Penyediaan Sarana Pendidikan Berbasis Potensi Lokal

Judul artikel : Perikanan di Daerah Istimewa Yogyakarta

(Potensi Besar dengan Sejarah Singkat)Tema : Potensi lokal di daerah DIYSumber berita : http://www.kompas.co.id
1. Review Artikel

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2001 memiliki penduduk berjumlah 3.327.954 jiwa, dilihat dari penduduk yang berumur 10 tahun keatas , sebagian besar penduduk DIY bermata pencaharian sebagai petani. Meskipun DIY memiliki pantai yang cukup panjang yaitu 110 kilometer, tapi masyarakat yang berusaha di bidang perikanan hanya 0,55 persen dari jumlah penduduk DIY, tidak sampai satu persen. Sejarah kenelayanan masyarakat Yogyakarta berawal dari sekelompok nelayan di Baron dan Sadeng yang dikenal dengan pelabuhan pendaratan ikannya. Pelabuhan Sadeng adalah pelabuhan terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penangkapan ikan di DIY dimulai pada pertengan tahun 1980. Salah satu tonggak sejarahnya adalah pembangunan pelabuhan pendaratan ikan tahun 1991, walaupun begitu minat masyarakat terhadap penangkapan ikan masih naik turun.Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah setempat untuk mendorong masyarakat menerjuni sektor baru tersebut, hingga dalam lima tahun terakhir sejak tahun 1997 sampai tahun 2002, perkembangannya cukup bagus, hal ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya perahu motor dari tahun ketahun, jika pada tahun 1997 jumlah perahu motor sebanyak 139 buah, maka pada tahun 2001 jumlahnya sudah mencapai 506 buah. Pantai di DIY meliputi tiga kabupaten, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulonprogo, daerah Kulonprogo adalah daerah yang perkembangan nelayannya paling tinggi dibanding daerah lain, sementara Gunungkidul perkembangannya relatif lebih rendah. Hasil tangkapan per satu upaya di Pantai Selatan Yogyakarta cenderung menurun, hal ini disebabkan oleh nelayan yang hanya menangkap ikan hanya pada jalur-jalur utama atau sekitar empat mil laut. Pemanfaatan potensi perikanan di DIY memang belum optimal, padahal sumber daya ini bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan perekonomian daerah. Baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap tingkat pemanfaatan masih rendah.Jika dilihat dari potensi yang ada, tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan dikolam, perairan umum dan sawah masih dapat ditingkatkan. Tingkat pemanfaatan kolam 75,35 persen dari potensi yang ada, sedangkan untuk sawah (baik sebagai penyelang, mina padi, maupun palawija) baru 2,58 persen. Untuk sawah tambak dari potensi 240 hektar baru dimanfaatkan 1,6 persen. Apalagi perikanan tangkap di laut yang bisa dikatakan masih baru bagi nelayan Yogyakarta. Total produksi tahun 2000 hanya 1.427 ton atau setara dengan Rp 8,1 miliar. Produksi tersebut turun menjadi 1.339,2 ton tahun 2001. Artinya, baru 33,26 persen dimanfaatkan. Potensi lestari perikanan di Samudera Hindia diperkirakan 4.290 ton.Permintaan produk ikan oleh masyarakat DIY sendiri terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat perekonomiannya. Berdasarkan data penduduk DIY, konsumsi ikan per kapita per tahun meningkat rata-rata 5,45 persen. Tahun 2006 diperkirakan konsumsi ikan penduduk 11,43 kg/kapita/tahun, sementara targetnya adalah 18 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan ikan tahun 2006, diperlukan 39,63 ton setara ikan segar. Padahal, produksi ikan hanya 7.840,5 ton. Jadi, tingkat pemenuhannya kurang dari seperempatnya. Potensi perikanan budidaya maupun tangkap yang demikian besar belum bisa dimanfaatkan, hal ini disebabkan karena nelayan-nelayan tersebut kurang pengalaman, laut bagi mereka adalah dunia asing untuk diarungi, ditambah lagi masyarakat disana sangat percaya terhadap mitos tentang Ratu Kidul, pada hari-hari tertentu nelayan enggan terjun ke laut, hingga tak heran bila rata-rata trip untuk melaut per bulan hanya 20 hari.Yang jelas, kendala pertama dari nelayan tersebut adalah dari segi sumber daya manusia itu sendiri. Nelayan yang ada disana bukan nelayan asli, tapi petani yang terpaksa menjadi nelayan karena kesempatan untuk bekerja di darat tidak ada lagi. Mereka kembali kelaut hingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Beberapa orang mengatakan pembangunan sarana pelabuhan kurang mendukung karena alam atau pantai selatan itu berbeda dengan pantai utara, dimana pada pantai selatan itu bentuknya seperti jurang, pada musim-musim tertentu ombaknya sangat besar.Macam macam jenis alat tangkap dan daerah tangkapan adalah : 1. Jaring Insang, umumnya dioperasikan pada radius 5-8 kilometer dari pantai dengan kedalaman lebih kurang 60 meter.2. Jaring Insang dasar (bottom gillnet) digunakan di daerah penangkapan ikan dasar laut yang berbatu karang dengan kedalaman lebih kurang 25-60 meter.3. Jaring Krendet digunakan pada cekungan batu karang yang terkena pasang surut.4. Daerah penangkapan ikan pelagis, ada di daerah lepas atau Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).Untuk budidaya perikanan, hanya jadi usaha sampingan bagi masyarakat Yogyakarta, hingga usaha tersebut cenderung dikelola tidak serius. Harapan perikanan DIY berkembang cukup besar. Walau sejarah kebahariannya pendek, kenyataan menunjukkan mereka terjun menjadi nelayan di DIY hampir 70 persen berusia 20-70 tahun dengan tingkat pendidikan minimal sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

2. Kajian Teori

A. Teori Cluster

Kluster dalam bahasa sehari-hari berarti kelompok, ciri utama kluster menurut Schumitz dan Nadvi (1999) adalah perusahaan atau industri yang terkelompok dalam ruang yang sama. Kluster industri berarti pengelompokan di sebuah wilayah tertentu dari berbagai perusahaan dalam sektor yang sama. Menurut Sakuramoto dan Porter (2004) kluster adalah kelompok perusahaan dan lembaga terkait yang berdekatan secara geografis, memiliki kemiripan yang mendorong kompetensi serta juga bersifat saling melengkapi. Kedekatan produk dan perusahaan-perusahaan ini pada tahap awal akan memacu kompetensi dan kemudian mendorong adanya spesialisasi dan peningkatan kualitas serta mendorong inovasi dalam pasar.Kluster industri biasanya diadakan dengan maksud bahwa kluster industri tersebut merupakan bangunan yang dekat antara satu dengan lain dan hal itu kemudian mampu menciptakan kemudahan dalam menciptakan peluang untuk bekerjasama (Van Dijk dan Sverrisson, 2003).Nilai sebuah kluster industri dapat dicirikan dengan konsep 3 C yaitu (Humprey and Schmits, 1992) : 1. Orientasi Konsumen : Kluster perlu berorientasi pada permintaan konsumen, dengan mengetahui dan mempelajari karakteristik permintaan, pelaku dalam kluster akan melakukan produksi sesuai kualitas dan jumlah yang diminati.2. Efek Kumulatif : Kluster merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menyatukan usaha-usaha yang sejenis supaya bersinergi, sehingga adanya kelompok usaha yang terkelola akan memberikan keuntungan kepada setiap anggota kelompok usaha tersebut. Keuntungan itu bisa berupa penekanan biaya produksi, pemasaran, penggunaan secara bersama tenaga kerja serta mempercepat inovasi.3. Efek Kolektif : Secara sederhana, efisiensi kolektif dapat dipahami sehingga penghematan biaya-biaya eksternal yang timbul dalam suatu aktivitas industri yang dapat dirasakan oleh sebuah perusahaan industri. Kluster industri sebagai potensi ekonomi daerah akan membangkitkan ekonomi daerah dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.Kluster industri sering disebut mesin dari ekonomi lokal, dalam arti kluster sebagai lokomotif untuk mendorong perkembangan sistem industri di daerahnya melalui fokus pada dukungan terhadap jenis-jenis industri setempat yang potensial sebagai basis ekspor keluar daerah. Program berbasis kluster mempunyai ciri (Core-Best, 2006) :· Market Driven. Selalu berfokus pada upaya mempertemukan sisi penawaran dengan permintaan.· Inclusive. Mencakup tidak hanya perusahaan berskala kecil menengah saja tetapi juga perusahaan besar dan lembaga pendukung.· Collaborative. Selalu menekankan solusi kolaboratif pada isu-isu daerah dari seluruh Stakeholder.· Strategic. Membantu Stakeholder menciptakan visi strategis daerah yang menyangkut ekonomi· Volume-Creating. Mengupayakan penciptaan atau pengikatan nilai tambah daerah.

B. Potensi

Potensi adalah kemampuan atau peluang untuk mengakses sumber daya – sumber daya yang ada, atau kemampuan untuk meningkatkan sumber daya yang ada hingga dapat dimanfaatkan secara optimal dan efisien demi meningkatkan daya saing dan kesejahteraan bagi wilayah atau daerah tersebut.

C. Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Selanjutnya, kebijakan publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang di jalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama kebijakan publik dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang merupakan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak. Menyeimbangkan peran negara yang mempunyai kewajiban menyediakan pelayan publik dengan hak untuk menarik pajak dan retribusi; dan pada sisi lain menyeimbangkan berbagai kelompok dalam masyarakat dengan berbagai kepentingan serta mencapai amanat konstitusi.Terminologi kebijakan publik menunjuk pada serangkaian peralatan pelaksanaan yang lebih luas dari peraturan perundang-undangan, mencakup juga aspek anggaran dan struktur pelaksana. Siklus kebijakan publik sendiri bisa dikaitkan dengan pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Bagaimana keterlibatan publik dalam setiap tahapan kebijakan bisa menjadi ukuran tentang tingkat kepatuhan negara kepada amanat rakyat yang berdaulat atasnya. Dapatkah publik mengetahui apa yang menjadi agenda kebijakan, yakni serangkaian persoalan yang ingin diselesaikan dan prioritasnya, dapatkah publik memberi masukan yang berpengaruh terhadap isi kebijakan publik yang akan dilahirkan. Begitu juga pada tahap pelaksanaan, dapatkah publik mengawasi penyimpangan pelaksanaan, juga apakah tersedia mekanisme kontrol publik, yakni proses yang memungkinkan keberatan publik atas suatu kebijakan dibicarakan dan berpengaruh secara signifikan. Kebijakan publik menunjuk pada keinginan penguasa atau pemerintah yang idealnya dalam masyarakat demokratis merupakan cerminan pendapat umum (opini publik). Untuk mewujudkan keinginan tersebut dan menjadikan kebijakan tersebut efektif, maka diperlukan sejumlah hal: pertama, adanya perangkat hukum berupa peraturan perundang-undangan sehingga dapat diketahui publik apa yang telah diputuskan; kedua, kebijakan ini juga harus jelas struktur pelaksana dan pembiayaannya; ketiga, diperlukan adanya kontrol publik, yakni mekanisme yang memungkinkan publik mengetahui apakah kebijakan ini dalam pelaksanaannya mengalami penyimpangan atau tidak. Dalam masyarakat autoriter kebijakan publik adalah keinginan penguasa semata, sehingga penjabaran di atas tidak berjalan. Tetapi dalam masyarakat demokratis, yang kerap menjadi persoalan adalah bagaimana menyerap opini publik dan membangun suatu kebijakan yang mendapat dukungan publik. Kemampuan para pemimpin politik untuk berkomunikasi dengan masyarakat untuk menampung keinginan mereka adalah satu hal, tetapi sama pentingnya adalah kemampuan para pemimpin untuk menjelaskan pada masyarakat kenapa suatu keinginan tidak bisa dipenuhi. Adalah naif untuk mengharapkan bahwa ada pemerintahan yang bisa memuaskan seluruh masyarakat setiap saat, tetapi adalah otoriter suatu pemerintahan yang tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi dan berusaha mengkomunikasikan kebijakan yang berjalan maupun yang akan dijalankannya. dalam pendekatan yang lain kebijakan publik dapat dipahami dengan cara memilah dua konsepsi besarnya yakni kebijakan dan publik. terminologi kebijakan dapat diartikan sebagai pilihan tindakan diantara sejumlah alternatif yang tersedia. artinya kebijakan merupakan hasil menimbang untuk selanjutnya memilih yang terbaik dari pilihan-pilihan yang ada. dalam konteks makro hal ini kemudian diangkat dalam porsi pengambilan keputusan. Charles Lindblom adalah akademisi yang menyatakan bahwa kebijakan berkaitan erat dengan pengambilan keputusan. Karena pada hakikatnya sama-sama memilih diantara opsi yang tersedia. Sedangkan terminologi publik memperlihatkan keluasan yang luar biasa untuk didefinisikan. akan tetapi dalam hal ini setidaknya kita bisa mengatakan bahwa publik berkaitan erat dengan state, market dan civil society. merekalah yang kemudian menjadi aktor dalam arena publik. sehingga publik dapat dipahami sebagai sebuah ruang dimensi yang menampakan interaksi antar ketiga aktor tersebut.

3. Analisa

Yogyakarta dengan jumlah penduduk sekitar 3.327.954 jiwa, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani, hanya sebagian kecil saja dari penduduk DIY yang berprofesi sebagai nelayan, yaitu kurang dari 1 persen atau tepatnya 0,5 persen, padahal potensi perikanan yang terdapat didaerah Yogyakarta sangat besar, sumber daya perikanan ini jika dapat dimanfaatkan dengan optimal, maka akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi daerah DIY, baik potensi perikanan budidaya maupun perikanan tangkap, masyarakat DIY menjadikan profesi sebagai nelayan hanya keterpaksaan saja, karena kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan atau bekerja di darat sudah tidak ada lagi, hal ini menyebabkan mereka kurang memahami tentang profesi nelayan yang mereka jalani, dan masih perlu beradaptasi, jadi kendala utama nya adalah sumber daya manusia itu sendiri. Nelayan yang ada DIY kebanyakan hanya memanfaatkan daerah laut pada jalur pertama atau kawasan 4 mil laut, padahal diluar jalur tersebut banyak sekali potensi perikanan yang dapat dihasilkan, hingga tidak heran jika produksi perikanan di daerah itu tidak maksimal, bahkan cendrung menurun, dimana produktivitas penangkapan per upaya (trip) yang menurun sejak lima tahun terakhir dari 53,2 kilogram pada tahun 1996, turun menjadi 14,7 kilogram per trip pada tahun 2001.Jika dilihat dari permintaan produk ikan oleh masyarakat DIY sendiri terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat perekonomian masyarakatnya. Berdasarkan data penduduk DIY, konsumsi ikan perkapita per tahun meningkat rata-rata 5,45 persen. Pada tahun 2006 diperkirakan konsumsi ikan penduduk 11,43 kg/kapita/tahun, sementara targetnya adalah 18 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan ikan tahun 2006, diperlukan 39,63 ton setara ikan segar. Padahal, produksi ikan hanya 7.840,5 ton, jadi tingkat pemenuhannya kurang dari seperempatnya. Untuk itulah kiranya perlu dilakukan upaya-upaya dari pemerintah daerah untuk mendorong peningkatan produksi perikanan dari potensi yang ada, mungkin ada beberapa hal yang menjadi wajib yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi perikanan yang ada, beberapa hal tersebut antara lain adalah :

1. Permodalan dan Investasi

Dalam hal permodalan dan investasi Pemda harus mempermudah dalam pengurusan surat-surat ijin terutama bagi nelayan kecil, agar mereka mampu mengakses sumber-sumber permodalan. Selain itu adanya kerjasama yang baik antar Pemda, sumber permodalan baik perbankan maupun non bank dengan nelayan. Dengan adanya bantuan modal ini diharapkan nelayan tidak hanya dapat menangkap ikan di daerah pantai pada jalur pertama saja, tapi dapat diperluas kedaerah lepas pantai dan samudera, juga dengan bantuan modal yang ada, mereka dapat mengembangkan budidaya perikanan.

2. Peningkatan Kemampuan SDM

Peningkatan kemampuan SDM merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan nelayan dalam meningkatkan volume hasil tangkapan mereka, sehingga dalam pengelolaannya merekan adan lebih profesional tidak hanya sekedar menjadikannya sebagai usaha sampingan harus. Dalam hal ini ada 2 fokus pembinaan yang bisa dilakukan.a. pembinaan kepada pengusaha perikanan dalam manajerial dasar usahab. pelatihan teknis kepada operator atau pekerja dilapangan.Melalui fokus pembinaan ini harapannya akan muncul nelayan-nelayan baru yang lebih profesional dalam mengelola kegiatan usahanya dan di kawasan budidaya perikanan akan terdapat pekerja atau pengusaha atau nelayan yang ahli dibidang budidaya perikanan, sehingga mereka dapat mengelolanya dengan baik dan benar.

3. Penerapan Teknologi

Menerapkan teknologi-teknologi yang berkairan dengan perikanan, seperti pengetahuan tentang navigasi, hingga dapat mengatahui daerah yang memiliki potensi ikan paling banyak. Meningkatkan mesin-mesin kapal dengan teknologi terbaru agar daya jangkau lokasi tangkapan ikan, tidak hanya berada pada jalur pertama saja.

4. Membangun Akses Pasar dan Informasi Pasar

Promosi merupakan suatu bentuk yang efektif untuk menyebarluaskan informasi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan sarana-sarana promosi berupa pameran-pameran tingkat nasional maupun internasional. Kerjasama antar pemerintah daerah juga harus terus diusahakan, melalui kunjungan bisnis ke daerah lain yang berpotensi untuk dijadikan mitra. Tujuan dari usaha tersebut salah satunya adalah agar nelayan dapat meningkatkan nilai jual dari hasil perikan mereka, yang ujung-ujungnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup para nelayan itu sendiri.

5. Penciptaan Harga yang Kompetitif dan memiliki daya saing Bagi Nelayan

Penciptaan Harga yang kompetitif maksudnya adalah, jangan sampai nelayan yang sudah bersusah payah menangkap ikan, tapi hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti tengkulak-tengkulak yang sering menetapkan harga sekehendak hati mereka, hal itu tidak akan meningkatkan kesejahteraan apapun bagi nelayan.

6. Mengembangkan usaha-usaha pengelolaan hasil perikanan

Ini dimaksudkan agar hasil tangkapan ikan yang diperoleh tidak langsung dijual dalam bentuk mentah semua, tapi juga diolah menjadi produk-produk hasil perikanan, untuk meningkatkan nilai jual dari produk perikanan tersebut, karena ikan hasil olahan nilai jualnya akan meningkat dibanding hanya dijual dalam bentuk mentah.

4. Usulan Sarana Pendidikan

Guna menumbuh kembangkan serta memajukan potensi perikanan yang ada di DIY, kiranya perlu di bangun sekolah dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan yang berbasis perikanan dan kelautan, dengan konsentrasi jurusan Nautika Perikanan Laut, Budidaya Perikanan, dan Budidaya Hasil Perikanan. Bahkan bila perlu dibangun juga sarana pendidikan yang lebih tinggi lagi seperti Politeknik Perikanan misalnya, sehingga bisa menghasilkan tenaga kerja yang menguasai dan mengerti bagaimana mengembangkan dan mengelola potensi perikanan yang ada secara lebih professional dan kompetitif.Dukungan pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mewujudkan suatu lembaga pendidikan yang bisa menggali potensi daerah dalam hal ini potensi perikanan.

Lampiran Artikel Perikanan di Daerah Istimewa Yogyakarta
Potensi Besar dengan Sejarah Singkat
Menangkap dan memasarkan ikan laut baru saja dikenal masyarakat pantai selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mempunyai panjang pantai 110 kilometer. Sejarah kenelayanan masyarakat di kawasan itu berawal dari sekelompok nelayan di Baron yang kemudian berkembang di Ngrenehan dan Sadeng, yang terakhir kini terkenal dengan pelabuhan pendaratan ikannya.Semua tempat itu berada di Kabupaten Gunungkidul. Pelabuhan Sadeng relatif kecil dibandingkan dengan pelabuhan lain di kawasan pantai utara Jawa Tengah, namun menjadi yang terbesar bagi DIY. Sadeng-lah lambang kebangkitan kebaharian masyarakat Yogyakarta, yang sebelumnya lebih menekuni pertanian padi dan tanaman pangan lainnya.Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY Ir H Koesnan Maryono, penangkapan ikan di DIY dimulai pertengahan 1980-an. Salah satu tonggak sejarahnya adalah pembangunan pelabuhan pendaratan ikan tahun 1991 di Sadeng. Walau pelabuhan sudah dibangun, minat masyarakat masih naik turun. Mereka memerlukan penyesuaian dan bukti-bukti kalau menangkap ikan itu menguntungkan.“Berbagai upaya dan program terus dilakukan untuk mendorong masyarakat menerjuni sektor baru itu, bantuan kapal dan alat tangkap ikan diberikan, tetapi ya tidak berkembang. Namun, dalam lima tahun terakhir ini, sejak 1997 sampai 2002 yang lalu, perkembangannya cukup bagus,” katanya.Dari segi perkembangan jumlah perahu motor, pada tahun 1997 masih berjumlah 139 perahu, 1998 berjumlah 176 perahu, tahun 1999 berjumlah 310 perahu, tahun 2000 berjumlah 330 perahu, dan 2001 sebanyak 506 perahu.Penduduk DIY tahun 2001 berjumlah 3.327.954 jiwa. Dilihat dari penduduk yang berumur 10 tahun ke atas, sebagian besar penduduk DIY bermata pencarian sebagai petani. Jumlah penduduk DIY yang berusaha di bidang perikanan-meliputi nelayan, petani ikan dan pedagang ikan, serta pengolah-hanya 18.237 orang atau 0,55 dari penduduk DIY.Pantai di DIY meliputi tiga kabupaten, Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo. Kalau jumlah nelayannya saja, di DIY meningkat 21,19 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun 2001 menjadi 1.327 orang.Perkembangan jumlah nelayan di Kulonprogo relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainya. Penyebabnya, usaha penangkapan ikan di wilayah ini mulai digalakkan lagi setelah beberapa lama perkembangannya lambat. Di Gunungkidul perkembangan jumlah nelayan relatif lebih rendah karena usaha ini telah berkembang beberapa tahun lalu.Sayang, hasil tangkapan per satu upaya di Pantai Selatan Yogyakarta cenderung menurun. Usaha yang hanya terbatas di daerah pantai-pada jalur pertama atau sekitar empat mil laut-dan memanfaatkan sumber daya ikan demersal tampaknya perlu diperluas ke daerah lepas pantai dan samudera serta mulai dikembangkan pemanfaatan sumber daya lain seperti ikan pelagis kecil, pelagis besar, serta cumi- cumi.Belum optimalPemanfaatan potensi perikanan di DIY memang belum optimal. Padahal, sumber daya ini bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan perekonomian daerah. Baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap, tingkat pemanfaatan masih sangat rendah.Dari tabel terlihat tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan di kolam, perairan umum dan sawah, yang masih dapat ditingkatkan. Tingkat pemanfaatan kolam 75,35 persen dari potensi yang ada, sedangkan untuk sawah (baik sebagai penyelang, mina padi, maupun palawija) baru 2,58 persen. Untuk sawah tambak dari potensi 240 hektar baru dimanfaatkan 1,6 persen.Apalagi perikanan tangkap di laut yang bisa dikatakan masih baru bagi nelayan Yogyakarta. Total produksi tahun 2000 hanya 1.427 ton atau setara dengan Rp 8,1 miliar. Produksi tersebut turun menjadi 1.339,2 ton tahun 2001. Artinya, baru 33,26 persen dimanfaatkan. Potensi lestari perikanan di Samudera Hindia diperkirakan 4.290 ton.Namun, menurut Koesnan, kini disinyalir ada kejenuhan penangkapan ikan di jalur pertama atau kawasan empat mil laut yang merupakan kewenangan kabupaten. “Soalnya armada yang ada sekarang kebanyakan bermotor tempel yang beroperasi di jalur pertama,” katanya.Perkembangan armada itu beberapa tahun terakhir memang cukup pesat. Tahun 1997 hanya 145 kapal, tahun 2001 sudah 506 armada. Akibatnya, produksi ikan agak menurun.Lalu ia menunjukkan angka produktivitas penangkapan per upaya (trip) yang menurun sejak lima tahun terakhir. Hasil rata-rata produksi per trip berkurang dari 53,2 kilogram tahun 1996 menjadi hanya 14,7 kilogram per trip tahun 2001.Kecenderungan ini perlu diwaspadai di tahun-tahun mendatang untuk memberikan kesempatan sumber daya ikan di jalur pertama pulih kembali agar menjamin tingkat pendapatan para nelayan.

Permintaan meningkat

Permintaan produk ikan oleh masyarakat DIY sendiri terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat perekonomiannya. Berdasarkan data penduduk DIY, konsumsi ikan per kapita per tahun meningkat rata-rata 5,45 persen.Tahun 2006 diperkirakan konsumsi ikan penduduk 11,43 kg/kapita/tahun, sementara targetnya adalah 18 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan ikan tahun 2006, diperlukan 39,63 ton setara ikan segar. Padahal, produksi ikan hanya 7.840,5 ton. Jadi, tingkat pemenuhannya kurang dari seperempatnya.Mengapa potensi perikanan budidaya maupun tangkap yang demikian besar belum bisa dimanfaatkan? Secara makro bisa dikatakan bahwa masyarakat Yogyakarta memang jauh dari tradisi menangkap ikan. Mereka belum pengalaman. Laut bagi mereka adalah dunia yang asing untuk diarungi. Mereka lebih menganggap laut sebagai rumah angker milik Ratu Kidul yang harus dihormati dan diselameti.Dalam sebuah diskusi, Chozin dari Community of Aquatic Resource and Empowerment (Care), mengatakan, mungkin ada baiknya Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sebagai keturunan Raja Mataram memberikan semacam saran atau imbauan agar nelayan dipersilakan mencari ikan di Laut Selatan. Imbauan itu diyakini bisa menggiatkan nelayan karena, menurut mitos, Ratu Kidul hanya takluk kepada Raja MataramSampai sekarang, mitos Ratu Kidul itu masih berlaku. Setiap Selasa dan Jumat, apalagi dengan hari pasaran kliwon, para nelayan umumnya enggan terjun ke laut. Demikian juga halnya bila memasuki bulan Jawa seperti Sura. Mereka akan membatasi diri. Tak heran bila rata-rata trip untuk melaut per bulan hanya 20 hari.Yang jelas, kata Koesnan, kendala pertama memang dari segi sumber daya manusianya. Nelayan Yogyakarta bukan nelayan asli. Mereka adalah petani yang terpaksa menjadi nelayan karena opportunity untuk bekerja di darat tak ada lagi. Mereka lari ke laut sehingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan itu.Beberapa orang mengatakan pembangunan sarana pelabuhan kurang mendukung karena alam atau pantai selatan itu lain dengan pantai utara. “Laut di pantai selatan itu langsung turun seperti jurang. Pada musim tertentu, ada angin tenggara yang berdampak ombak sangat besar. Sebetulnya hal itu bisa diatasi dengan membuat pelabuhan yang memiliki pemecah gelombang,” jelas Koesnan.Selain itu, secara alamiah memang ada yang disebut musim ikan. Ini sangat penting guna menentukan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dan jenis alat tangkapnya. Jaring insang, misalnya, umumnya dioperasikan pada radius 5-8 kilometer dari pantai dengan kedalaman lebih kurang 60 meter. Sasaran utama jaring insang adalah ikan-ikan pelagis kecil (layur, tenggiri, tongkol, dan lemuru).Jaring insang dasar (bottom gillnet) digunakan di daerah penangkapan ikan dasar laut yang berbatu karang dengan kedalaman lebih kurang 25-60 meter dengan sasaran ikan-ikan demersal (kakap dan kerapu).Daerah penangkapan jaring krendet adalah pada cekungan batu karang yang terkena pasang surut laut. Sasaran utama jaring krendet adalah udang karang atau udang barong.Daerah penangkapan ikan pelagis seperti tuna, tongkol, tenggiri, dan jenis ikan cucut (hiu, pari) ada di laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Meskipun potensinya besar, tidak semua nelayan mampu memanfaatkan sumber daya ikan di laut lepas ini karena keterbatasan peralatan, apalagi nelayan DIY. Hanya nelayan yang menggunakan kapal dengan kekuatan mesin besar atau lebih dari 25 PK mampu beroperasi hingga laut lepas.

Usaha sampingan

Untuk perikanan budidaya, hambatannya lain lagi. Pertama, usaha perikanan budidaya di Yogyakarta 80 persen merupakan usaha sampingan. Skala usaha mereka umumnya di bawah 500 meter persegi. Padahal, menurut penelitian, agar bisa untung, minimal perlu 4.000 meter persegi. Kecenderungan yang terjadi justru inefisiensi karena usaha kecil yang hanya sampingan cenderung dikelola tidak serius. Misalnya memberi makan ikan seadanya dan adopsi teknologinya rendah.Untuk mengembangkan perikanan budidaya, Koesnan belakangan memberlakukan kawasan sentra pengembangan produksi yang betul-betul mempunyai modal potensial dari segi kesediaan lahan dan masyarakatnya.“Ada 16 KSPP (Kawasan Sentra Pengembangan Perikanan) di DIY yang ditetapkan. Harapannya, dengan adanya kawasan itu ada konsentrasi usaha, pengaturan produksi, pasar, pembinaan teknis, penyediaan sarana produksi, dan pengembangan kemitraan,” katanya.Minggir, misalnya, ada KSPP dengan unggulan udang galah, Ngemplak unggulannya nila. Total ada lima unggulan yang ditetapkan termasuk lele, gurami, dan ikan hias.Harapan perikanan DIY berkembang cukup besar. Walau sejarah kebahariannya pendek, kenyataan menunjukkan mereka yang terjun menjadi nelayan di DIY hampir 70 persen berusia 20-40 tahun dengan tingkat pendidikan minimal sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Inilah yang akan menjadi kekuatan ekonomi baru.(BAMBANG SIGAP SUMANTRI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: