Tugas 1 Pak Mungin (Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Pendidikan)

I. PENDAHULUAN

Kota Pangkalpinang merupakan salah satu daerah otonomi yang letaknya di Pulau Bangka. Daerah ini berada pada garis 106°4’ sampai dengan 106°7’ Bujur Timur dan garis 2°4’ sampai dengan 2°10’ Lintang Selatan dengan luas daerah seluruhnya 89,40 Km2 (Berdasarkan PP No. 12 Tahun 1984). Daerah ini terletak pada bagian timur Pulau Bangka dengan batas-batas sebagai berikut :

    –  Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Selindung Lama Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

    –  Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Dul, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

    –  Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

    Kota Pangkalpinang merupakan daerah yang strategis ditinjau dari sudut geografisnya, dalam kaitannya dengan pembangunan nasional dan pembangunan daerah di propinsi baru. Hal ini dikarenakan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota propinsi mempunyai fungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang meliputi:

    1. Pusat pemerintahan dan pemukiman penduduk
    2. Pusat perdagangan dan industri
    3. Pusat pelayanan sosial (pendidikan dan kesehatan) serta distribusi barang dan jasa
    4. Pusat administrasi penambangan timah
    5. Pusat lembaga keuangan

    Sebagai pusat pengembangan wilayah Bangka Belitung dalam perkembangannya selama beberapa tahapan pembangunan, Kota Pangkalpinang telah mengalami beberapa kemajuan yang cukup pesat sehingga untuk mengatasi kebutuhan akan tanah perkotaan, wilayah seluas 31,70 Km2 telah berkembang menjadi 5 (lima) kecamatan seiring dengan otonomi daerah, sehingga secara keseluruhan bagian dari wilayah Kota Pangkalpinang terdiri dari 35 kelurahan.

    Penduduk

    Jumlah penduduk Kota Pangkalpinang tahun 2006 berdasarkan data BPS Kota Pangkalpinang adalah sebanyak 150.668 jiwa. Luas Wilayah Kota Pangkalpinang yang relatif kecil yaitu 89,40 Km2 mengalami laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dari tahun 2000 sampai 2006. Hal ini menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di Kota Pangkalpinang berada pada peringkat tertinggi dibandingkan daerah-daerah otonomi lainnya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari seluruh kecamatan, kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Tamansari, sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Gerunggang.

    II. KONDISI SARANA PRASARANA PENDIDIKAN DI KOTA PANGKALPINANG

    Kemajuan pendidikan di Kota Pangkalpinang Propinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup menggembirakan. Pelaksanaan program pembangunan pendidikan di daerah ini telah menyebabkan makin berkembangnya suasana belajar mengajar di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Dengan dilaksanakannya program pembangunan, pelayanan pendidikan telah dapat menjangkau daerah terpencil, daerah dengan penduduk miskin, dan daerah jarang dengan dibangunnya sekolah di daerah tersebut. Secara rinci, pembangunan di setiap jenjang pendidikan tidak sama, oleh karena itu, akan dijelaskan tentang keadaan tingkat SD, tingkat SMP serta tingkat SM.

    1. Tingkat SD (SD dan MI)

    Berdasarkan data yang ada pada tahun 2005/2006, jumlah SD dan MI sebanyak 86 buah, siswa baru tingkat I sebanyak 3.148 siswa, siswa seluruhnya sebanyak 18.185 siswa, dan lulusan sebanyak 2.638 siswa. Untuk menampung sejumlah siswa tersebut, tersedia ruang kelas sebanyak 691, dengan rincian 513 ruang memiliki kondisi baik, 129 ruang kondisi rusak ringan, dan 49 ruang dengan kondisi rusak berat dengan jumlah kelas sebesar 621 sehingga terdapat shift sebesar 1 kali. Sedangkan untuk guru yaitu sebanyak 668 (69,73 persen) adalah layak mengajar, 264 orang (27,56 persen) semi layak, dan 26 orang (2,71 persen) tidak layak mengajar. Untuk menunjang kegiatan belajar di SD dan MI terdapat fasilitas perpustakaan sebanyak 31 ruang, lapangan olahraga sebanyak 30 dan ruang UKS sebanyak ruang (Tabel.2.1)

    Pada tabel tersebut digambarkan pula bahwa SD lebih besar jika dibandingkan dengan MI, hal ini terlihat di semua data yang ada. Jumlah SD sebesar 80, dengan jumlah siswa sebanyak 17.145 dan ruang kelas sebesar 655 dan ditangani oleh guru sebanyak 893 Selain itu, terdapat pula perpustakaan sebesar 29 lapangan olahraga sebesar 27 dan ruang UKS sebesar 0 ruang.

    Bila dilihat menurut status sekolah, jumlah sekolah negeri lebih banyak di SD jika dibandingkan dengan MI. Hal ini disebabkan karena MI lebih banyak dibangun oleh yayasan swasta sedangkan SD lebih banyak dibangun oleh pemerintah melalui program bantuan pembangunan sekolah dasar yang lebih dikenal dengan SD. Begitu juga dengan sekolah swastanya juga lebih banyak di SD dibandingkan dengan MI.

    Tabel 2.1 Data Pokok SD dan MI Tahun 2005/2006

    NO KOMPONEN SD MI SD + MI
    1 Sekolah 80 6 86
    2 Siswa Baru Tk.I 2.925 223 3.148
    3 Siswa 17.145 1.040 18.185
    4 Lulusan 2.526 112 2.638
    5 Ruang Kelas 655 36 691
    a. Baik 485 28 513
    b. Rusak Ringan 127 2 129
    c. Rusak Berat 43 6 49
    6 Kelas 582 39 621
    7 Guru 893 65 958
    a. Layak mengajar 619 49 668
    b. Semi layak 255 9 264
    c. Tidak layak 19 7 26
    8 Fasilitas 56 5 61
    a. Perpustakaan 29 2 31
    b. Lapangan Olahraga 27 3 30
    c. UKS

    2. Tingkat SMP (SMP dan MTs)

    Berdasarkan data yang ada pada tahun 2005/2006, jumlah SMP dan MTs sebanyak 24 siswa baru tingkat I sebesar 2.845, siswa seluruhnya sebesar 8.620 dan lulusan sebesar 2.692 Untuk menampung sejumlah siswa tersebut, tersedia ruang kelas sebanyak 289 dengan rincian 247 memiliki kondisi baik, 37 dengan kondisi rusak ringan dan 5 kondisi rusak berat dengan jumlah kelas sebesar 236.

    Guru yang mengajar di SMP dan MTs sebanyak 517 diantaranya yaitu sebanyak 373 (72,15 persen) adalah layak mengajar, sebanyak 54 orang (10,45 persen) semi layak dan 90 orang (17,41 persen) tidak layak mengajar. Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di SMP dan MTs terdapat fasilitas perpustakaan sebesar 24, lapangan olahraga sebesar 21, ruang UKS sebesar 14, dan laboratorium sebesar 20 (Tabel 2.2).

    Pada tabel tersebut digambarkan pula bahwa jumlah SMP lebih besar jika dibandingkan dengan MTs, hal ini terlihat dari semua data yang ada. Jumlah SMP sebesar 21 dengan jumlah siswa sebesar 2.534 dengan ruang kelas sebesar 256 dan ditangani oleh guru sebanyak 438 orang. Selain itu, terdapat pula perpustakaan sebesar 21 ruang, lapangan olahraga sebesar 18, ruang UKS sebesar 12 ruang dan ruang laboratorium sebesar 18 ruang.

    Sedangkan jumlah MTs Negeri dan Swasta sebanyak 3 sekolah yaitu 1 MTs negeri dan 2 MTs swasta, dan untuk SMP juga lebih banyak di swasta dengan jumlah 11 sekolah dibandingkan dengan SMP negeri dengan jumlah 10 sekolah. Tapi untuk jumlah siswa lebih banyak di SMP negeri daripada di SMP swasta dengan perbandingan 1 berbanding 2 dengan jumlah 5.487 siswa di SMP negeri dan 2.337 siswa di SMP swasta. Hal itu juga berlaku di MTs dimana jumlah siswa MTs negeri lebih banyak dibandingkan dengan diswasta walaupun jumlah sekolah lebih banyak diswasta.

    Tabel 2.2 Data Pokok SMP dan MTs Tahun 2005/2006

    NO KOMPONEN SMP MTs SMP + MTs
    1. Sekolah 21 3 24
    2. Siswa Baru Tk.I 2.564 281 2.845
    3. Siswa 7.824 796 8.620
    4. Lulusan 2.477 215 2.692
    5. Ruang Kelas 256 33 289
    a. Baik 220 27 247
    b. Rusak Ringan 31 6 37
    c. Rusak Berat 5 5
    6. Kelas 211 25 236
    7. Guru 438 79 517
    a. Layak Mengajar 321 52 373
    b. Semi layak 45 9 54
    c. Tidak Layak 72 18 90
    8. Fasilitas
    a. Perpustakaan 21 3 24
    b.Lapangan olahraga 18 3 21
    c. UKS 12 2 14
    d. Laboratorium 18 2

    2

    3. Tingkat SM (SM dan MA)

    Berdasarkan data yang ada pada tahun 2005/2006, jumlah SMA, SMK dan MA sebanyak 24, siswa baru tingkat I sebesar 3.252, siswa seluruhnya sebesar 10.367 dan lulusan sebesar 2.716 Untuk menampung sejumlah siswa tersebut, tersedia ruang kelas sebanyak 286, dengan rincian 263 kondisi baik, 23 kondisi rusak ringan dan 0 kondisi rusak berat dengan jumlah kelas sebesar 290 sehingga terdapat shift 1 kali. Guru yang mengajar di SMA, SMK dan MA sebanyak 780, diantaranya yaitu sebanyak 491 (62,95 persen) adalah layak mengajar, 215 orang (27,57 persen) semi layak, dan 74 orang (9,49 persen) adalah tidak layak mengajar.

    Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di SMA, SMK dan MA terdapat fasilitas perpustakaan sebesar 24, lapangan olahraga sebesar 21, ruang UKS sebesar 14, laboratorium sebesar 20, keterampilan sebesar 4, BP sebesar 10, serba guna sebesar 2, bengkel sebesar 1, dan ruang praktik sebesar 4 (Tabel 2.3).

    Bila dibandingkan antara siswa SMA dengan SMK yaitu 5.154 dan 4.439  ternyata jumlah siswa SMA lebih besar. Hal ini disebabkan jumlah SMU lebih besar dibandingkan dengan jumlah SMK. Sesuai dengan banyaknya siswa yang ada, lulusan SMA juga lebih banyak jika dibandingkan dengan lulusan SMK. Dari ketiga jenis sekolah yang ada, jumlah ruang kelas yang paling besar memiliki kondisi yang baik adalah MA, sedangkan ruang kelas yang memiliki kondisi yang rusak berat untuk di tidak ada lagi, hanya masih ada ruang kelas yang rusak ringan terdapat di SMA dan SMK, selayaknya jika pada jenis sekolah tersebut diprioritaskan untuk memperoleh bantuan rehabilitasi untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

    Selanjutnya, jika dilihat guru yang layak mengajar, ternyata paling banyak di SMA yaitu sebesar 65,54 persen yang terkecil di SMK yaitu sebesar 60,38 persen. Bila dilihat fasilitas sekolah yang seharusnya ada, ternyata tidak semua fasilitas yang ada dimiliki oleh SMA, MA atau SMK. Perpustakaan, lapangan olahraga, UKS terdapat di tiga jenis sekolah, sedangkan bengkel dan ruang praktik hanya di SMK. Kondisi sekolah yang tidak memiliki fasilitas tersebut hendaknya menjadi prioritas dalam pembangunan fasilitas tesebut.

    Tabel 2.3 Data Pokok SMA, MA dan SMK Kota Pangkalpinang Tahun 2005/2006

    NO KOMPONEN SMA MA SMK SM + MA
    1. Sekolah 11 3 10 24
    2. Siswa Baru Tk.I 1.613 163 1.476 3.252
    3. Siswa 5.154 774 4.439 10.367
    4. Lulusan 1.471 204 1.041 2.716
    5. Ruang Kelas 137 22 127 286
    a. Baik 122 22 119 263
    b. Rusak Ringan 15 8 23
    c. Rusak Berat
    6. Kelas 141 22 127 290
    7. Guru 325 89 366 780
    a. Layak mengajar 213 57 221 491
    b. Semi layak 85 16 114 215
    c. Tidak Layak 27 16 31 74
    8. Fasilitas
    a. Perpustakaan 9 3 9 21
    b. Lapangan Olahraga 9 3 7 19
    c. UKS 9 2 9 20
    d. Laboratorium 9 3 10 22
    e. Keterampilan 2 3 4
    f. BP 4 6 10
    g. Serba guna 1 1 2
    h. Bengkel 1 1
    i.  Ruang Praktik 4 4

    III. ANALISISA SARANA PRASARANA PENDIDIKAN DI KOTA PANGKALPINANG

    A. Pemerataan Pendidikan

    Berdasarkan APK yang ada, ternyata APK tertinggi terdapat di tingkat SM+MA yaitu 110,44 persen dan yang terendah di tingkat SMP+MTs yaitu 100,14 persen. Tingginya APK adalah akibat banyaknya siswa usia di luar usia sekolah yang berada di jenjang tersebut. Bila dilihat per jenis kelamin, ternyata perbedaan gender masih terlihat di tingkat SD+MI, sedangkan ditingkat SMP+MTs perbedaan itu hampir tidak ada itu. Untuk tingkat SM+MA APK perempuan melebihi APK Laki-laki, itu berarti pendidikan berdasarkan gender di Kota Pangkalpinang sudah merata . Bila dilihat dari desa dan kota, APK yang lebih tinggi terdapat di SM+MA yaitu 110,44 persen dan terendah terdapat di SMP+MTs yaitu 100,14 persen.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tingkat SM+MA mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan tingkat  SMP+MTs dan tingkat   SD+MI. Di daerah ini anak yang bersekolah di tingkat SM+MA paling banyak dibandingkan dengan tingkat lainnya.

    Tabel  3.1 Indikator Pemerataan Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun  2005/2006

    No

    INDIKATOR SD+MI
    SMP+MTs

    SM+MA

    Lainnya
    1 APK 106,29 100,14 110,44
    a.  Laki-laki 111,58 100,28 53,30
    b.  Perempuan 101,04 100,00 56,80
    c.  Kota 106,29 100,14 110,44
    d.  Desa
    APM 87,10 77,28 78,05
    3 Perbandingan Antar Jenjang 3,58 0,92
    4 Rasio
    a.  Siswa / Sekolah 211 359 427
    b.  Siswa / Kelas 29 37 38
    c.  Siswa / Guru 19 16 14
    d.  Kelas / R. Kelas 0,90 0,82 0,95
    e.  Kelas / Guru 0,65 0,45 0,37
    5 Angka Melanjutkan 110,27 70,76
    6 Tingkat Pelayanan Sekolah 165 66 52
    7 Kepadatan Penduduk 191 96 105

    APM yang tertinggi terdapat di tingkat SD+MI yaitu 87,10 persen dan yang terendah di tingkat SMP+MTs yaitu 71,28 persen. Berdasarkan APM dapat diketahui bahwa pada tingkat SD+MI Anak usia sekolah yang bersekolah lebih banyak dibandingkan dengan tingkat lainnya.

    Bila sekolah antar jenjang dibandingkan, maka makin tinggi sekolah makin kurang jumlah sekolah tersebut, hal itu ditunjukkan dari jumlah tingkat SMP berbanding tingkat SD sebesar 3,58 Dan tingkat SM berbanding tingkat SMP sebesar 0.92 makin sedikitnya jumlah sekolah di jenjang yang makin tinggi menunjukkan makin kurangnya jumlah sekolah yang diperlukan di daerah tersebut.

    Indikator berikutnya membicarakan tentang rasio siswa per sekolah,siswa per kelas,siswa per guru, kelas per ruang dan kelas per guru.Rasio siswa per sekolah terpadat terdapat di tingkat SM+MA dengan angka 427 dan terjarang terdapat di tingkat SD+MI dengan angka 211. Hal itu menunjukkan bahwa sekolah di daerah ini sangat heterogen. Keheterogenan sekolah juga terlihat dari adanya tipe sekolah yaitu tipe A, B, C, dan kecil. Siswa per kelas yang pada saat pembangunan sekolah seharusnya diisi dengan 40 anak, ternyata pada kenyataannya juga sangat bervariasi. Rasio siswa per kelas terpadat di tingkat SM + MA  yaitu 38 dan terjarang terdapat di tingkat SD+MI yaitu 29.

    Rasio siswa per guru juga bervariasi dengan rasio terbesar terdapat pada tingkat SD+MI yaitu 19 dan terendah terdapat pada SM+MA yaitu 14. Besarnya rasio siswa per guru ini menunjukkan kurangnya guru di tingkat tersebut. Sebaliknya, rasio terkecil menunjukkan cukupnya guru di tingkat tersebut. Ruang kelas yang paling sering digunakan adalah pada tingkat SM+MA yaitu sebesar 0,95. Melihat kondisi seperti ini dimana rasio kelas terhadap ruang kelas berada di bawah 1 untuk semua jenjang pendidikan berarti masih banyak ruang kelas yang tidak digunakan pada setiap jenjang pendidikan.

    Sejalan dengan perbandingan antara sekolah di tingkat SMP dan SD yang cukup tinggi, maka angka melanjutkan ke tingkat SMP juga cukup tinggi yaitu 110,27 Diharapkan bila jumlah tingkat SMP ditingkatkan maka angka melanjutkan juga akan meningkat. Sebaliknya, angka melanjutkan ke tingkat SM lebih kecil yaitu 70,76 dibandingkan dengan melanjutkan ke tingkat SMP. Salah satu sebab rendahnya angka melanjutkan ini karena perbandingan sekolah tingkat SM dan SMP juga rendah.

    Rendahnya jumlah sekolah di jenjang makin tinggi dapat dilihat pada tingkat pelayanan sekolah. Pada tingkat SD tingkat pelayanan sekolah lebih besar yaitu 165 jika dibandingkan dengan SMP atau SM. Hal itu disebabkan karena pada tingkat SD telah terjadi pemerataan dan wajib belajar sekolah dasar 6 tahun telah berhasil. Sebaliknya, untuk tingkat SMP dan bahkan tingkat SM, dilihat dari tingkat pelayanan sekolah belum merata yang diindikasikan pada TPS tingkat SMP sebesar  66  dan lebih besar di tingkat SM sebesar 52. Tapi untuk di Pangkalpinang untuk saat ini untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA tidak memerlukan sekolah baru lagi karena sekolah yang ada sudah mencukupi.

    Perbedaan pencapaian di tingkat SD, SMP, dan SM juga karena akibat perbedaan kepadatan penduduk usia sekolah, kepadatan terbesar terdapat di tingkat SD+MI dan terkecil terdapat di tingkat SMP+MTs. Disamping itu, banyak desa tertinggal juga mempengaruhi kinerja pendidikan dasar dan menengah.

    1. Tingkat SD (SD dan MI)

    Berdasarkan APK yang ada, ternyata porsi APK terbesar adalah SD yaitu 100,21 persen jika dibandingkan dengan MI yaitu 6,08 persen. Hal yang sama juga terjadi pada APM. Bila dilihat per jenis kelamin, ternyata masih ada perbedaan jender baik di SD maupun di MI. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa SD mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan MI. Di Pangkalpinang anak yang bersekolah di SD lebih banyak dibandingkan dengan MI sesuai dengan jumlah sekolah yang ada.

    Tabel  3.2 Indikator  Pemerataan  SD  dan  MI Tahun  2005 / 2006

    No

    INDIKATOR SD
    MI

    SD+MI

    LAINNYA
    1 APK 100,21 6,08 106,29
    –  Laki-laki 52,38 3,22 111,58
    –  Perempuan 47,84 2,89 101,04
    –  Kota 100,21 6,08 106,29
    –  Desa
    2 APM 82,38 4,73 87,10
    3 Rasio
    –  Siswa / Sekolah 214 173 211
    –  Siswa / Kelas 29 27 29
    –  Siswa / Guru 19 16 19
    –  Kelas / R. Kelas 0,89 1,08 0,90
    –  Kelas / Guru 0,65
    5 Tingkat Pelayanan Sekolah 165
    6 Kepadatan Penduduk 191 Km2
    7 Persentase Desa Tertinggal Persen

    Indikator berikutnya membicarakan tentang rasio siswa per sekolah, siswa per kelas, siswa per guru, kelas per ruang kelas dan kelas per guru. Rasio siswa per sekolah terpadat terdapat di SD dengan angka 214 Hal ini menunjukkan bahwa SD di Pangkalpinang lebih banyak diminati. Siswa per kelas yang pada saat pembangunan sekolah seharusnya diisi dengan 36 anak, ternyata pada kenyataannya juga sangat bervariasi. Rasio siswa per kelas di SD adalah 29 dan MI adalah 27 Hal ini menunjukkan telah cukupnya SD dan MI yang ada.

    Rasio siswa per guru juga bervariasi dengan rasio terbesar di SD yaitu 19 dan terkecil di MI yaitu 16 Jumlah  rasio siswa per guru ini menunjukkan bahwa guru SD dan MI telah mencukupi. Ruang kelas yang paling jarang  digunakan adalah di MI yaitu sebesar 1,08 Hal itu berarti bahwa pada MI tidak memerlukan ruang kelas tambahan. Selain itu, sesuai dengan jumlah sekolah, maka tingkat pelayanan sekolah di SD lebih jika dibandingkan dengan MI.

    Berdasarkan indikator yang terdapat pada Tabel 3.2 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk setiap jenjang pendidikan, maka  dapat dikatakan bahwa SD mempunyai kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan MI. kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tingggi pada SD. Oleh karena itu, agar kinerja SD sebanding dengan MI, maka diperlukan penanganan lebih lanjut untuk MI.

    Dengan melihat hasil indikator di atas, dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk usia sekolah dan banyaknya desa tertinggal tidak mempengaruhi pencapaian indikator pemerataan. Hal itu ditunjukkan dengan masih tingginya angka partisipasi bersekolah.

    Selanjutnya bila dilihat dari Tabel 2.8 Buku II Lampiran 2 Indikator dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara angka partisipasi dengan keadaan sekolah. Bila APK tingkat MI rendah, ternyata rasio siswa per kelas juga rendah yaitu 27 Hal itu menunjukkan bahwa minat bersekolah di tingkat MI kurang. Hal itu juga terlihat dari rendah siswa per sekolah, sedangkan TPS ternyata rendah yang berarti kesempatan belajar cukup tinggi.

    2. Tingkat SMP (SMP dan MTs)

    Berdasarkan APK yang ada, ternyata porsi APK terbesar adalah SMP yaitu 90,90 persen jika dibandingkan dengan MTs yaitu 9,25 persen. Hal yang sama juga terjadi pada APM. Bila dilihat per jenis kelamin, ternyata sudah tidak ada lagi perbedaan yang begitu mencolok baik di SMP maupun MTs. Ini berarti pendidikan menurut gender di tingkat SMP/MTs sudah mulai merata.

    Banyaknya porsi SMP pada APK dan APM disebabkan anak yang bersekolah di  SMP lebih banyak dibandingkan dengan MTs dan sesuai dengan jumlah sekolah yang ada, SMP lebih banyak jika dibandingkan dengan MTs.

    Untuk melihat kinerja SMP dan MTs, indikator berikut tentang rasio siswa per sekolah, siswa per kelas, siswa per guru, kelas per ruang kelas dan kelas per guru. Rasio siswa per sekolah terpadat terdapat di SMP dengan angka 373 Hal ini menunjukkan bahwa di Pangkalpinang SMP lebih banyak diminati. Siswa per kelas yang pada saat pembangunan sekolah seharusnya diisi dengan 36 anak, pada kenyataannya juga sangat bervariasi. Rasio siswa per kelas di SMP adalah 37 dan MTs adalah 32 Hal ini menunjukkan bahwa  SMP dan MTs di Pangkalpinang berdasarkan ketentuan siswa per kelas = 36 anak  telah mencukupi.

    Tabel  3.3 Indikator Pemerataan SLTP dan MTs Tahun  2005/2006

    No

    INDIKATOR SMP
    MTs

    SMP+MTs

    LAINNYA
    1 APK 90,90 9,25 100,14
    –  Laki-laki 45,02 4,96 100,28
    –  Perempuan 45,88 4,29 100
    –  Kota 90,90 9,25 100,14
    –  Desa
    2 APM 63,94 7,35 77,28
    3 Rasio
    –  Siswa / Sekolah 373 265 359
    –  Siswa / Kelas 37 32 37
    –  Siswa / Guru 17 10 16
    –  Kelas / R. Kelas 0,82 0,76 0,82
    –  Kelas / Guru 0,45
    4 Angka Melanjutkan 110,27
    5 Tingkat Pelayanan Sekolah 70,43 51,56 66
    6 Kepadatan Penduduk 96 Km2
    7 Persentase Desa Tertinggal Persen

    Rasio siswa per guru juga bervariasi dengan rasio terbesar di SMP yaitu 17 Besarnya rasio siswa per guru ini menunjukkan kurangnya guru di SMP jika dibandingkan dengan MTs. Ruang kelas yang paling sering digunakan adalah di SMP yaitu sebesar 0,82 Hal itu berarti bahwa pada SMP tidak memerlukan ruang kelas tambahan jika diharapkan jumlah kelas sama dengan jumlah ruang kelas sehingga tidak ada ruang kelas yang digunakan lebih dari sekali, begitu juga di MTs yang tidak memerlukan lagi ruang kelas. Selain itu, sesuai dengan jumlah sekolah, maka tingkat pelayanan sekolah di SMP juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan MTs.

    Berdasarkan indikator yang terdapat pada Tabel 3.3 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk SMP dan MTs, maka dapat dikatakan bahwa SMP mempunyai masa kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan MTs. Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya ahli yang lebih tinggi pada tingkat tersebut. Dengan demikian, untuk menghasilkan kinerja yang sama antara SMP dan MTs, perlu dilakukan penanganan lebih lanjut untuk MTs. Jika dilihat dari rasio siswa per sekolah ternyata rasio MTs rendah yaitu 265, hal ini menunjukkan bahwa MTs yang ada jumlah sekolahnya sudah mencukupi.

    Dengan melihat hasil indikator di atas, dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk usia sekolah kelihatannya memberi pengaruh terhadap pencapaian indikator pemerataan. Kondisi itu ditambah dengan rendahnya angka partisipasi bersekolah di tingkat MTs.

    3. Tingkat SM (SM dan MA)

    Berdasarkan APK yang ada, ternyata porsi APK terbesar adalah SMA yaitu 54,91 persen jika dibandingkan dengan SMK dan MA. Hal yang  sama juga terjadi pada APM. Tingginya porsi APK dan APM pada jenjang tersebut disebabkan banyaknya siswa yang bersekolah.

    Tabel  3.4 Indikator  Pemerataan  SM  dan MA Tahun  2005/2006

    No

    INDIKATOR SM
    MA

    SM+MA

    LAINNYA
    1 APK 102,20 7,90 110,44
    2 APM 71,88 6,18 78,05
    3 Rasio
    a.  Siswa / Sekolah 417 258 427
    b.  Siswa / Kelas 36 35 38
    c.  Siswa / Guru 14 9 14
    d.  Kelas / R. Kelas 1,02 1,00 0,95
    e.  Kelas / Guru 38,79 24,72 0,37
    4 Tingkat Pelayanan Sekolah 56,24 55,59 52
    5 Kepadatan Penduduk 105 Km2
    6 Persentase Desa Tertinggal Persen

    Untuk melihat kinerja SM dan MA, indikator berikut membicarakan tentang rasio siswa per sekolah, siswa per kelas, siswa per guru, kelas per ruang kelas dan kelas per guru. Rasio siswa per sekolah terpadat terdapat di SM dengan angka 417 Hal itu menunjukkan bahwa sekolah di Pangkalpinang SM lebih banyak diminati. Siswa per kelas yang pada saat pembangunan sekolah seharusnya diisi dengan 36 anak, ternyata pada kenyataannya juga sangat bervariasi. Rasio siswa per kelas terbesar adalah SM yaitu 36 dan terkecil adalah MA yaitu 35. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kelas  di Pangkalpinang jika ada ketentuan siswa per kelas harus 36 anak, telah mencukupi.

    Rasio siswa per guru juga bervariasi dengan rasio terbesar di SM yaitu 14 Besarnya rasio siswa per guru ini menunjukkan kurangnya guru di SM. Jika dibandingkan dengan di MA Ruang kelas yang paling sering digunakan adalah di SM yaitu sebesar 1,02 tetapi Hal itu bukan berarti bahwa pada SM masih memerlukan ruang kelas tambahan jika diharapkan jumlah kelas sama dengan jumlah kelas sehingga tidak ada ruang kelas yang digunakan lebih dari sekali. Selain itu, sesuai dengan jumlah sekolah, maka tingkat pelayanan sekolah di SM juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis sekolah lainnya yang setingkat.

    Berdasarkan indikator yang terdapat pada Tabel 3.4 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk setiap jenjang pendidikan, maka dapat dikatakan bahwa SM mempunyai kinerja yang lebih unggul di bandingkan dengan MA. Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tinggi pada tingkat tersebut.

    APK tingkat MA rendah yaitu 7,90 ternyata rasio siswa per kelas juga rendah yaitu 35, namun bila dilihat rasio siswa per sekolah ternyata cukup tinggi yaitu 258, sedangkan TPS ternyata tinggi yang berarti kesempatan belajar memang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa minat bersekolah di tingkat MA kurang.

    1. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan

    Indikator mutu dapat dibedakan menjadi lima indikator mutu yaitu :(1) mutu masukan, (2) mutu proses, (3) mutu SDM, (4) mutu fasilitas, dan (5) biaya. Berdasarkan mutu masukan dapat diketahui bahwa 38,27 persen siswa baru tingkat 1 untuk tingkat SD adalah berasal dari tamatan TK atau sejenis.

    Berdasarkan indikator mutu proses yaitu angka mengulang, angka putus sekolah, dan angka lulusan, ternyata angka mengulang terbesar pada tingkat SD+MI yaitu sebesar 6,33 persen dan terendah terdapat pada tingkat SM+MA yaitu sebesar 0,46 persen. Selanjutnya angka putus sekolah terbesar terdapat pada tingkat SMP+MTs yaitu sebesar 2,52 persen dan terendah terdapat pada tingkat SD+MI yaitu sebesar 0,13 persen. Bila dilihat angka lulusan ternyata angka tertinggi pada tingkat SD+MI yaitu sebesar 97,58 persen dan terendah terdapat pada tingkat SMP+MTs yaitu  sebesar 85,99 persen. Dengan melihat ketiga indikator mutu proses ini dapat dikatakan bahwa kinerja terbaik adalah pada tingkat SM+MA,bila dilihat dari faktor angka mengulang dan putus sekolah yang rendah. Sedangkan bila dilihat dari faktor angka lulusan kinerja yang paling baik adalah SD+MI.

    Bila dilihat dari mutu SDM (guru), maka persentase guru yang layak mengajar terbesar adalah pada tingkat SMP+MTs yaitu 73,58 persen dan guru yang layak mengajar terendah adalah pada tingkat SM+MA. Mutu guru juga menunjukkan kinerja sekolah, hal itu terlihat pada kesesuaian ijazah guru-guru dengan bidang studi yang diajarkan. Khusus SMP, banyak guru yang sesuai terlihat pada bidang studi Seni dan Kerajinan yaitu sebesar 383,33 persen dan yang paling tidak sesuai adalah bidang studi Muatan Lokal yaitu sebesar 59,70 persen sedangkan SMA, banyaklah guru yang sesuai terlihat pada bidang studi Antropologi yaitu sebesar 300 persen dan yang paling tidak sesuai terlihat pada bidang studi Lain-lain yaitu sebesar 15,69 persen.

    Tabel  3.5 Indikator  Mutu  Pendidikan Tahun  2005/2006

    No. INDIKATOR SD + MI SMP+MTs SM + MA
    1 Persentase Lulusan TK/RA/BA 11,84
    2 Angka Mengulang 6,33 0,17 0,46
    3 Angka Putus Sekolah 0,13 2,52 1,70
    4 Angka lulusan 97,58 85,99 73,62
    5 Angka Kelayakan Mengajar
    a.  Layak 69,73 73,58 63,32
    b.  Semi layak 27,56 9,81 25,84
    c.  Tidak  layak 2,71 16,60 11,59
    6 Persentase Kesesuaian Guru Mengajar
    a.  PPKn 110 118,18
    b.  Pend. Agama 71,15 83,87
    c.  Bhs. Indonesia 95,16 93,33
    d.  Bhs. Inggris 120 100
    e.  Sejarah & Sejarah Budaya 100
    f.   Pend. Jasmani 170,59 177,78
    g.  Matematika 110,20 136,67
    h.  IPA 100
    h.1. Fisika 116,67
    h.2. Biologi 113,64
    h.3. Kimia 111,76
    i.  IPS 103,51
    i. 1  Ekonomi 107,14
    i.2.  Sosiologi 116,67
    i.3.  Geografi 220
    j.   Seni & Kerajinan 383,33
    k.  Muatan Lokal 59,70
    l.  Tata Negara
    m. Antropologi 300
    n.  Pendidikan Seni 200
    o.  Bahasa Asing 111,11
    p.  B dan P 100 100
    q.  Lain-lain 15,69
    7 Persentase Kondisi Ruang Kelas
    a.  Baik 74,24 85,47 91,96
    b.  Rusak Ringan 18,67 1,73
    c.  Rusak  Berat 7,09
    8 Persentase Fasilitas Sekolah
    a.  Perpustakaan 36,05 100 80,77
    b.  Lapangan OR 31,40 87,5 73,08
    c.  UKS 58,33 76,92
    d.  Laboratorium 83,33 84,62
    e.  Keterampilan 15,38
    f.   Bimbingan Penyuluhan 38,46
    g.  Serba Guna 7,69
    h.  Bengkel 9,09
    i.  Ruang Praktik 36,36
    Angka Partisipasi (Persen)
    a.  Pemerintah Pusat 10,45 6,83 4,34
    b.  Orang Tua 13,37 26,47 39,14
    c.  Pemerintah Daerah 73,67 59,32 46,65
    10 Satuan Biaya (000  Rp.) 1.130,56 1.454,92 1.696,70

    Indikator berikutnya adalah tentang mutu prasarana dan sarana pendidikan. Ruang kelas dengan kondisi baik paling banyak terdapat pada tingkat SM+MA yaitu sebesar 91,96 persen sedangkan kondisi rusak berat yang paling banyak terdapat pada tingkat SD+MI yaitu sebesar 7,09 persen. Banyaknya ruang kelas yang rusak berat ini menunjukkan mutu prasarana yang buruk dan berakibat secara tidak langsung akan menurunkan mutu sekolah.

    Indikator mutu prasarana lainnya adalah ketersediaan fasilitas sekolah yang ada. jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan terbesar ada pada tingkat SMP+MTs yaitu sebesar 100 persen dan terendah ada pada tingkat SD+MI sebesar 36,05 persen. Jumlah lapangan olahraga terbesar pada tingkat SMP+MTS yaitu sebesar 87,5 persen dan terendah ada pada tingkat SD+MI sebesar 31,40 persen. Fasilitas sekolah lainnya yaitu ruang UKS terbesar terdapat pada tingkat SM+MA yaitu sebesar 76,92 persen. Dengan demikian, bila setiap sekolah diharuskan memiliki ketiga fasilitas tersebut, maka tingkat SM+MA memiliki angka terbesar yaitu  76,93 persen.

    Indikator mutu yang ditunjukkan dari biaya dilihat dari angka partisipasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan orang tua siswa. Dari ketiga angka partisipasi dalam hal biaya tersebut, angka partisipasi dalam hal biaya tersebut, angka partisipasi terbesar adalah pada Pemerintah Kota dengan persentase terbesar pada tingkat SD+MI Partisipasi pemerintah pusat lebih banyak terdapat di tingkat SD+MI        dan partisipasi orang tua siswa lebih banyak terdapat di tingkat SM+MA Berdasarkan tabel diatas, ternyata partisipasi pemerintah kota paling tinggi jika dibandingkan dengan partisipasi lainnya.

    Berdasarkan indikator mutu yang terdapat pada Tabel 3.5 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk setiap jenjang pendidikan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat SM+MA mempunyai kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan tingkat SD+MI  dan tingkat SMP+MTs. Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tinggi dalam hal mutu pada tingkat tersebut

    1. Tingkat  SD  (SD dan MI)

    Berdasarkan  mutu masukan dapat diketahui bahwa 69,33 persen siswa baru tingkat I SD yang berasal dari tamatan TK atau sejenis lebih besar jika dibandingkan dengan MI. Berdasarkan  indikator mutu proses  yaitu angka mengulang, angka putus sekolah,  dan angka lulusan ternyata angka mengulang sekolah terbesar terdapat pada MI yaitu sebesar 6,76 persen,angka putus sekolah terbesar terdapat pada MI yaitu sebesar 0,31 persen dan ternyata angka kelulusan tertinggi terdapat pada SD yaitu sebesar 97,59 persen. Dengan melihat ketiga indikator mutu proses ini dapat dikatakan bahwa kinerja terbaik adalah pada SD. Hal itu ditunjukkan dengan adanya angka mengulang dan putus sekolah paling rendah dan  angka lulusan paling tinggi, hal ini dikarenakan jumlah murid MI jauh lebih kecil dibandingkan SD.

    Bila dilihat dari mutu SDM (guru), maka persentase guru yang layak mengajar di MI lebih besar daripada SD. Mutu guru juga menunjukkan kinerja sekolah. Indikator berikutnya adalah tentang mutu prasarana dan sarana pendidikan. Ruang kelas dengan kondisi baik lebih banyak terdapat pada MI yaitu sebesar 77,78 persen sedangkan kondisi rusak berat yang paling banyak terdapat pada SD yaitu sebesar 16,67 persen. Banyaknya ruang kelas yang rusak berat ini menunjukkan mutu prasarana yang buruk dan berakibat secara tidak langsung akan menurunkan mutu sekolah.

    Indikator mutu prasarana lainnya adalah ketersediaan fasilitas sekolah yang ada. jumlah SD memiliki perpustakaan lebih besar. Jumlah lapangan olahraga lebih besar pada MI dan ruang UKS tidak ada data. Dengan demikian, bila setiap sekolah diharuskan memiliki ketiga fasilitas tersebut, maka SD memiliki angka terbesar yaitu 33,75 persen.

    Indikator mutu yang ditunjukkan dari biaya dilihat dari angka partisipasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan orang tua siswa. Dari ketiga angka partisipasi dalam hal biaya tersebut, angka partisipasi terbesar pada pemerintah daerah Dengan persentase terbesar pada tingkat SD. Partisipasi pemerintah pusat lebih banyak terdapat di MI, dan partisipasi orang tua siswa lebih besar di SD. Berdasarkan Tabel 3.6 ternyata partisipasi pemerintah kota paling tinggi jika dibandingkan dengan partisipasi lainnya.

    Berdasarkan indikator mutu yang terdapat pada Tabel 3.6 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk SD dan MI, maka dapat dikatakan bahwa tingkat SD mempunyai kinerja mutu yang lebih unggul dibandingkan dengan MI. Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tinggi dalam hal mutu pada tingkat tersebut.

    Tabel  3.6 Indikator Mutu Pendidikan Tingkat SD Tahun  2005/2006

    No. INDIKATOR SD MI
    1 Persentase Lulusan TK/RA/BA 69,37 55,61
    2 Angka Mengulang 6,31 6,76
    3 Angka Putus Sekolah 0,12 0,31
    4 Angka lulusan 97,59 97,39
    5 Angka Kelayakan Mengajar
    a.  Layak 69,32 75,38
    b.  Semi layak 28,56 23,08
    c.  Tidak  layak 2,13 10,77
    6 Persentase Kondisi Ruang Kelas
    a.  Baik 74,05 77,78
    b.  Rusak Ringan 19,39 5,56
    c.  Rusak  Berat 6,56 16,67
    7 Persentase Fasilitas Sekolah
    a.  Perpustakaan 36,25 33,33
    b.  Lapangan OR 31,25 33,33
    c.  UKS
    d.  Laboratorium
    8 Angka Partisipasi (Persen)
    a.  Pemerintah Pusat 9,86 41,98
    b.  Orang Tua 13,50 6,21
    c.  Pemerintah Daerah 74,09 51,35
    9 Satuan Biaya (000  Rp.) 1.177,04 364,3
    1. Tingkat SLTP (SLTP dan MTs)

    Berdasarkan mutu masukan yang terdapat pada Tabel 3.7 dapat diketahui bahwa rasio NEM lulusan dibandingkan dengan NEM siswa diketahui bahwa rasio NEM siswa baru, ternyata SMP lebih besar daripada MTs berdasarkan indikator mutu proses yaitu angka mengulang, angka putus sekolah, dan angka lulusan, ternyata angka mengulang terbesar terdapat pada MTs yaitu sebesar 0,77 persen, angka putus sekolah terbesar terdapat pada MTs yaitu sebesar 2,81 persen, angka lulusan terbesar terdapat pada MTs yaitu sebesar 91,88 persen. Dengan melihat ketiga indikator mutu proses ini dapat dikatakan bahwa kinerja terbaik adalah pada SMP.Hal ini ditunjukkan dengan adanya angka mengulang dan putus sekolah paling rendah serta angka lulusan yang tinggi.

    Bila dilihat dari mutu SDM (guru), maka persentase guru yang layak mengajar di SMP lebih besar daripada di MTs. Mutu guru juga menunjukkan kinerja sekolah. Indikator berikutnya adalah tentang  mutu prasarana dan sarana pendidikan. Ruang kelas dengan kondisi baik lebih banyak terdapat pada SMP yaitu sebesar 85,94 persen. Sedangkan kondisi rusak berat yang paling banyak terdapat pada SMP yaitu sebesar 1,95 persen. Banyaknya ruang kelas yang rusak berat ini menunjukkan mutu prasarana yang buruk dan berakibat secara tidak langsung akan menurunkan mutu sekolah.

    Tabel  3.7 Indikator Mutu Pendidikan Tingkat SMP Tahun  2005/2006

    No. INDIKATOR SMP MTs
    1 Rasio NEM Lulusan/Siswa Baru 4,80/27,09 5,33/-
    2 Angka Mengulang 0,77 0,13
    3 Angka Putus Sekolah 2,49 2,81
    4 Angka lulusan 85,47 91,88
    5 Angka Kelayakan Mengajar
    a.  Layak 73,29 65,82
    b.  Semi layak 10,27 11,39
    c.  Tidak  layak 16,44 22,78
    6 Persentase Kesesuaian Guru Mengajar
    a.  PPKn 110
    b.  Pend. Agama 71,15
    c.  Bhs. Indonesia 95,16
    d.  Bhs. Inggris 120
    e.  Sejarah & Sejarah Budaya
    f.   Pend. Jasmani 170,59
    g.  Matematika 110,20
    h.  IPA 100
    i.  IPS 103,51
    j.   Seni & Kerajinan 383,33
    k.  Muatan Lokal 59,70
    l.  B dan P 100
    m.  Lain-lain
    7 Persentase Kondisi Ruang Kelas
    a.  Baik 85,94
    b.  Rusak Ringan 12,11 81,82
    c.  Rusak  Berat 1,95 18,18
    8 Persentase Fasilitas Sekolah
    a.  Perpustakaan 100 100
    b.  Lapangan OR 85,71 100
    c.  UKS 57,41 66,67
    d.  Laboratorium 85,71 66,67
    9 Angka Partisipasi (Persen)
    a.  Pemerintah Pusat 2,62 71,40
    b.  Orang Tua 26,43 27,15
    c.  Pemerintah Daerah 63,16 0,65
    Satuan Biaya (000  Rp.) 1.504,37 968,85

    Indikator mutu prasarana lainnya adalah ketersediaan fasilitas sekolah yang ada. Jumlah perpustakaan di SMP dan MTs sudah merata. Ini berarti setiap sekolah di SMP dan MTs sudah memiliki perpustakaan Lapangan olahraga lebih besar untuk SMP dari MTs, ruang UKS lebih besar pada MTs, dan ruang laboratorium lebih besar pada SMP. Dengan demikian, bila setiap sekolah diharuskan memiliki keempat fasilitas tersebut, maka MTs memiliki angka terbesar yaitu 83,84 persen (Tabel 3.7).

    Indikator mutu yang ditunjukkan dari biaya dilihat dari angka partisipasi pemerintah pusat, pemerintah kota, dan orang tua siswa. Dari ketiga angka partisipasi dalam hal biaya tersebut, angka partisipasi terbesar adalah pada pemerintah kota dengan persentase terbesar pada tingkat SMP Partisipasi pemerintah pusat lebih banyak terdapat di MTs,demikian juga partisipasi orang tua siswa. Berdasarkan Tabel 3.7 di atas, ternyata partisipasi pemerintah pusat  paling rendah jika dibandingkan dengan partisipasi lainnya.

    Berdasarkan indikator mutu yang terdapat pada Tabel 3.7 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk SMP dan MTs, maka dapat dikatakan bahwa SMP mempunyai kinerja mutu yang lebih unggul dibandingkan dengan MTs. Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tinggi dalam hal mutu pada tingkat tersebut. Dengan demikian, kinerja mutu yang lebih buruk ini yang harus ditangani lebih lanjut.

    2. Tingkat SM (SMA, SMK dan MA)

    Berdasarkan mutu masukan yang terdapat pada Tabel 3.8 dapat diketahui bahwa rasio NEM lulusan dibandingkan dengan NEM siswa baru, ternyata SMA terbesar jika dibandingkan  dengan kedua jenis sekolah lainnya yang sejenis. Berdasarkan indikator mutu proses yaitu angka mengulang, angka putus sekolah, dan angka lulusan, ternyata angka mengulang terbesar terdapat pada SMA yaitu sebesar 0,64 persen, dan angka lulusan tertinggi terdapat pada MA yaitu sebesar 98,08 persen. Dengan melihat ketiga indikator mutu proses ini dapat dikatakan bahwa mutu masukan terbaik adalah pada MA Hal itu ditunjukkan dengan adanya angka mengulang dan putus sekolah paling rendah serta angka lulusan yang paling tinggi.

    Bila dilihat dari mutu SDM (guru), maka persentase guru yang layak mengajar di SMA terbesar jika dibandingkan dengan kedua jenis sekolah lainnya yang setingkat. Mutu guru juga menunjukkan kinerja sekolah. Indikator berikutnya adalah tentang mutu prasarana dan sarana pendidikan. Ruang kelas dengan kondisi baik terbesar terdapat pada MA yaitu sebesar 100 persen sedangkan kondisi rusak berat untuk tingkat SM+MA ini sudah tidak ada. Sehingga mutu pendidikan bila dilihat dari segi prasarana sudah baik.

    Indikator mutu prasarana lainnya adalah ketersediaan fasilitas sekolah yang ada. MA memiliki jumlah perpustakaan terbesar jika dibandingkan dengan jenis sekolah lainnya yang setingkat. Jumlah lapangan olahraga terbesar pada MA, ruang UKS terbesar pada SMK ruang laboratorium terbesar pada MA, ruang keterampilan terbesar di MA, ruang BP terbesar pada SMK, dan ruang Serba Guna terbesar pada MA. Dengan demikian, bila setiap sekolah diharuskan memiliki ketujuh fasilitas tersebut, maka MA memiliki angka terbesar yaitu 61,91 persen. Dengan melihat indikator mutu sarana prasarana dapat dikatakan bahwa MA mempunyai mutu prasarana terbaik.

    Indikator mutu yang ditunjukkan dari biaya dilihat dari angka partisipasi pemerintah pusat, pemerintah kota, dan orang tua siswa. Dari ketiga angka partisipasi dalam hal biaya tersebut, angka partisipasi terbesar adalah pada pemerintah kota dengan persentase terbesar pada SMK jika dibandingkan dengan jenis sekolah lainnya. Partisipasi pemerintah pusat terbanyak terdapat di MA, demikian juga partispasi orang tua siswa. Berdasarkan Tabel 3.8 di atas, ternyata partisipasi Pemerintah pusat paling rendah jika dibandingkan dengan partisipasi lainnya.

    Tabel  3.8 Indikator Mutu Pendidikan Tingkat SM Tahun  2005/2006

    No. INDIKATOR SMA SMK MA
    1 Rasio NEM Lulusan/Siswa Baru 6,53/17,82 5,96/23,77 4,89/15,70
    2 Angka Mengulang 0,64 0,32 0,12
    3 Angka Putus Sekolah 2,81 2,37 0,24
    4 Angka lulusan 91,88 62,04 98,08
    5 Angka Kelayakan Mengajar
    a.  Layak 65,54 60,38 64,04
    b.  Semi layak 26,15 31,15 20,22
    c.  Tidak  layak 8,31 8,47 17,98
    6 % Kesesuaian Guru Mengajar
    a.  PPKn 4,00
    b.  Pend. Agama 8,00
    c.  Bhs. Indonesia 8,62
    d.  Bhs. Inggris 9,23
    e.  Sejarah & Sejarah Budaya 4,31
    f.   Pend. Jasmani 4,92
    g.  Matematika 12,62
    h.  IPA
    h.1. Fisika 6,46
    h.2. Biologi 7,69
    h.3. Kimia 5,85
    i.  IPS
    i. 1  Ekonomi 9,23
    i.2.  Sosiologi 2,15
    i.3.  Geografi 3,38
    j.   Seni & Kerajinan
    k.  Muatan Lokal
    l.  Tata Negara 1,85
    m. Antropologi 0,92
    n.  Pendidikan Seni 4,26
    o.  Bahasa Asing 3,08
    p.  B dan P 2,77
    q.  Lain-lain 2,46
    7 % Kondisi Ruang Kelas
    a.  Baik 89,05 93,70 100
    b.  Rusak Ringan 10,95 6,30
    c.  Rusak  Berat
    8 % Fasilitas Sekolah
    a.  Perpustakaan 75,00 82 100
    b.  Lapangan OR 75,00 64 100
    c.  UKS 75,00 82 66,67
    d.  Laboratorium 75,00 91 100
    9 Angka Partisipasi (Persen)
    a.  Pemerintah Pusat 2,59 5,77 9,54
    b.  Orang Tua 42,22 33,99 86,59
    c.  Pemerintah Kota 43,67 51,62 1,11
    Satuan Biaya (000  Rp.) 1.580,18 2.026,59 580,59

    Berdasarkan indikator mutu yang terdapat pada Tabel 3.8 dan dengan melihat pencapaian setiap indikator untuk SMA, SMK, dan MA, maka dapat dikatakan bahwa MA mempunyai kinerja mutu yang lebih unggul dibandingkan dengan SMK dan SMA Kinerja yang lebih unggul ini diambil dari banyaknya nilai yang lebih tinggi dalam hal mutu pada tingkat tersebut. Dengan demikian, kinerja mutu yang lebih buruk ini yang harus ditangani lebih lanjut.

    IV. PENUTUP

    Berdasarkan kesimpulan tentang pendidikan dasar dan menengah, maka dapat disusun saran atau rekomendasi dalam rangka meningkatkan kinerja pendidikan dasar dan menengah di kabupaten/kota atau propinsi.

    A. Kesimpulan

    Berdasarkan data yang terdapat dalam profil pendidikan dan kajian terhadap hasil indikator pendidikan seperti pemerataan, peningkatan mutu, relevansi dan efisiensi internal pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa :

    1.     Dipandang dari segi pemerintah.

    Pemerataan yang dimaksud diukur dengan beberapa indikator yaitu APK, APM, perbandingan antar jenjang, rasio pendidikan, angka melanjutkan, tingkat pelayanan sekolah. Berdasarkan APK, maka angka yang tertinggi adalah pada jenjang SM+MA dilanjutkan dengan jenjang SD+MI dan jenjang SMP+MTs pemerataan yang paling rendah. Rendahnya pemerataan ini adalah akibat sedikitnya siswa di luar usia sekolah untuk berada pada jenjang tersebut.

    Bila pemerataan dilihat menurut gender, maka perbedaan yang begitu mencolok terdapat pada tingkat SD+MI sedangkan di tingkat SMP+MTs dan SM+MA perbedaan itu tidak begitu mencolok, berarti untuk tingkat SMP+MTs dan SM+MA sudah terjadi pemerataan.

    Sesuai dengan besarnya APK, maka besarnya APM juga mengikuti yaitu makin tinggi jenjang pendidikan makin tinggi juga nilai APM nya. Dan untuk nilai APM yg paling rendah terdapat di jenjang SMP + MTs dengan nilai 77,28 . Bila dilihat perbandingan antarjenjang, maka masih terjadi ketimpangan antara sekolah tingkat SD dengan tingkat SMP apalagi untuk tingkat SM.

    Indikator tentang angka melanjutkan menunjukkan angka yang lebih besar pada jenjang SMP+MTs. Tingkat pelayanan sekolah yang paling tinggi terdapat di jenjang sekolah SD+MI.

    2.     Dipandang dari segi peningkatan mutu

    Peningkatan mutu dimaksud diukur dengan berbagai indikatro yaitu persentase lulusan TK/RA/BA, angka mengulang, angka putus sekolah, angka lulusan, angka kelayakan guru mengajar, persentase kondisi ruang kelas, persentase fasilitas sekolah, agka partisipasi dari biaya dan satuan biaya sekolah. Khusus untuk SMP dan SMA ditambah dengan indikator kesesuain guru mengajar menurut bidang studi.

    Siswa baru SD dan MI yang berasal dari TK/RA/BA adalah sebesar 11,84 angka mengulang yang terbesar terdapat pada tingkat SD+MI yaitu 6,33 sedangkan angka putus sekolah yang terbesar terdapat pada tingkat SMP+MTs yaitu 2,52 dan angka lulusan yang terendah terdapat pada tingkat SM+MA. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tingkat SM+MA perlu ditangani lebih lanjut karena memiliki nilai negatif yang berarti mutunya kurang dibandingkan dengan jenjang lainnya.

    Indikator kelayakan mengajar guru, ternyata ditingkat SMP+MTs guru yang layak mengajar paling besar yaitu 73,58 dan yang paling rendah pada tingkat SM+MA yaitu 63,32. Kondisi ruang kelas terbaik terbaik terdapat pada tingkat SM+MA dan sebaiknya yang kondisinya rusak berat terbanyak terdapat pada tingkat SD+MI. Dari fasilitas sekolah yang ada, masih ada sekolah yang belum memiliki perpustakaan yaitu 55 sekolah ditingkat SD+MI, 3 sekolah ditingkat SM+MA sedangkan untuk tingkat SMP+MTs sudah memiliki perpustakaan semua. Untuk lapangan olahraga baru 30 SD+MI yang baru memilikinya,21 sekolah untuk SMP+MTs dan 19 sekolah untuk tingkat SM+MA. Sedangkan ruang UKS untuk tingkat SD+MI belum memiliki ruang khusus sendiri. Selama ini mereka masih mempergunakan ruang guru atau ruang kepala sekolah yang dijadikan ruang UKS, untuk tingkat SMP+MTs sekolah yang memiliki ruang UKS baru 10 sekolah sedangkan ditingkat SM+MA baru 4 sekolah

    Laboratorium yang harus dimiliki oleh semua SMA dan MA, pada kenyataanya masih ada sekolah yang belum memiliki yaitu 3 sekolah. Hal yang sama terjadi pada ruang keterampilan yaitu 0 pada jenjang SD dan 20 sekolah di tingkat SM + MA dan 6 sekolah pada jenjang SMP + MTs, bimbingan penyuluhan hanya sebesar 4 pada tingkat SMA dan 6 pada tingkat SMK, ruang serba guna yang dimiliki hanya sebesar 2 pada tingkat SM + MA, bengkel yang harus dimiliki semua SMK ternyata hanya satu yang ada pada tingkat SMK dan ruang praktik sebesar 4 pada tingkat SMK.

    Pada kenyataannya, angka partisipasi dari segi biaya lebih banyak dari pemerintah daerah pada tingkat SD + MI yaitu 73,67 % jika dibandingkan dengan orang tua atau pemerintah pusat. Pada tingkat SM + MA yang terbesar adalah pemerintah daerah, sedangkan pada tingkat SMP + MTs yang terbesar juga pada pemerintah daerah.

    B. Skala Prioritas

    Berdasarkan kesimpulan diatas, maka beberapa skala prioritas yang diusulkan adalah sebagai berikut :

    1. Perbedaan jender masih terasa pada tingkat SD + MI, hal ini terlihat dari rendahnya APK perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki, untuk itu diperlukan penanganan khusus sehingga siswa perempuan yang bersekolah di tingkat SD + MI dapat ditingkatkan, misalnya  dengan memberikan beasiswa, dan penanganan khusus lainnya.
    2. Perbandingan antar jenjang pendidikan terlihat sangat mencolok, terlebih antara tingkat SD dengan SM, untuk itu perlu dipikirkan apakah sekolah tingkat SD dapat ditingkatkan menjadi SMP atau menambah SMP dan SM.
    3. Angka melanjutkan masih rendah, lebih-lebih pada tingkat SM, untuk itu perlu penanganan khusus misalnya dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya bersekolah.
    4. Perlu didirikan Taman Kanak-Kanak yang lebih banyak sehingga akan meningkatkan mutu tingkat SD.
    5. Angka mengulang di tingkat SD dan angka putus sekolah ditingkat SMP + MTs perlu diturunkan yaitu dengan cara kebijakan pemerintah dengan memberikan beasiswa, bimbingan dan penyuluhan kepada setiap siswa oleh sekolah yang  bersangkutan.
    6. Perlu ditingkatkan kemampuan guru dalam mengajar sehingga diharapkan setiap tingkat memiliki guru yang layak mengajar, untuk itu dipikirkan penyesuaian ijazah yang dapat meningkatkan mutu guru tetapi tidak perlu mengganggu jadwal mengajarnya.
    7. Perlu dilakukan rehabilitasi bagi ruang kelas yang rusak berat terutama pada tingkat SD.
    8. Oleh karena perpustakaan merupakan suatu keharusan yang dimiliki oleh sekolah, maka perlu dibangun perpustakaan tingkat SD, tingkat SMP dan tingkat SM.

    REFERENSI

    1. Pangkalpinang dalam Angka tahun 2006
    2. Profil Pendidikan Kota Pangkalpinang tahun 2005/2006

    TUGAS MATA KULIAH :

    PERENCANAAN DAN MANAJEMEN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN

    DOSEN : Prof. Dr.H. Mungin Edi Wibowo,MPd.,Kons.

    DISUSUN OLEH:

    INDRA JAYA

    PROGRAM PASCA SARJANA

    MAGISTER TEKNIK PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA

    UNIVERSITAS DIPONEGORO

    TAHUN 2007

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: