisme pasar yang terbuka hingga menimbulkan terjadinya supply dan demand, memungkinkan terjadinya economic landscape sebagai faktor penting mempengaruhi komposisi keruangan;

c. Adanya lokasi alternatif juga bisa berpengaruh pada komposisi keruangan;

d. Skala produksi: biaya/unit vs jumlah produk; localisation economies dan urbanisation economies;

e. Lingkungan bisnis: kebijakan pemerintah, lokasi pesaing, dsb;

f. Faktor Kesejarahan.

Kasus yang berkaitan dengan teori lahan Von Thunen Saat ini, rumah toko (ruko) merupakan satu jenis properti yang banyak dibangun dan ditemui di wilayah perkotaan. Pesatnya pembangunan ruko menyebabkan berbagai pihak ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang properti. Dari aspek bisnis, investor membutuhkan informasi tentang biaya investasi, nilai sewa dan harga jual. Dari aspek penerimaan negara, pemerintah perlu mengoptimalkan penerimaan pajak, baik di pusat maupun di daerah, dimana pajak tersebut dapat diperoleh dari pembangunan properti ini. Informasi yang menjembatani kepentingan-kepentingan tersebut di atas antara lain adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). NJOP merupakan nilai pasar yang digunakan oleh pemerintah sebagai dasar pengenaan pajak properti, seperti PBB dan BPHTB. Dalam perkembangan saat ini, NJOP digunakan sebagai nilai acuan untuk berbagai kepentingan (single value for multipurpose) sehingga diperlukan suatu metode penilaian yang tepat. Nilai sewa dapat dijadikan dasar penentuan nilai jual obyek pajak dengan menggunakan metode pendapatan, yaitu salah satu metode penilaian properti yang menghasilkan pendapatan (income producing property) seperti halnya ruko. Pada metode pendapatan diperlukan informasi nilai sewa dan tingkat kapitalisasi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor lokasi dan fisik properti terhadap nilai sewa ruko. Variabel-variabel dari faktor lokasi yang diteliti adalah jarak dari jalur transportasi umum, jarak dari terminal angkutan kota, lebar jalan dan jalan dua arah (Toeri Von Thunen). Variabel-variabel dari faktor fisik yang diteliti adalah luas bangunan, jumlah lantai bangunan dan lebar depan bangunan. Penelitian ini menggunakan 150 sampel ruko di Kelurahan Unggang Hanan Bak Jadoh. Dari hasil penelitian, diperoleh bahwa variabel-variabel faktor lokasi yaitu jarak dari terminal angkutan kota, lebar jalan dan jalan dua arah serta variabel faktor fisik properti yaitu lebar depan bangunan mempengaruhi variasi nilai sewa ruko secara signifikan. Keempat variabel tersebut membentuk model faktor penentu nilai sewa ruko yang secara bersama-sama menjelaskan variasi nilai sewa ruko dengan daya jelas (R2) sebesar 85,2%. Dari analisis tingkat kapitalisasi diperoleh angka tingkat kapitalisasi 3,7%. Penilaian metode pendapatan dengan simulasi diperoleh peningkatan NJOP yang cukup signifikan dibandingkan NJOP dari Kantor Pelayanan PBB.

Permasalahan diatas bisa dijelaskan dengan Model Nilai SewaStruktur perkotaan bisa juga dilihat dari nilai tanah. Didasari pada asumsi yang sama dari model von Thunen mengenai penggunaan lahan pedesaan yang didasari pada nilai lokasi (locational rent). Asumsi dasarnya adalah tawaran tertinggi akan mendapatkan lokasi tanah yang paling tinggi aksesibilitasnya. Penawar tanah tertinggi adalah mereka yang bisa mendapatkan keuntungan maksimum dari lokasi tersebut dan ini berarti sanggup membayar nilai (sewa) tertingginya. Ini menunjukan bahwa pengguna yang memiliki kurva yang paling tajam akan menempatkan posisi pusat kota, dalam hal ini adalah perusahaan perdagangan dan dunia usaha. Sedangkan yang paling datar kurvanya, pemukiman akan menempati bagian tepi. Jadi sebagaimana telah diungkapkan Richard Ratcliff: Secara ringkas kita bisa mengatakan bahwa struktur kota ditentukan oleh nilai uang dari pentingnya kenyamanan.
Pada pusat kota atau KPB nilai sewa tanah untuk perdagangan, industri dan pemukiman merupakan nilai tertinggi dari golongannya. Sedangkan pada kawasan kedua nilai sewa tanah untuk masing-masing jenis penggunaan tanah ini adalah lebih rendah dari di lokasi pusat kota atau KPB. Sedangkan pada bagian ketiga penggunaan tanah perdagangan bukan lagi dominan, dan nilai sewa merupakan yang terendah.Pada pusat kota jenis penggunaan tanah didominasi oleh perdagangan. Demikian seterusnya pada lingkaran kedua dimana dominasi penggunaan tanah oleh industri. Dan pada lingkaran terluar didominasi oleh pemukiman.Jika kondisi perkotaan telah mencapai keadaan seperti dalam asumsi Ullman dan Harris maka akan dijumpai titik-titik temu nilai sewa tertinggi kedua pada seputar kota. Penggambaran dalam tiga dimensi akan sebagai berikut ini.Dalam model struktur kota terdapat dua perbedaan utama. Pertama adalah adanya satu pusat kota (Burgess, Hoyt, dan Mann) dan lainnya Ullman dan Harris menyatakan adanya lebih dari satu pusat kota. Pada model nilai sewa juga dikemukakan adanya satu pusat kota, dimana nilai sewa tertinggi digunakan untuk perdagangan. Namun pada penelitian lebih lanjut kerap ditemukan kenaikan nilai tanah pada lokasi-lokasi selain dari apa yang pada disebut KPB. Nilai tanah yang meninggi kembali ini, walau tidak setinggi di KPB kota disebut Nilai Sewa Tertinggi Kedua (secondary peak value).Nilai Sewa Tertinggi Kedua ini terjadi pada pertemuan jalan utama menuju pusat kota dengan jalan lingkar kota. Pada lokasi ini juga dijumpai dominasi penggunaan tanah perdagangan dan disusul oleh industri kemudian pemukiman. Pada kota yang besar, seperti DKI Jakarta dengan penduduk mencapai 7 juta, dapat dijumpai lebih dari satu Nilai Sewa Tertinggi Kedua, seperti contohnya gambar diatas.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai lahan pertanian dan perkotaan

A. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai lahan pertanian adalah :

1. Letak dari lokasi pertanian, makin dekat lokasi pertanian tersebut dengan sarana transportasi, atau jalan, makin tinggi harga lahan pertanian tersebut, juga berpengaruh terhadap lokasi penduduk yang mendiami daerah pertanian tersebut, makin dekat dengan lokasi penduduk yang mendiami daerah tersebut, maka makin tinggi pula harga dari lahan pertanian tersebut;

2. Tingkat Kesuburan dari lahan pertanian tersebut, makin subur lahan pertanian, maka harga lahan pertanian tersebut makin tinggi dan dimininati oleh orang lain;

3. Drainase atau Jaringan Irigasi yang baik akan mempengaruhi harga dari lahan pertanian tersebut;

4. Lingkungan sekitar lokasi pertanian tersebut, mendukung tidak terhadap keberlangsungan kegiatan pertanian, dalam hal ini lingkungan dari lokasi pertanian tersebut aman tidak terhadap segala macam gangguan yang dapat mempengaruhi kegiatan pertanian.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai lahan perkotaan adalah :

1. Letak lokasi, makin dekat lokasi dengan kegiatan perekonomian, maka makin tinggi harga lahan tersebut;

2. Akses menuju lokasi lahan tersebut, makin sterategis lokasi tersebut, maka makin tinggi harga lahan tersebut;

3. Tingkat Keamanan dan Kenyaman dari lokasi lahan perkotaan tersebut, dapat mempengaruhi harga lahan perkotaan tersebut.

4. Kemudahan pergerakan antar lokasi atau pasar dapat mempengaruhi nilah lahan di perkotaan.

Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Pendidikan

I. PENDAHULUAN

Sekolah rusak, Ujian Negara, dan sertifikasi guru menjadi fokus pembicaraan sekaligus persoalan pendidikan yang paling mengemuka di Jawa Tengah, dan juga di daerah lain. Sarana dan prasarana pendidikan menjadi persoalan yang belum pernah tuntas, misalnya tahun 2006 terjadi sekitar 28.000 ruang kelas sekolah dasar rusak dan dalam 1 (satu) tahun pemerintah hanya mampu membenahi sekitar 12.000 ruang kelas yang rusak. Sehingga apabila tidak ada penambahan ruang kelas yang rusak maka renovasi ruang kelas baru akan tuntas dalam waktu 2,5 tahun; padahal dalam setiap tahun pasti ada ruang kelas yang rusak. Cepat atau lambat kondisi ruang belajar akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar.Ujian Nasional masih menjadi alat ukur utama tingkat penguasaan materi atau hasil belajar. Tingkat kelulusan UN SLTA mencapai 92,3%, sementara SLTP masih menyisakan 11,32% siswa yang tidak lulus. Kegagalan mencapai kelulusan UN ternyata membawa dampak psikologis bagi para siswa sampai menelan korban, demikian juga dengan sekolah yang rusak.Persoalan lain adalah sertifikasi guru dimana setelah puluhan tahun para pendidik eksis, kini para pendidik ini direpotkan dengan adanya tuntutan pencapaian sertifikat pendidik. Sementara yang mempunyai hak mendapatkan sertifikat adalah guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat. Pada tahun 2007 kuota sertifikasi guru dalam jabatan di Jawa Tengah mencapai 24.574 orang walaupun dalam proses sertifikasi masih ditemukan sejumlah berkas palsu dan pendaftar yang nekat meski tidak memenuhi syarat administrasi.

II. TEORI

Sebelum kita bahas masalah tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian atau definisi dari perencanaan, ada beberapa pengertian atau definisi dari perencanaan yaitu:

Seperangkat tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan, khususnya masalah sosial dan ekonomi pada satu periode rencana, yang berorientasi pada horison waktu ‘yang akan datang’, pada jenis dan tingkatan perencanaan tertentu, di masa yang akan datang (Alden, 1974: 1-2),

Cara berpikir tentang masalah-masalah sosial dan ekonomi, yang berorientasi pada waktu yang akan datang, terkonsentrasi pada suatu tujuan dan keputusan bersama, serta berusaha untuk mewujudkan program dan keputusan bersama (Friedmann,1964)

Sebuah proses untuk menentukan tindakan-tindakan bagi masa depan yang diinginkan melalui serangkaian pilihan-pilihan yang logis (Davidoff,1962 in Faludi, 1983: 11)

Sebuah proses untuk mengarahkan aktivitas manusia dan kekuatan alam dengan mengacu pada kondisi masa depan yang diinginkan (Branch, 1998: 2)

Suatu lingkaran proses yang berulang dari serangkaian tahapan-tahapan yang logis (Meise and Volwahsen, 1980: 3-5)Dari sekian banyak definisi atau pengertian tentang perencanaan, dapat disarikan sebagai berikut :

Perencanaan adalah seperangkat prosedur untuk memecahkan permasalahan fisik, sosial, dan ekonomi, yang harus meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut: Seperangkat tindakan Upaya untuk memecahkan masalah Memiliki dimensi waktu dan berorientasi ke masa yang akan datang Suatu proses berputar dengan adanya umpan balik Melibatkan beberapa alternatif untuk mencari pemecahan Menurut H.J Burbach dan L.E Decker (1972:32) perencanaan adalah suatu proses yang kontinyu.

Pengertian proses dalam hal ini adalah mengantisipasi dan menyiapkan berbagai kemungkinan, atau usaha untuk menentukan dan mengontrol kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.Sedangkan definisi perencanaan pendidikan, para ahli memiliki beragam pendapat diantaranya adalah definisi yang dikemukakan oleh Guruge (1972) bahwa: “A simple definition of educational planning is the process of preparing decisions for action in the future in the field of educational development is the function of educational planning.” Guruge mendefinisikan perencanaan pendidikan sebagai suatu proses mempersiapkan kegiatan untuk dilaksanankan di masa depan dalam lingkup pembangunan pendidikan yang merupakan fungsi dari perencanaan pendidikan. Sementara itu Albert Waterston (dalam Don Adams, 1975) berpendapat bahwa: “Functional planning involves the application of a rational system of choices among feasible cources of educational investment and other development action based on a consideration of economic and social cost and benefits.” Dari definisi tersebut didapatkan bahwa perencanaan pendidikan merupakan proses pembangunan dan pengembangan pendidikan dimana dalam menyusun perencanaan digunakan beberapa analisis yang bersifat rasional dan sistematik dari beberapa pertimbangan biaya dan keuntungan dari sisi ekonomi dan social. Sementara itu Y. Dror (Don Adams, 1975) mendefinisikan perencanaan pendidikan sebagai “As the process of preparing a sets of decisions for action in the future for the overall economic and social development of a country.” Dijelaskan bahwa perencanaan pendidikan adalah sebagai suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk tindakan di masa depan untuk mencapai tujuan-tujuan untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu negara.

Manfaat perencanaan,yaitu:

* Adanya kejelasan arah pelaksanaan kegiatan

* Adanya kemudahan mengontrol dan mengeavluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan;

* Terlaksanaanya program kegiatan secara lancar,efeisien dan efektif.

Perencanaan pendidikan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebagaimana tertuang dalam visi pendidikan nasional Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dari definisi atau pengertian tentang perencanaan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa perencanaan tersebut disusun agar dapat menuju kearah yang lebih baik, walaupun demikian tidak semua perencanaan tersebut berjalan sesuai rencana, terkadang sesuatu yang telah kita perhitungkan dengan matang, tapi pada kenyataanya kadang kala terdapat masalah yang diluar perkiraan kita, oleh karena itulah perencanaan tersebut akan terus dievaluasi dalam kurun waktu tertentu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.

III. ANALISA

Jika kita cermati penyebab timbulnya permasalahan pendidikan yang terjadi di Jawa Tengah adalah karena terbatasnya Anggaran yang dialokasi untuk sektor pendidikan itu sendiri, hingga menyebabkan biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah pendidikan menjadi tidak sebanding dengan kenyataan yang ada. Hal ini dapat dilihat dari sekitar 28.000 ruang kelas sekolah dasar yang rusak, tapi pemerintah hanya mampu memperbaikinya sekitar 12.000-an saja per tahunnya. Berkaitan dengan masalah Ujian Nasional menurut pandangan penulis, ada beberapa sebab yang menyebabkan masih banyaknya siswa yang tidak lulus ujian, beberapa diantaranya adalah tidak meratanya kualitas pendidikan dimasing-masing daerah, kompetensi guru yang masih kurang, kurikulum yang sering berubah-ubah. Begitu juga dengan masalah sertifikasi guru yang baru beberapa tahun belakangan ini mulai dilaksanakan, sertifikasi guru masih di fokuskan pada guru-guru yang sudah senior dan sudah lama mengajar, terkadang dari mereka sudah tidak memiliki motivasi lagi untuk mengembangkan kompetensi mereka, karena masalah usia, lagi pula untuk mendapatkan sertifikasi guru tersebut sebagai syarat untuk memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sangat berat, banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui.

Konsep Education For All atau lebih dikenal dengan sebutan EFA berisikan enam tujuan utama yaitu :

1. Memperluas pendidikan untuk anak usia dini. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak sebagai tahap awal proses belajar mengajar, sehingga sebagai bagian dari komponen pendidikan anak usia dini selayaknya menerima pendidikan.

2. Menuntaskan wajib belajar untuk semua (2015)Wajib belajar 9 (sembilan) tahun bagi anak usia sekolah adalah wajib sesuai dengan program yang telah dicanangkan pemerintah. Dengan dituntaskannya wajib belajar untuk semua maka semua anak yang berusia wajib belajar sudah menikmati pendidikan dasar yaitu SD dan SMP.

3. Mengembangkan proses pembelajaran/keahlian untuk orang muda dan dewasaProses pembelajaran/keahlian merupakan upaya untuk memperkaya keahlian dan wawasan diri yang selayaknya dimiliki oleh setiap orang baik yang berusia muda maupun dewasa.

4. Meningkatnya 50% orang dewasa yang melek huruf (2015), khususnya perempuanMasih banyaknya orang dewasa yang belum melek huruf mendorong pemerintah untuk lebih memperluas sasaran pendidikan sehingga diharapkan akan lebih banyak orang yang dapat mengenyam pendidikan dan merasakan manfaatnya termasuk di dalamnya orang dewasa yang belum melek huruf.

5. Menghapuskan kesenjangan genderDengan adanya persamaan gender maka setiap orang baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama dalam pendidikan sehingga pendidikan dapat diterima dan dirasakan manfaatnya bagi semua orang tanpa terkecuali.

6. Meningkatkan mutu pendidikanPendidikan akan lebih bernilai apabila pendidikan yang diterima setiap orang mempunyai kualitas sehingga akan tercipta manusia-manusia pembangunan (sumber daya manusia) yang berkualitas pula. Visi Departemen Pendidikan Nasional lebih menekankan pada pendidikan tranformatif, yang menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak perubahan dari masyarakat berkembang menuju masyarakat maju dimana pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh proses transformatif struktural, yang menandai perubahan dari masyarakat yang potensi kemanusiaannya kurang berkembang menuju masyarakat maju dan berkembang yang mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya secara optimal.

Di era global, transformasi berjalan sangat cepat yang kemudian mengantarkan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) dimana pada masyarakat berbasis pengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dominan.Pendidikan bertugas menyiapkan peserta didik agar dapat mencapai peradaban yang maju melalui perwujudan suasana belajar yang kondusif, aktivitas pembelajaran yang menarik dan mencerahkan, serta proses pendidikan yang kreatif. Keberhasilan pelaksanaan pendidikan tentunya tidak lepas dari perencanaan pendidikan untuk mengatur komponen-komponen dalam pendidikan karena perencanaan pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan semua komponen pendidikan agar dapat terlaksananya proses belajar mengajar yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan dalam mencapai sasaran pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Ada 10 (sepuluh) komponen utama pendidikan yaitu peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, paket instruksi pendidikan, metode pengajaran (dalam proses belajar mengajar), kurikulum pendidikan, alat instruksi dan alat penolong instruksi, fasilitas pendidikan, anggaran pendidikan, dan evaluasi pendidikan. Melihat kasus yang terjadi dimana persoalan-persoalan pendidikan muncul seperti sekolah rusak, ujian nasional yang membebani siswa, dan sertifikasi guru maka akar permasalahan adalah pada perencanaan dimana pada proses perencanaan pendidikan di Jawa Tengah belum ada kesinergisan komponen-komponen dalam pendidikan sehingga diterapkannya suatu kebijakan/aturan/pedoman dalam pendidikan tanpa disertai perencanaan yang jelas. Apabila perencanaan pendidikan di Jawa Tengah dibuat secara sinergis maka kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul apalagi berdampak negatif akan dapat ditangani secara tuntas. Hal ini juga dikarenakan dalam perencanaan pendidikan nasional tidak disertai aturan/petunjuk yang pasti yang dapat menjadi acuan bagi daerah dalam pelaksanaan pendidikan. Di sisi lain lemahnya koordinasi dan keterbatasan-keterbatasan yang ada baik sumber daya manusia maupun sumberdaya yang lain seperti anggaran juga sangat berpengaruh, dan justru karena keterbatasan-keterbatasan itulah maka perlu disusun suatu perencanaan pendidikan yang melibatkan banyak pihak baik pemerintah (eksekutif dan legislative) maupun stake holder. Hal ini karena pendidikan adalah milik semua sehingga setiap orang bertanggung jawab terhadap pendidikan dan dituntut perannya secara nyata (partisipatif) sehingga antara pemerintah dan masyarakat akan saling mendukung dalam membangun pendidikan..

IV. REKOMENDASI

Dari beberapa hal yang terurai di atas maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan memegang peran yang penting dalam suatu organisasi termasuk juga adalah perencanaan pendidikan. Dalam penyusunan perencanaan pendidikan diperlukan keterlibatan pihak-pihak terkait pendidikan untuk melakukan koordinasi baik pemerintah (eksekutif dan legislative) dan stakeholder. Dalam pelaksanaannya perencanaan ini tentunya akan diikuti dengan tahapan berikutnya yaitu pengawasan/pengendalian (monitoring evaluasi) untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya penyimpangan pelaksanaan tidak sesuai perencanaan dan apabila hal tersebut terjadi dapat diantisipasi sedini mungkin.

V. PENUTUP

Pendidikan adalah tanggung jawab bersama sehingga keterlibatan semua pihak dituntut perannya secara nyata dalam membangun dan memajukan dunia pendidikan supaya Visi dan Misi dari Depdiknas dapat terwujud dengan baik dan sukses, tanpa keterlibatan semua pihak, mustahil pendidikan di negara ini dapat bersaing dengan negara lain.

Teori Lokasi dan Pola Ruang

TEORI LOKASI ALFRED WEBER DAN AUGUST LOSCH

TUGAS MATA KULIAH: TEORI LOKASI DAN POLA RUANG

DOSEN: Dra. BITTA PIGAWATI., MT.

Oleh: INDRA JAYA, S.Kom.

MTPWK DIKNAS 2B

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

TAHUN 2007

1. Teori Lokasi Alfred Weber Alfred Weber seorang ahli ekonomi Jerman menulis buku berjudul Uber den Standort der Industrien pada tahun 1909. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1929 oleh C.J. Friedrich dengan judul Alfred Weber’s Theory of Location of Industries. Jika Von Thunen menganalisis lokasi kegiatan pertanian maka Weber menganalisis lokasi kegiatan industri. Weber mendasarkan teorinya bahwa pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum.

Dalam perumusan modelnya, Weber titik tolak pada asumsi bahwa:

1. Bidang bahasan adalah suatu wilayah yang terisolasi, iklim yang homogen, konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat, dan kondisi pasar adalah persaingan sempurna.

2. Beberapa sumber daya alam seperti air, pasir, dan batu-bata tersedia dimana-mana (ubiquitous) dalam jumlah yang memadai.

3. Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara sporadis dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas.

4. Tenaga kerja tidak ubiquitous (tidak menyebar secara merata) tetapi berkelompok pada beberapa lokasi dan dengan mobilitas yang terbatas.Berdasarkan asumsi itu, ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu :

1. Biaya transportasi;

2. Upah tenaga kerja;

3. Dampak aglomerasi dan deaglomerasi.

Biaya transportasi dan biaya upah tenaga kerja merupakan faktor umum yang secara fundamental menentukan pola lokasi dalam kerangka geografis. Dampak aglomerasi atau deaglomerasi merupakan kekuatan lokal yang berpengaruh menciptakan konsentrasi atau pemencaran berbagai kegiatan dalam ruang. Biaya transportasi merupakan faktor pertama dalam menentukan lokasi sedangkan kedua faktor lainnya merupakan faktor yang memodifikasi lokasi. Biaya transportasi bertambah secara proporsional dengan jarak. Jadi titik terendah biaya transportasi adalah titik yang menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi. Biaya transportasi dipengaruhi oleh berat lokasional.Berat Lokasional adalah berat total semua barang berupa input yang harus diangkut ketempat produksi untuk menghasilkan satu satuan output ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar.Berat total itu terdiri dari satu satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut ke lokasi pabrik seperti bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan penolong, dan lain-lain yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan output .Weber memberi contoh tiga arah seperti berikut. Konsep ini dinyatakan sebagai segitiga lokasi atau locational triangle seperti terlihat pada gambar berikut :

a

b

c

X

T

M2

M1

Z

Y

P

Keterangan :T = Lokasi optimum dan = Sumber bahan bakuP = PasarX,Y,Z = Bobot input dan outputa,b,c = Jarak lokasi input dan Output

Pada gambar diatas dimisalkan ada dua sumber bahan baku yang lokasinya berbeda, yaitu dan dan pasar berada pada arah yang lain. Dengan demikian, terdapat tiga arah lokasi sehingga ongkos angkut termurah adalah pada pertemuan dari tiga arah tersebut. Dari gambar tersebut terlihat bahwa lokasi optimum adalah titik T.Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM) sebagai berikut. IM = Apabila IM > 1, perusahaan akan berlokasi dekat bahan baku dan apabila IM <1, perusahaan akan berlokasi dekat pasar.Biaya tenaga kerja adalah faktor kedua yang dapat mempengaruhi lokasi industri. Hal ini dapat terjadi apabila penghematan biaya tenaga kerja per unit produksi lebih besar daripada tambahan biaya transportasi per unit produksi yang dapat mendorong berpindahnya lokasi ke dekat sumber tenaga kerja.Penggabungan kedua jenis biaya tersebut melahirkan pendekatan biaya terendah dari kedua unsur tersebut, seperti terlihat pada gambar berikut.

1

2

3

T

isodapan

T = lokasi biaya transportasi terendahL = lokasi biaya tenaga kerja terendah

Titik T adalah tempat dengan biaya transportasi minimum (minimum transportation cost) dan diluar titik T dapat dibuat titik-titik dengan tingkat biaya transportasi yang sama penyimpangannya dari titik T. Apabila titik-titik tersebut dihubungkan satu dengan yang lain, akan diperoleh sebuah kurva tertutup (closed curve) merupakan lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane). Akan diperoleh berbagai tingkatan lingkaran sesuai dengan tingginya ongkos diatas T. Makin tinggi ongkos, makin dekat menggambarkan berbagai lokasi industri yang memberikan tingkat biaya transportasi yang sama. Perbedaan isodopan yang satu dengan lainnya menunjukkan pertambahan biaya akibat pertambahan jarak dari titik T dengan tingkat pertambahan yang sama pada masing-masing isodapan. Dalam gambar diatas, diluar titik T terdapat isodapan 1,2, dan 3. Titik L adalah lokasi pasar tenaga kerja di dalam isodapan 2 dan perusahaan akan melihat apakah tetap berada pada titik T atau pindah ke lokasi di mana terdapat pasar buruh dengan upah yang lebih rendah. Diluar faktor biaya transportasi dan upah buruh masih ada faktor lain yang mempengaruhi biaya perusahaan, yaitu aglomerasi (terkonsentrasinya berbagai industri pada satu lokasi). Aglomerasi memberikan keuntungan antara lain berupa : fasilitas seperti tenaga listrik, air, perbengkelan, pemondokan, dan lain-lain. Sering kali pada lokasi seperti ini sudah terdapat pula tenaga kerja yang terlatih. Fasilitas ini akan menurunkan biaya produksi/kebutuhan modal karena kalau terpisah jauh semua fasilitas harus dibangun sendiri.

Aglomerasi Versi Weber

Aglomerasi adalah pengelompokkan beberapa perusahaan dalam suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus industri. Aglomerasi juga bisa dibagi mencadi dua macam, yaitu aglomerasi primer di mana perusahaan yang baru muncul tidak ada hubungannya dengan perusahaan lama, dan aglomerasi sekunder jika perusahaan yang baru beroperasi adalah perusahaan yang memiliki tujuan untuk memberi pelayanan pada perusahaan yang lama.Beberapa sebab yang memicu terjadinya aglomerasi :1. Tenaga kerja tersedia banyak dan banyak yang memiliki kemampuan dan keahlian yang lebih baik dibanding di luar daerah tersebut.2. Suatu perusahaan menjadi daya tarik bagi perusahaan lain.3. Berkembangnya suatu perusahaan dari kecil menjadi besar, sehingga menimbulkan perusahaan lain untuk menunjang perusahaan yang membesar tersebut.4. Perpindahan suatu kegiatan produksi dari satu tempat ke beberapa tempat lain.5. Perusahaan lain mendekati sumber bahan untuk aktifitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah ada untuk saling menunjang satu sama lain.

Deglomerasi

Deglomerasi adalah suatu kecenderungan perusahaan untuk memilih lokasi usaha yang terpisah dari kelompok lokasi perusahaan lain.Beberapa sebab yang memicu terjadinya deglomerasi :1. Harga buruh yang semakin meningkat di daerah padat industri2. Penyempitan luas tanah yang dapat digunakan karena sudah banyak dipakai untuk perumahan dan kantor pemerintah.3. Harga tanah yang semakin tinggi di daerah yang telah padat.4. Sarana dan Prasarana di daerah lain semakin baik namun harga tanah dan upah buruh masih rendah.

2. Teori Lokasi August Losch

* Apabila Weber melihat persoalan dari sisi produksi maka Losch melihat persoalan dari sisi permintaan pasar. Weber walaupun tidak menyatakan secara tegas, membuat asumsi bahwa semua barang yang diproduksi akan laku terjual.

* Losch mengatakan bahwa lokasi penjual berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat dijaringnya.

* Makin jauh dari pasar, konsumen enggan membeli karena biaya transportasi (semakin jauh tempat penjualan) semakin mahal.

* Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar.

* Losch menyarankan lokasi produksi ditempatkan di dekat pasar (baca: Centre Business District).Kontribusi utama Losch adalah memperkenalkan potensi permintaan (demand) sebagai faktor penting dalam lokasi industri, Kedua, kritik terhadap pendahulunya yang selalu berorientasi pada biaya terkecil; padahal yang biasanya dilakukan oleh industri adalah memaksimalkan keuntungan (profit– revenue maximation) dengan berbagai asumsi, Losch mengemukakan bagaimana economic landscape terjadi, yang merupakan keseimbangan (equillibrium) antara supply dan demand.

Proses terjadinya wilayah pasar Efek Perubahan Harga Teori August Losch

August Losch merupakan oarang pertama yang mengembangkan teori lokasi dengan segi permintaan sebagai variabel utama. Teori ini bertujuan untuk menemukan pola lokasi industri sehingga diketemukan keseimbangan spasial antar lokasi. Losch berpendapat bahwa dalam lokasi industri yang tampak tak teratur dapat diketemukan pola keberaturan.Teori Losch beasumsi suatu daerah yang homogen dengan distribusi sumber bahan mentah dan sarana angkutan yang merata serta selera konsumen yang sama. Kegiatan ekonomi yang terdapat di daerah tersebut merupakan pertanian berskala kecil yang pada dasarnya ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan petani masing-masing. Perdagangan baru terjadi bila terdapat kelebihan produksi. Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :1. Setiap lokasi industri harus menjamin keuntungan maksimum bagi penjual maupun pembeli.2. Terdapat cukup banyak usaha pertanian dengan penyebaran cukup merata sehingga seluruh permintaan yang ada dapat dilayani.3. Terdapat free entry dan tak ada petani yang memperoleh super-normal propfit sehingga tak ada rangsangan bagi petani dari luar untuk masuk dan menjual barang yang sama di daerah tersebut.4. Daerah penawaran adalah sedemikian hingga memungkinkan petani yang ada untuk mencapai besar optimum, dan5. Konsumen bersikap indifferent terhadap penjual manapun dan satu-satunya pertimbangan untuk membeli adalah harga yang rendah.Pada teori Losch, wilayah pasar bisa berubah ketika terjadi inflasi (perubahan) harga. Hal ini disebabkan karena produsen tidak mampu memenuhi permintaan yang karena jaraknya jauh akan mengakibatkan biaya transportasi naik sehingga harga jualnya juga naik, karena tingginya harga jual maka pembelian makin berkurang. Hal ini mendorong petani lain melakukan proses produksi yang sama untuk melayani permintaan yang belum terpenuhi. Dengan makin banyaknya petani yang menawarkan produk yang sama, maka akan terjadi dua keadaan :1. seluruh daerah akan terlayani,2. persaingan antar petani penjual akan semakin tajam dan saling berebut pembeli. Losch berpendapat bahwa akhirnya luas daerah pasar masing-masing petani penjual akan mengecil dan dalam keseimbangannya akan terbentuk segienam beraturan. Bentuk ini dipilih karena menggambarkan daerah penjualan terbesar yang masih dapat dikuasai setiap penjual dan berjarak minimum dari tempat lokasi kegiatan produksi yang bersangkutan. Keseimbangan yang dicapai dalam teori Losch berasumsi bahwa harga hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, oleh karenanya keseimbangan akan terganggu bila salah seorang penjual menaikkan harga jualnya. Keputusan ini mengakibatkan tidak hanya pasar menyempit karena konsumen tak mampu membeli tapi sebagian pasar akan hilang dan direbut oleh penjual yang berdekatan. Untuk memperluas jangkauan pasar dapat dilakukan dengan menjual barang yang berbeda jenis dari yang sudah ditawarkan.

Margin lines (delivered price = cost of production + cost of transportation

Boundary of market areas

Cost of price

Distance

A

C

BAGAIMANA BIAYA TERKECIL DAPAT DICAPAI – MEKANISME PERHITUNGAN RASIO HASIL – BAHAN ATAU INDEKS BAHAN

a. bahan baku yang bersifat ubiquitous à ada di mana-mana à bagaimana preferensi lokasinnya

b. indeks bahan baku (material index – MI)

MI = berat bahan baku lokal/berat produk

l MII > 1, berarti berat bahan mentah > dari berat produk, lokasi berorientasi bahan mentah

l MII < 1, berat bahan mentah < dari berat produk, berarti lokasi akan berorientasi ke pasar akhir

l MI = 1, berarti berat bahan mentah = berat produk, lokasi dapat dimana-mana

3. Contoh Studi Kasus dari teori lokasi industri Alfred Weber dan August Losch

1. Studi Kasus Teori Lokasi Industri Alfred Weber

Dalam kasus teori lokasi industri yang dikemukan oleh Alfred Weber ini, dapat kami ambil salah satu contoh kasus yang berkaitan dengan teori lokasi industri Alfred Weber, yaitu dalam hal penentuan lokasi industri pengolahan tepung tapioka, dimana lokasi industri yang ideal agar diperoleh keuntungan yang maksimum adalah dengan membuat pabrik yang tidak berada jauh dari sentra-sentra produksi bahan baku dari pembuatan tepung tapioka tersebut, hal ini dapat dijumpai di daerah Lampung, tepatnya di daerah Terbanggi Besar Lampung Tengah, disana bahan baku pembuatan tepung tapioka dapat diperoleh dari penduduk-penduduk yang ada disekitar pabrik tersebut, dan pemasaran yang dilakukan adalah ke propinsi lampung yang jaraknya kurang lebih 50 Km dari lokasi pabrik. Untuk melakukan export pun jaraknya hanya 60 Km dari pabrik yaitu menuju pelabuhan Panjang, jadi dari segi transportasi tidak terlalu tinggi, dari segi tenaga kerja pun masih bisa dijangkau, hingga keuntungan maksimum yang di inginkan pun akan terpenuhi.

2. Studi Kasus Teori Lokasi Industri August Losch

Dalam studi kasus teori lokasi industri Agust Losch ini dapat diambil contoh pendirian lokasi pabrik kendaraan bermotor yang terdapat di Indonesia, dimana pendirian pabrik kendaraan bermotor ini dinilai tepat berdasarkan teori August Losch karena lokasi pabrik tersebut didirikan dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada konsumennya, hingga proses distribusi dari kendaraan bermotor tersebut akan lebih cepat dilakukan dibanding harus diproduksi di daerah asalnya yaitu Jepang, dari segi biaya produksi pun akan lebih murah karena beberapa komponen atau suku cadang kendaraan bermotor tersebut, bahan bakunya ada yang tersedia di Indonesia, begitu juga dengan tenaga kerja, dimana ongkos tenaga kerja di Indonesia masih lebih murah dibanding negara asal kendaraan bermotor tersebut, hingga harapan agar keuntungan maksimal yang diinginkan akan terpenuhi.

Tugas 3 Pak Parfi (Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Pendidikan)

TUGAS

Nama : Indra Jaya, S.Kom.

NIM :L4D007100

Mata Kuliah : Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Pendidikan

Dosen Pengampu : Ir. Parfi Khadiyanto, MSL

Program Studi : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota (MPWK)

UNIVERSITAS DIPONEGORO (UNDIP)

Cari data tentang : Jumlah Penduduk; Struktur penduduk dalam pendidikan; jumlah sekolah à temukan proporsi antara penduduk dengan jumlah sekolah, break down sesuai dengan tingkat usia sekolah; kondisi ekonomi ( bisa dilihat dari penghasilan, kondisi rumah, kelas keluarga ( sejahtera/non sejahtera), dan kesehatan penduduk, khususnya yang berhubungan dengan penyakit akibat kondisi udara dan air.Buat suatu resume à analisis/interperetasi sederhana, hubungan antara ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

KOTA KUDUS

LUAS WILAYAH

Secara administratif Kabupaten Kudus terbagi menjadi 9 Kecamatan dan 123 Desa serta 9 Kelurahan.

Luas wilayah Kabupaten Kudus tercatat sebesar 42.516 hektar atau sekitar 1,31 persen dari luas Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Dawe yaitu 8.584 Ha (20,19 persen), sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Kota seluas 1,047 Ha (2,46 persen) dari luas Kabupaten Kudus.Luas wilayah tersebut terdiri dari 20,580 Ha (48,41 persen) merupakan lahan sawah dan 21.936 Ha (51,59 persen) adalah bukan lahan sawah. Jika dilihat menurut penggunaannya, Kabupaten Kudus terdiri atas lahan sawah dengan pengairan teknis seluas 3.887 Ha (18,89 persen) dan sisanya berpengairan ½ teknis sederhana tadah hujan dan lainnya.

Sedangkan bukan lahan sawah yang digunakan untuk bangunan dan halaman sekitar seluas 10.181 Ha (46,41 persen) dari lahan bukan sawah Kabupaten Kudus).

JUMLAH PENDUDUK

Jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2006 tercatat sebesar 742.040 jiwa, terdiri atas : Laki – laki : 367.143 jiwa (49,48 %) Perempuan : 374.897 jiwa (50,52 %).

Jika dilhat dari penyebarannya, maka kecamatan yang paling tinggi prosentase jumlah penduduknya adalah : Kecamatan Jekulo yakni sebesar 12,70 persen dari jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Kudus, Kecamatan Dawe 12,54 persen dan Kecamatan Jati 12,41 persen. Sedangkan kecamatan yang terkecil jumlah penduduknya adalah : Kecamatan Bae sebesar 8,10 persen.

Bila dilihat dari perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuannya, maka diperoleh rasio jenis kelamin pada tahun 2006 sebesar 97,93 yang berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98 penduduk laki-laki.Kepadatan Penduduk dalam kurun waktu lima tahun (2002-2006) cenderung mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan jumlah penduduk. Pada tahun 2006 tercatat sebesar 1.745 jiwa setiap satu kilo meter persegi. Jumlah rumah tangga sebanyak 181.169 dan diperoleh rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebesar 4,10. Angka ini sama bila dibandingkan dengan angka tahun sebelumnya.

Jumlah kelahiran selama tahun 2006 sebanyak 9.237 bayi, terdiri dari 4.719 bayi laki-laki dan 4.518 bayi perempuan. Pada tahun 2006 ini diperoleh angka kelahiran kasar (CBR) sebesar 12,499 yang artinya dari 1000 orang penduduk terdapat kelahiran sebanyak 12 orang/bayi. Sedangkan jumlah kematian selama tahun 2006 sebanyak 4.940 jiwa terdiri dari 2.521 laki-laki dan 2.419 perempuan.

Banyaknya Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
00-04 32257 33669 55926
05-09 37746 33709 71455
10-14 36854 33222 70076
15-19 37832 39863 77695
20-24 35316 38391 73707
25-29 32435 35110 67545
30-34 30431 31287 61718
35-39 25859 27569 53428
40-44 26865 26023 52888
45-49 20749 17735 38484
50-54 15286 14772 30058
55-59 10775 12500 23275
60-64 9517 12142 21659
65-69 6968 9088 16056
70-74 5516 5916 11432
75+ 2737 3901 6638
Jumlah 367143 374897 742040

Banyaknya Penduduk (10 Tahun keatas) menurut Pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Kudus

1. AK/PT : 17.878 Orang

2. SMA : 95.969 Orang

3. SMP : 140.842 Orang

4. SD : 221.702 Orang

5. Tak/Belum tamat SD : 85.278 Orang

6. Tidak Sekolah : 42.990 Orang

7. Jumlah : 604.659 Orang

Banyaknya Sekolah, Guru dan Murid untuk TingkatTK, SD/MI, SLTP, SLTA di Kabupaten Kudus Tahun 2006

Jumlah Sekolah :

8. TK : 175 Buah

9. SD/MI : 608 Buah

10. SLTP : 101 Buah

11. SLTA : 44 Buah

Jumlah Guru :

1. TK : 498 Orang

2. SD/MI : 6099 Orang

3. SLTP : 2790 Orang

4. SLTA : 1178 Orang

Jumlah Siswa/Murid :

1. TK : 8608 Orang

2. SD/MI : 88338 Orang

3. SLTP : 40439 Orang

4. SLTA : 19453 Orang

Banyaknya Universitas/Perguruan Tinggi, Dosen dan Mahasiswa Pada Tahun Akademik 2005/2006

Jumlah Universitas/Perguruan Tinggi: 8 Buah

Jumlah Dosen : 346 Dosen

Jumlah Mahasiswa : 9.246 ( tahun 2006)

KESEHATAN

Jumlah Rumah Sakit Umum Pemerintah : 2 Buah

Jumlah Rumah Sakit Swasta : 2 Buah

Jumlah Tempat Tidur di RSU Pemerintah : 233 Buah

Jumlah Tempat Tidur di RSU Swasta : 487 Buah

Jumlah Puskesmas : 19 Buah ( tahun 2006 )

Apotik : 46 Buah

Toko Obat : 18 Buah

Jenis Penderita Penyakit tertentu menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus tahun 2006 banyak menyerang penduduk adalah penyakit diare berdarah sebanyak 499 orang.

PDRB

PDRB perkapita Kabupaten Kudus untuk tahun 2005 sebesar 26,958 juta rupiah. Dari data yang ada dapat diambil suatu analisis sederhana sebagai berikut :

1. Kota Kudus dengan jumlah penduduk sebanyak 742.040 jiwa (tahun 2006). Adapun proporsi antara penduduk dengan jumlah sekolah adalah : = 742.040 jiwa : 936 sekolah =793 jiwa/sekolah;

2. Jika proporsi antara penduduk dengan jumlah sekolah dilihat berdasarkan tingkat usia sekolah (5-19 tahun), maka didapatkan proporsinya sbb := 219.226 jiwa :936 sekolah = 234 jiwa/sekolah; ini berarti bahwa setiap 1 buah sekolah dapat menampung siswa sebanyak 234 Orang;

3. Jika diasumsikan siswa/murid yang dapat ditampung per kelasnya adalah antara 36-40 orang ( Khusus SD s/d SMA) untuk TK daya tampung perkelasnya adalah 15-20 Orang, jika diasumsikan bahwa jumlah kelas yang dapat ditampung pada tingkat TK adalah sebanyak 2 kelas, SD adalah sebanyak 1 kelas, SMP sebanyak 15 kelas, SMA sebanyak 15 kelas, dengan demikian dapat ditentukan proporsi sekolah yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat yaitu sebagai berikut :

a. TK = 8608: 17 = 506 sekolah, jadi jika dibandingkan dengan jumlah TK yang ada sekarang yang berjumlah 498 sekolah, maka jumlah yang ada tersebut sudah cukup ideal untuk menampung siswa yang tersebut;

b. SD = 88338 : (6X38) =88338 : 228 = 387 sekolah, jika dibandingkan dengan jumlah SD yang ada sekarang yang berjumlah 608 buah, maka jumlah sekolah yang ada tersebut terlalu banyak untuk menampung siswa yang ada sekarang;

c. SMP = 40439 : (38X15) = 40439 :570 = 71 sekolah, jika dibandingkan dengan jumlah SMP yang ada sekarang yang berjumlah 101 buah, maka jumlah sekolah yang ada tersebut terlalu banyak untuk menampung siswa yang ada sekarang;

d. SMA =19453 : (38X15) = 19453 :570 = 34 sekolah, jika dibandingkan dengan jumlah SMP yang ada sekarang yang berjumlah 44 buah, maka jumlah sekolah yang ada tersebut terlalu banyak untuk menampung siswa yang ada sekarang;

4. Proporsi antara jumlah penduduk dengan RSU/Puskesmas adalah := 742.040 jiwa : 23 buah = 32.262 jiwa/buah;

5. Perbandingan banyaknya penyakit yang menyerang penduduk dilihat dari jumlah penduduk dibagi dengan banyaknya penyakit adalah := 742.040 jiwa : 499 jiwa = 1487 jiwa ( 0,2 persen), dengan prosentase sekitar 0,2 persen tersebut dapat dikategorikan bahwa secara keseluruhan penduduk di Kota Kudus adalah sehat.

6. Pendapatan Perkapita Penduduk sebesar 26,958 juta rupiah pertahun, ini berarti rata-rata pendapatan penduduk perkapita perbulannya adalah =2.246.500 rupiah, dengan demikian bisa dikategorikan bahwa penduduk di kabupaten kudus adalah keluarga yang sejahtera;

7. Proporsi antara penduduk yang sekolah dengan yang tidak sekolah adalah : 42.990 Orang : 742.040 Orang X 100 % = 5,8 % adalah penduduk yang tidak sekolah;

Dari point-point analisis sederhana tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dengan terdapat suatu hubungan yang selaras antara pendidikan, ekonomi dan kesehatan, dimana berdasarkan data diatas dapat kita lihat bahwa dengan pendapatan perkapita perbulannya sekitar 2, 24 juta dan dengan jumlah penduduk yang tidak sekolah sekitar 5,8 persen, penduduk yang menderita sakit hanya sekitar 0,2 persen saja.